Harga Saham Garuda Maintenance Facility AeroAsia Semenjak IPO Terus Melorot

NUSANTARANEWS.CO – Setelah resmi tercatat sebagai emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), GMF telah melepas 2.823.351.100 lembar saham atau sebesar 10% dari total modal yang disetor dengan harga penawaran umum perdananya sebesar Rp 400. Dengan kisaran harga tersebut, GMF berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp 1,12 triliun.

Dana segar hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan sebagai kebutuhan ekspansi GMF antara lain: pembangungan fasilitas tiga hanggar di Batam, Surabaya, Biak, Australia, Asia Timur, dan Timur Tengah, termasuk peningkatan kapabilitas perusahaan dalam bidang airframe, component, dan engine untuk pesawat – terutama untuk take over kerjaan-kerjaan yang lari keluar.

Seperti diketahui, setelah mendapatkan dana segar dari penawaran saham perdana (IPO), GMF masih membutuhkan dana segar tambahan lain dari pasar modal.

Direktur Utama Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Iwan Joeniarto, pada hari Rabu (13/12) mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan roadshow guna penawaran saham GMF kepada perusahaan asing calon investor strategis.

Rencananya GMF akan melepas 10% saham baru. Bersamaan dengan itu, GMF juga akan mendivestasikan saham sang induk, GIAA, sebesar 10%-15%. “Jadi total saham yang dilepas minimal 20%,” katanya. Dari 10% saham baru yang akan dilepas, GMF menargetkan bisa meraih dana segar tambahan sekitar US$ 80 juta sampai US$ 90 juta.

Joeniarto juga mengatakan bahwa saat ini GMF sedang melakukan penjajakan dengan tiga perusahaan maintenance, repair & overhaul (MRO) yang berbasis di Eropa dan Asia. Di mana nantinya, hanya satu perusahaan yang akan digandeng menjadi mitra. Dengan kehadiran investor strategis ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing GMF di pasar regional maupun pasar global.

Baca Juga:  Ekonom Konstitusi Sebut Ada Keganjilan Logika dalam Divestasi Saham Freeport

Saat ini GMF telah menandatangani nota kesepahaman kerjasama dengan GIAA dalam hal perawatan pesawat untuk periode 10 tahun mendatang. Demikian pula dengan Citilink dan Sriwijaya, GMF juga punya perjanjian jangka Panjang.

Tahun 2018 mendatang, GMF juga tengah bersiap mendapatkan kontrak baru dari Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM).

Menurut Joeniarto, tahun depan pendapatan GMF bisa mencapai US$ 520 juta, tumbuh sekitar 15%-20% dari tahun ini. Sekitar 70%–75% pendapatan ini berasal dari pelanggan lama, dan sisanya merupakan porsi pelanggan baru.

Saat ini GMF juga memiliki captive market berupa perjanjian jangka panjang dengan Citilink dan Sriwijaya. “Margin laba bersih akan dijaga dobel digit di 11%-12%. Ini berada di atas rata-rata industri MRO,” tambah Joeniarto.

Hingga kuartal ketiga 2017, GMF telah membukukan pendapatan sebesar US$ 310,5 juta dengan laba bersih mencapai US$ 38,1 juta – terutama dari peningkatan volume pekerjaan perawatan mesin dan perawatan komponen pesawat yang memang merupakan fokus pengembangan bisnis GMF.

Namun sayangnya, sebagaimana dimuat dalam situs web investasi.kontan.co.id: semenjak IPO harga saham GMF cenderung turun. Pada perdagangan kemarin, harga GMF berada pada level Rp 310 per saham, turun 2,52% dari hari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, saham GMF telah merosot 19,69%. (Agus Setiawan)