Connect with us

Ekonomi

Harga Minyak Mentah Dunia Gagal Naik Pasca Suriah Dibombardir, Dua Negara Ini Gigit Jari

Published

on

Berharap Harga Minyak Mentah Dunia Naik Usai Bombardir Suriah, Pemerintah Indonesia Dikritik

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Daripada mengharapkan harga minyak mentah dunia naik pasca serangan AS dan sekutu ke Suriah, Indonesia dinilai lebih baik menyelamatkan kontrak migas yang dikuasai asing dan sudah habis masa kontraknya yang mencapai 80 persen produksi nasional saat ini. Termasuk di dalamnya blok migas terbesar yakni Blok Rokan Riau yang akan habis tahun 2021 mendatang.

“Ini adalah the last oil, jangan kebanyakan ngelindur, wara wiri nggak jelas, tidak ada juntrungannya. Mendingan Pemerintah selamatkan kontrak migas yang dikuasai asing dan sudah habis masa kontraknya, yang mencapai 80% produksi nasional saat ini, termasuk didalamnya blok migas terbesar yakni Blok Rokan Riau yang akan habis pada tahun 2021. Selamatkan minyak kekayaan terakhir untuk bangsa sendiri saja,” saran pengamat ekonomi Salamuddin Daeng, Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai Serangan di Suriah, Harapan Arab Saudi dan Indonesia Pupus?

Indonesia dan Arab Saudi disebut-sebut berharap harga minyak mentah dunia naik pasca AS, Inggris dan Perancis membombardir Suriah pada 14 April lalu. Sebab, perang selama ini memang selalu menjadi landasan bagi kenaikan harga minyak mentah. Konspirasi semacam ini memang terdengar keji, namun itulah kenyataan bahwa sistem ekonomi dianut dan rezim minyak selama ini adalah serangan terhadap kemanusiaan.

Indonesia membutuhkan kenaikan harga minyak mentah global untuk menambah kantong APBN yang berada pada situasi sangat buruk akibat tekanan utang besar. Menteri Keuangan pernah menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 dolar harga minyak dunia, penerimaan APBN naik Rp 1,1 triliun netto.

Baca juga: Pangeran Mohammed dan Reformasi Politik & Ekonomi Arab Saudi

“Harapan Menteri Keuangan Indonesia ini cukup membahayakan bagi nasib hampir separuh rakyat Indonesia yang menginginkan agar harga minyak mentah turun agar biaya produksi BBM dalam negeri menjadi rendah dan harga BBM pun bisa diperoleh rakyat dengan harga yang lebih murah,” katanya.

Baca Juga:  Bawaslu Dinilai Tak Serius Kawal Tahapan Logistik Surat Suara

Sementara itu Arab Saudi membutuhkan kenaikan harga minyak mentah dalam rangka mencapai keseimbangan dalam anggaran belanja negara yang tengah sekarat dan sekaligus sebagai landasan valuasi Saudi Aramco dalam melakukan IPO dan landasan bagi pemerintah Saudi untuk mencetak utang besar di tahun ini.

Baca juga: Berebut Pipa Gas di Suriah

Naiknya Mohammed bin Salman (MBS) sebagai putra mahkota Saudi adalah sebuah langkah kuda Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud untuk mewujudkan program Vision 2030, sebuah blue print ambisius yang diluncurkan pada tahun 2016 guna mendiversifikasi dan memodernisasi ekonomi Arab Saudi agar tidak bergantung pada minyak.

Dengan Vision 2030, Pangeran Mohammed berusaha meng-uang-kan di muka cadangan minyak Arab Saudi sebanyak-banyaknya, sehingga nanti hasilnya akan dialokasikan untuk mengembangkan sektor non-minyak dan menginvestasikan aset luar negeri guna mengimbangi kerugian yang tak terelakkan dalam pendapatan minyak. Salah satu langkah yang akan diambil Pangeran Mohammed adalah dengan memprivatisasi sebagian Saudi Aramco melalui penawaran umum perdana pada 2018.

Baca juga: Perang Tak Kunjung Berhenti, Suriah Segera ‘Dibalkanisasi’ Oleh Negara Adidaya

“Namun harapan kaum pemburu uang tampaknya hanya mimpi siang bolong, karena serangan ke Suriah ternyata tidak memicu kenaikan harga minyak. Dalam pengalaman sebelumnya, rencana serangan saja sudah sanggup membuat harga minyak melompat. Sekarang serangan telah terjadi berkali kali harga minyak malah turun,” ucap Salamuddin. (red)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler