Harga Kedelai Ikuti Naiknya Nilai Dollar, DPRD Jatim Desak Pemerintah Buat Kebijakan Pro Rakyat

harga kedelai, pasar rakyat jatim, harga tahu, harga tempe, ekonomi jatim, nilai tukar rupiah, kurs rupiah, nilai tukar dolar, kur dolar, mohammad alimin, dprd jatim, dampak kurs rupiah, nusantaranews, nusantara news, nusantara
Anggota Komisi B DPRD Jatim Mohammad Alimin. (Foto: NUSANTARANEWS.CO/Setya N)

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Harga kedelai mengikuti naiknya nilai dolar. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akhir-akhir ini mulai berdampak naiknya harga tahu tempe di berbagai pasar rakyat di Jawa Timur. Harga tidak berubah, tetapi tahu tempe menjadi lebih kecil dan pendek. Hal ini mengundang keprihatinan anggota Komisi B DPRD Jatim Mohammad Alimin.

Menurut Mohammad Alimin, pihaknya berharap pemerintah segera membuat kebijakan yang menolong petani kedelai. “Jangan sampai berlarut-larut dan segera dibuat kebijakan yang menguntungkan petani kedelai. Secepatnya buat kebijakan yang pro rakyat,” ungkap politisi asal Partai Golkar ini saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (18/9/2018).

Politisi asal Tulungagung ini mengatakan tingginya harga tahu tempe karena bahan bakunya kedelai yang sebagian besar masih impor harganya naik, hal ini imbas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang saat ini tembus Rp 15.000 lebih/dollar AS

Untuk mensiasati kerugian yang semakin besar, para pengrajin tahu dan tempe membuat kebutusan ukuran tempenya dikurangi. Ukuran tempe dibungkus daun yang semula ketebalannya 4 cm, dikurang 1 cm menjadi 3 cm.

Panjangnya masih tetap berukuran 6 cm dan lebarnya juga tetep sama yakni 5 cm. Sedangkan untuk tempe mendoan harganya tetap Rp 2.000, meski panjangnya mulai dikurang dari 8 cm menjadi 6 cm.

Pewarta: Setya N
Editor: Gendon Wibisono