Connect with us

Inspirasi

Harga Buku Mahal Penyebab Minimnya Niat Baca Anak Indonesia

Published

on

Perpustakaan Kolektif #Toremaos di Taman Adipura Sumenep, Mingggu (4/9/2016)/Foto Untung Wahyudi
Perpustakaan Kolektif #Toremaos di Taman Adipura Sumenep, Mingggu (4/9/2016)/Foto Untung Wahyudi

NUSANTARANEWS.CO – Buku adalah gudang ilmu, jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya. Pesan tersebut mengingatkan betapa pentingnya membaca sebagai cara untuk memperkaya khazanah ilmu serta pengetahuan yang dapat menghantarkan manusia semakin cerdas. Seharusnya upaya gerakan membaca tersebutlah yang harus diupayakan oleh pemerintah agar negara ini bisa bersaing dengan negara maju. Terlebih minat baca anak Indonesia masih sangat minim.

Berdasarkan Release UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) tahun 2011, dari 1000 anak Indonesia hanya satu anak yang mampu menyelesaikan satu judul buku pertahun.

UNESCO juga melaporkan kemampuan baca anak Indonesia cuma 0,001 %. Berbeda dengan kemampuan baca anak-anak Eropa yang rata-rata menghabiskan 25 judul buku per tahun atau di Jepang yang sama-sama sebagai negara asia mempunyai kemampuan rata-rata satu anak mampu menyelesaikan 15 Judul buku pertahun.

Sungguh sangat ironis kejadian seperti ini. Padahal dengan membaca buku itu kita akan tahu ilmu yang dibagikannya. Semakin kita banyak membaca isi bukunya, maka semakin tahulah kita ilmu yang sudah dituliskannya. Kita pun bisa mengambil pelajaran penting dari apa yang dituliskannya itu. Dengan demikian kita dapat bersaing menjadi negara maju.

Sebenarnya apa yang membuat orang Indonesia enggan membaca buku?

Pertama orang Indonesia masih menganggap buku merupakan barang mewah, bukan kebutuhan sekunder, apalagi primer, jadi masih dianggap tersier. Salah satu alasannya adalah harga buku yang tergolong mahal, meskipun sebenarnya jikadibandingkab dengan pulsa anggapan ini belum benar-benar betul. Namun demikian ada beberapa faktor mengapa di Indonesia harga buku tergolong mahal.

Salah satunya karena faktor geografis, yang akibatnya ongkos produksi dan distribusi menjadi tinggi. Ini faktor utama yang menjadi pendorong betapa mahalnya harga buku di Indonesia. Terutama harga kertas yang selalu ditentukan oleh mata uang dollar Amerika. Padahal pohon di Indonesia banyak. Berapa nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar menjadi gambaran bahwa harga kertas mahal. Belum lagi tinta dan lain sebagainya. Disini harga buku terdongkrak naik.

Baca Juga:  Persentase Minat Baca Siswa DKI di Posisi Kedua, Disdik: Data itu Dinamis

Oleh sebab itu pemerintah disarankan untuk segera bertindak. Misalnya dengan memunculkan regulasi yang mempermudah masyarakat mendapatkan buku berkualitas. Kemudian Mendorong kemudahan bagi industri peberbitan di seluruh Indonesia. Kalau tidak segera difikirkan, keadaan seperti ini akan terus berlanjut dan Indonesia hanya akan bermimpi menjadi negara maju.

Perlu diakui sekarang ini memang banyak orang atau komunitas peduli literasi berusaha memeratakan pendistribusian buku secara swadaya. Namun patut diakuiahwa gerakan-gerakan seperti ini pun tidak mudah.

Seringkali mereka harus menabrak sebuah kebijakan pemerintah, atau harus terhenti karena kesulitan dalam menembus birokrasi dengan adanya konflik kepentingan. Belum lagi persoalan keterbatasan ekonomi yang sering kali dihadapkan saat dilapangan.

Untuk itu, masih butuh banyak perjuangan dan pengorbanan dalam menyikapi keadaan ini. Semoga, Keadaan bisa cepat berubah dan data-data dari hasil survey lembaga international itu juga bisa dipatahkan. Untuk semua komunitas baca, penggerak literasi, penggagas gerakan litrasi, atau apapun namanya untuk tetap berjuang dalam kebersamaan demi perubahan. (Restu)

Terpopuler