Budaya / SeniCerpen

Hantu Itu Berwajah Bapak

Cerpen Eko Widianto

 “Maula! Maula! Ke mana saja kamu? Mana rokok Bapak?”

“Sebentar, Pak. Maula mau pipis dulu. Sudah kebelet.”

Aku sambil lari ke kamar mandi. Bapak di ruang tamu kongkow dan bersanding dengan segelas kopi hitam. Kopi luak yang aku buatkan sebelum aku ke warung membelikan jarum filter kesukaan bapak. Sesaji wajib buat pagi hari bapak sebelum berangkat ke Sekolah.

Bapak adalah seorang tukang kebun sekolah. Hari ini sebenarnya libur sekolah. Namun bapak harus tetap berangkat. Bapak harus mengecat sekolah karena besok ada akreditasi di sekolah tempat bapak bekerja. Jadi sebelum bapak pergi bekerja, bapak memintaku membelikan rokok sebagai bekal kerja sehariannya.

“Kamu bersihkan rumah, ya. Bapak mungkin pulang sore.”

“Iya, Pak. Bapak mau Maula masakkan apa? Nanti Ibu pulang, nggak?”

“Kamu beli saja ke warung. Nanti bapak makan di sekolah saja. Oh ya, sore harinya nanti bapak belikan ayam panggang kesukaanmu. Tadi ibu telpon kalau hari ini tidak pulang.”

“Yaaaah. Ibu sibuk ya, Pak?”

“Sudah, kamu cepet mandi sana. Bapak pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah.”

Aku mencium tangan bapak. Bapak kemudian meraih topi warna abu-abu yang terletak di meja. Bapak memakai topi itu dan bergegas ke motor matic yang baru saja lunas kredit. Tiba-tiba, aku pengen pipis lagi.

Sebelum kembali ke kamar mandi, aku mengambil handuk dan perlengkapan mandiku. Aku bergegas ke kamar mandi. Di rumah hanya aku seorang diri. Aku anak tunggal. Sejak kecil, aku biasa hidup mandiri. Kedua orang tuaku sibuk bekerja. Bapak yang hanya lulusan sekolah menengah pertama, bekerja sebagai tukang kebun di SD kecamatan. Sementara Ibu, alhamdulillah menjadi guru di SMP. Namun Ibu mengajar di sekolah yang cukup jauh jaraknya. Sekitar enam kilo dari rumah. Oleh karena itu, Ibu lebih memilih menginap di rumah Mbah karena dekat dari sekolah.

Paling-paling, Ibu pulang dua hari seminggu. Hanya sebatas mencucikan bajuku dan baju Bapak. Kalau ada waktu luang, Ibu menanyakan PR-ku. Meskipun ibu tidak selalu membantuku dalam membuat PR ataupun tugas-tugas sekolah. Ibu lebih banyak memintaku untuk membantunya menulis nama-nama siswanya. Atau, memberikan tanda centang dan silang di presensi kelasnya.

Aku membuka celanaku sembari mengisi bak mandi. Segera aku jongkok karena aku pengen pipis lagi. Setelah terasa lega, aku kembali berdiri. Meraih gayung dan membersihkan bekas buang air kecilku. Kemudian kubuka baju dan pakaian dalamku. Tiba-tiba aku ingat kalau sekarang aku tengah di rumah seorang diri. Aku kembali memakai pakaian dalamku. Ada rasa takut yang diam-diam hinggap di pikiraku. Was-was, kalau saja ada orang yang mengintipku mandi. Air dingin dan segar mengalir membasahi tubuhku.

“Aduh!”

…………………..

“Ingat, ya anak-anak. Untuk mengerjakan soal dengan model kurung, kerjakan dulu angka yang ada di dalam kurung. Kemudian bagian berikutnya. Bisa?”

“Bu, minta izin ke belakang.” Aku mendekati bu Sofi yang berdiri di dekat papan tulis.

“Ya, silakan, Maula.”

Aku bergegas ke kamar mandi sekolah. Di lapangan, ada anak-anak kelas lima yang sedang berolah raga. Mereka sedang asyik bermain sepak bola. Satu bola yang ditendang ke sana kemari juga menjadi rebutan sekian anak-anak itu. Ada satu anak yang berteriak ke arahku.

“Maula, ditunggu Andre.”

“Hahahahahahahahahha.” Beberapa anak lainnya mengikutinya dengan tawa.

Aku tidak peduli. Andre adalah kakak kelasku yang sering disebut-sebut sebagai pacarku. Padahal aku tidak pernah memedulikannya. Sambil mendiamkan ocehan dan tawa mereka, aku percepat langkah ke arah kamar mandi. Aku sudah tidak tahan. Tapi sesampainya di kamar mandi, ternyata ada seseorang di dalamnya.

Aku mengetuk pintu itu agar seseorang di dalamnya segera keluar. Sambil kuteriaki kalau aku sudah tidak tahan. Maklum, di SD-ku hanya memiliki satu kamar mandi untuk siswa. Oleh sebab itu jika ada beberapa siswa yang hendak buang air harus mengantri terlebih dahulu. Setelah menunggu beberapa detik, pintu itu terbuka. Andre.

“Maula?”

Dia tersenyum kepadaku. Cakep. Tapi aku tidak pedulikan itu. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi. Segera kukunci pintunya. Tapi, kunci kamar mandi di sekolahku tidak berfungsi. Sudahlah. Akhirnya, kuberi ember di balik pintu agar tidak mudah terbuka. Seketika aku jongkok dan kubuka sedikit celana dalamku.

“Maula. Aku tunggu di luar, biar tidak ada anak-anak yang ngintip kamu.”

“Ada yang ngintip?” Dalam hatiku. Jantungku berhenti.

…………………..

Bapak memandikanku sore ini. Bapak bilang, kalau aku mandi sendiri pasti masih kotor. Hari ini ibu tidak pulang lagi. Ibu tidur di rumah mbah karena besok ada upacara. Jadi, Ibu tidak boleh terlambat. Bapak membukakan pakaianku cepat-cepat. Sambil membuka pakaianku, bapak menciumiku.

“Anak bapak makin cantik ya. Tapi kok kecut.” Aku tertawa.

“Aduh bapak. Geli. Hehehe.”

“Mana yang geli? Icik icik icik. Anak bapak yang cantik. Nurut ya jadi anak cewek.”

“Bapak. Geli. Hehehe. Bapak, Maula pengen pipis.”

“Mau pipis? He.em? Pipis sayang?”

“Bapak, geli. Maula nggak bisa pipis. Jangan dipegang.”

“Lho justru kalau geli malah langsung pipis dong. Sini-sini, pipis.”

“Ah Maula ngompol. Bapak, geli, Pak. Udah hehehehe.”

“Tuh kan pipisnya banyak. Gantian bapak yang pipis ya. Maula gantian bukain pakaian Bapak dong. Kan tadi Bapak bukaian pakaian Maula.”

“Nggak bisa. Hehehe. Ini aja yah.”

“Iya, ayo bukain celana bapak. Nanti gantian deh biar bapak nggak bisa pipis.”

“Beneran yah. Ayoo gantian bapak nggak bisa pipis. Geli yah?”

“Ah geli sayang. Aduh. Bapak pengen pipis, tapi geli.”

“Rasain! Tadi Maula juga pengen pipis nggak bisa. Gantian biar bapak geli. Hahahaha.”

“Sayang, tuh loh makin besar. Soalnya pipisnya nggak bisa keluar. Aduh geli sayang.”

“Rasain. Burungnya bapak makin besar. Weeekk bapak nggak bisa pipis weeekkk!”

“Sayang, Ma … uu…ah“

“Yah bapak pipis. Kok kentel Pak?”

Bapak kemudian memelukku erat-erat. Badan bapak hangat. Aku diam di dekapan Bapak. Bapak baru saja pipis. Tapi air pipis bapak berbeda dengan air pipisku. Aku coba raba-raba bagian tubuh bapak yang lain agar geli. Tapi bapak sudah tidak geli. Ah tidak seru. Kami kemudian mandi bersama. Bapak tidak jadi memandikanku. Ternyata, aku disuruh pakai sabun sendiri. Bapak curang.

Malam harinya, seusai makan malam, bapak menemaniku mengerjakan PR. Bapak mengajakku mengerjakan PR di ruang keluarga. Bapak bilang, kami bisa mengerjakan PR sambil nonton VCD yang baru bapak beli. Bapak kemudian menghidupkan VCD player. Lalu memasukkan CD bari itu.

“Film apa, pak? India ya?”

“Bukan. Itu video olah raga. Biar kita sehat, kita harus ikut olah raga itu. Maula juga harus olah raga itu biar cepet gede. Biar cepat jadi model.”

“Wah, jadi model? Waaah mau mau mau .. Maula mau jadi artis. Maula kan cantik.”

“Iya, coba lihat. Mbak-mbak di film itu cantik-cantik, kan? Ayo olah raga. Bapak temenin yah. Nanti bapak jadi mas-mas di sana biar Maula ada teman olah raganya.”

“Iya, kok olah raganya buka baju, Pak?”

“Kan biar keringatnya keluar banyak.”

Aku kemudian mencium Bapak. Aku gigit-gigit bibir bapak. Bapak juga menarik-tarik lidahku dengan bibir bapak. Aku ikuti suara di video itu. “ah ah ah em em em”. Itu semacam hitungan senam satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan. Kata bapak sambil ngos-ngosan. Badan bapak hangat. Aku suka.

“Bapak geli.”

Bapak memainkan dua titik coklat di dadaku. Rasanya sedikit keras. Meskipun tidak ada air dan bentuknya tidak segemuk punya Ibu. Bapak membuatku geli. Tapi aku lihat bapak ikut gerakan olah raga itu. Jadi, aku juga ikuti model perempuannya. Aku memainkan rambut bapak persis dengan yang dilakukan model di video itu.

“Sih sih yes gat no!”

Bapak makin ke bawah. Bapak mulai menciumi merutku, pusarku, hingga tempat pipisku. Bapak ternyata masih ikut gerakan olah raga itu. Olah raga itu agak menjijikkan. Tapi sepertinya memang itu yang membuat perempuan dalam video itu makin cantik. Aku ikut tersenyum dan menghitung “sih sih yes gat no” seperti yang dilakukan perempuan itu.

“Bapak, Maula pengen pipis.”

Bapak hanya diam, karena mas-mas di video itu juga diam. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak bilang kalau aku pengen pipis. Perempuan di video itu juga mungkin sedang menahan pipis. Tapi dia tidak bilang. Dia hanya menggoyang-goyangkan pinggulnya. Selanjutnya, mas-mas itu memasukkan jari tengahnya di tempat pipis perempuan itu. Aku merasa perih.

“Bapak, sa…..”

“Ssssstttt!”

Olah raga itu tak kunjung selesai. Aku sudah capek. Tempat kencingku sudah perih. Dari pengen kencing, jadi sakit sekali. Jari tengah bapak masih bergoyang-goyang di dalamnya. Dalam video, perempuan itu berteriak makin kencang. Tapi aku tidak bisa menirukan hitungannya. Ternyata di olah raga ini tidak ada hitungan satu dua tiga. Hitungannya bermacam-macam.

“Ibu.. sakit.”

Bapak langsung meraih bibirku dengan bibirnya. Bau tembakau. Bapak memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku pengen muntah. Tapi rasa perih lebih mengalihkan perhatianku ketimbang ini. Bapak, hentikan ini. Maula lelah dengan olah raga ini. Tadi kita lupa pemanasan. Mungkin bapak lupa melihat sesi pemanasan di video itu.

“Bapak, itu sudah ganti gerakannya.”

Bapak sadar. Sebelum mengeluarkan jarinya, bapak mempercepat gerakannya. Rasanya nyeri sekali. Kemudian bapak meniru gerakan mas-mas itu. Aku ditidurkan di lantai. Lalu bapak menaruh burungnya di hadapanku. Aku langsung tahu tugasku. Aku ikuti perempuan itu memegang dan menggoyang-goyangkan burung. Burung bapak tidak sebesar burung mas-mas itu. Tapi burung bapak banyak bulunya.

Perempuan itu menjilat-jilat burung yang dipegangnya, seolah eskrim. Aku mengikutinya. Tapi rasanya tidak enak. Aku mau muntah. Bapak kemudian memintaku melepaskan burungnya. Mungkin bapak merasa nyeri seperti aku tadi. Ah, lagi-lagi bapak curang. Tadi kenapa aku tidak dilepaskan?

“Ini gerakan olah raga terakhir. Namanya, burung masuk kandang.”

Bapak mengikuti mas-mas itu memasukkan burungnya ke tempat pipisku. Tapi tidak kunjung berhasil. Padahal, mas-mas dalam video itu langsung berhasil dan mereka berdua bergoyang asyik. “Ayo, pak. Tapi sakit. pelan-pelan.” Bapak tetap mencoba. Bapak membuka lebar-lebar kakiku. Aku main sakit. Ternyata dari tadi aku pipis darah. Aku baru menyadarinya. Aku takut dan menangis.

“Bapak, aku pipis darah.”

Bapak tidak peduli. Aku makin sakit dan menangis sejadi-jadinya. Tapi bapak tetap tidak peduli. Bapak tetap memasukkan burungnya meskipun sang kandang tidak muat. Aku merasakan kepala burung bapak mulai masuk. Tapi tidak seutuhnya burung itu masuk kandang. Aku mencoba melawan, tapi tidak mampu. Tiba-tiba, burung bapak muntah. Aku merasakan perih terkena muntahan burung bapak yang hangat itu. Bapak pipis di tempat pipisku. Burung bapak seketika mengecil. Bapak langsung tidur.

…..

“Maula, kamu kenapa? Apa yang berdarah?”

“Jangan. Jangan lagi. Aku capek olah raga, Pak. Aku capek olah raga tiap malam. Aku mau bikin PR saja. Aku nggak mau jadi model.”

“Maula? Keluar. Kamu kenapa, Nak?”

“Sakit, pak. Perih. Tempat kencing maula berdarah terus saat olah raga. Maula nggak mau olah raga lagi.”

“Maula, ini bu sofi. Buka, nak. Kamu kenapa?”

“Maula. Maula. Maula.”

Aku seketika sadar. Aku di dalam kamar mandi sedari tadi. Aku ditunggu banyak orang di luar. Ada Andre, bu Sofi, bu Intan, bu Putri. Suara siapa lagi itu? Aku pipis darah lagi. Aku mendengar pintu itu terpaksa didorong. Pintu itu terbuka saat aku belum memakai celana dalamku dengan tepat.

“Jangan, pak! Jangan!” Semuanya sunyi dan gelap.

Peringatan: Indonesia darurat kejahatan seksual!

 Eko Widianto, dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah. Lahir di Jepara pada 22 Mei 1992. Pendidikan S1 dan S2 diselesaikan di Universitas Negeri Semarang pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Turut aktif menginternasionalkan bahasa Indonesia dengan menjadi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Pernah menjalankan misi diplomasi kebahasaan dan kebudayaan di Tunisia. Aktif di segala media sosial seperti Facebook ‘Eko Widianto’ dan Instagram ‘@ekow_oke’. Beberapa sajak mini bisa ditemukan di Instagram dengan tanda pagar #KultumAsmara.

 

Related Posts

1 of 514