Connect with us

Politik

Hakikat Pancasila: Konsep dan Prinsip Yang Terkandung (3)

Published

on

Hakikat Pancasila2

Hakikat Pancasila dan konsep humanitas sebagai kemampuan dasar

Hakikat Pancasila perlu dihayati dan dipahami secara mendalam. Untuk itu, kita perlu memahami konsep dan prinsip yang terkandung di dalam Pancasila.

Konsep humanitas sebagai kemampuan dasar “kemauan” yang didukung oleh kemampuan fikir, perasaan, karya, di mana manusia selalu berusaha untuk hidup dalam kondisi yang terbaik bagi dirinya. Manusia selalu didorong oleh ambisinya tersebut untuk mencari segala sesuatu yang diharapkan akan memberikan kepuasan hidupnya, baik mengenai hal-hal yang bersifat jasmani maupun rokhani.

Tuhan mengaruniai kebebasan pada manusia dalam menentukan pilihan hidupnya guna mencari yang terbaik bagi kehidupannya. Meski begitu kebebasan yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia tersebut tidak cuma-cuma. Kebebasan tersebut harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan maupun kepada masyarakat sekitarnya. Kebebasan ini biasa disebut sebagai hak asasi manusia, merupakan mahkota bagi kehidupan manusia yang tidak boleh diganggu gugat.

Namun dalam menggunakan kebebasan tersebut manusia dibatasi, sekurang-kurangnya oleh kebebasan yang juga menjadi hak manusia lain. Terdapat cara yang dengan mudah dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menuntut atau melampiaskan kebebasan manusia, yakni tidak dibenarkan mengganggu dan melanggar kebebasan pihak lain pada waktu seseorang menuntut dan menggunakan kebebasannya.

Konsep humanitas sebagai kesetaraan dan keragaman. Meskipun manusia diciptakan dalam kesetaraan, namun realitas menunjukkan adanya fenomena yang beragam ditinjau dari berbagai segi. Keaneka ragaman manusia dapat dilihat dari sisi jasmani maupun mentalnya, sehingga setiap manusia memiliki kepribadian yang beragam yang membentuk jatidiri manusia sebagai individu. Namun dalam keaneka ragaman tersebut terdapat hal-hal yang disepakati bersama, menjadi pengikat kehidupan bersama. Terdapat nilai-nilai dan prinsip-prinsip sama yang merupakan watak bersama (common denominator) antar berbagai komunitas. Sifat pluralistik manusia dihormati dan didudukkan dengan sepatutnya, tetapi harus dibingkai dalam suatu kebersamaan dan kesatuan.

Baca Juga:  Didukung Hanura, Anton Charliyan: Kami Tunggu DPC Lain Bergabung

Konsep humanitas sebagai hubungan manusia dengan manusia. Tata hubungan manusia dengan manusia yang lain dikemas dalam tata hubungan yang dilandasi oleh rasa kasih sayang. Bahwa eksistensi manusia di dunia adalah untuk dapat memberikan pelayanan pada pihak lain; orang Jawa menyebutnya sebagai ”leladi sesamining dumadi.” Manusia sebagai makhluk yang mengemban amanah untuk menjaga kelestarian ciptaan Tuhan memegang suatu prinsip ”memayu hayuning bawono.”

Hal ini akan terselenggara dengan baik apabila dilandasi oleh sikap ”sepi ing pamrih, rame ing gawe; jer basuki mowo beyo;” bahwa dalam mengusahakan tewujud-nya kehidupan yang sejahtera, terciptanya keharmonisan segala ciptaan Tuhan, manusia harus menyisihkan kepentingan pribadi dan golongan, serta rela berkorban demi terwujudnya kondisi yang diharapkan tersebut. Semua ini dapat terselenggara apabila didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang dengan sesama.

Dalam berhubungan dengan sesama ini diharapkan manusia mampu mengendalikan diri, tidak merasa dirinya yang paling benar, paling hebat, paling kuasa, sehingga mengabaikan dan memandang remeh atau tidak penting pihak lain. Orang Jawa mengatakannya ”ojo dumeh, ojo adigang, adigung, adiguno.” Secara bebas dapat diartikan jangan meremehkan pihak lain, jangan bersikap angkuh, merasa dirinya paling hebat dalam segala hal.

Sifat inklusif harus dikembangkan sedang sifat eksklusif harus dihindari. Sementara itu kejujuran harus dikembangkan sebagai landasan untuk mengikat hubungan yang serasi, selaras dan seimbang. Demikian pula sifat mementingkan diri sendiri yang mengantar timbulnya keserakahan harus dihindari.[]

Penulis: Soeprapto (Ketua LPPKB)

Terpopuler