Connect with us

Terbaru

HAI ke 51, Dirjen PAUD dan Dikmas: Sediakan Buku untuk Masyarakat

Published

on

Rapat kerja persiapan penyelenggaraan (HAI), 23 Agustus 2016/Foto Istimewa
Rapat kerja persiapan penyelenggaraan (HAI), 23 Agustus 2016/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Hari Aksara Internasional (HAI) ke 51 sesuai tradisi dilaksanakan di daerah Provinsi secara bergilir setiap tahunnya. HAI ke 51 akan disemarakkan di di Palu, Sulawesi Tengah. Tema yang diusung kali ini adalah, “Aksara untuk Pembangunan Lingkungan”.

Tema seksi tersebut ditujukan kepada manusia Indonesia untuk mengingat kembali salah satu hak segenap bangsa yakni bebas dari jeratan buta huruf. Tema yang diusung merupakan upaya memberi inspirasi kepada masyarakat luas tentang kesungguhan usaha memperjuangkan keberaksaraan di Indonesia.

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan sebagai fondasi gerakan pemberdayaan masyarakat. Intinya, peringatan HAI dengan tema sebagus apapun tidak sekedar menjadi gerakan pemberantasan buta aksara semata. Melainkan lebih pada bagaimana supaya masyarakat dapat mengambil spirit dan hikmah di dalamnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Lantaran gerakan keberaksaran dilakukan oleh semua penggerak literasi di seluruh dunia. Dengan sadar, tema HAI ke 51 di Indonesia di selaraskan dengan tema global yang diangkat oleh UNESCO tahun ini, yaitu “Literacy and Sustainable Societies” atau “Keaksaraan untuk Masyarakat Berkelanjutan”.

Gerakan keberaksaraan dunia tentu tidak berangkat dari ruang kosong dan hampa. Artinya, tema yang dikampanyekan merupakan keberlanjutan dari isu global dalam peringatan HAI ke 50 tahun 2015 lalu. Dimana tahun 2015 merupakan akhir dari Dekade UNESCO “Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan” (UNESCO Decade of Education for Sustainable Development).

Pesan utama tema tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pendidikan, tetapi merupakan investasi yang sangat penting bagi masa depan yang berkesinambungan. Spirit ini pun rupanya mulai melebur dalam cita-cita berbangsa dan bernegara tanpa satu pun masyarakat yang buta huruf. Hal ini tersirat dalam pernyataan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar.

Baca Juga:  Tantangan Penggerak Keberaksaraan Masyarakat Indonesia di Era Digital

“Memberantas tuna aksara bukan hanya melatih masyarakat untuk bisa membaca tetapi juga menyediakan bukunya,” katanya saat memimpin rapat kerja persiapan penyelenggaraan Hari Aksara Internasional (HAI), Jakarta, Selasa (23/8/2016) seperti dikutip dari laman resmi PAUD dan Dikmas.

Semangat untuk tidak hanya melatih mesyarakat bisa membaca, senyatanya sudah dikampanyekan oleh para penggerak keberaksaraan di berbagai daerah. Hanya saja, selama ini pemerintah belum sepenuhnya optimal dalam memberikan dukungan, baik berupa materi maupun dalam bentuk program unggulan.

Tahun ini, PAUD dan Dikmas mulai menyerukan kepada sumua pihak supaya menyediakan dan mempermudah akses mendapatkan buku yang bermutu dan berkualitas bagi masyarakat, diantaranya dengan melakukan gerakkan pengumpulan donasi buku dan juga mendorong para organiasi atau lembaga mitra, agar mengoptimalkan website dan blog yang mereka miliki atau kelola dengan menghadirkan buku online.

“Buat apa masyarakat bisa membaca akan tetapi masyarakat tidak bisa mendapatkan atau mengakses buku untuk dibaca, sulitnya mendapatkan buku menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat dan mungkin menyebabkan mereka menjadi tuna aksara,” kata Harus tegas.

Terkait waktu penyelenggaran HAI ke 51 rencananya akan diselenggarakan pada 20 Oktober 2016 mendatang. Menuju hari pelaksanaan, sudah siapkan kita semua untuk menjadikan penyelenggarannya HAI nantinya sebagai Ikon dari kegiatan Aksara Internasional? Sebab, semeriah apapun ritual tahunan ini, jika hanya berupa acara seremony, itu berarti menggalakkan kesia-sian semata.

Tentu kita tahu betul bahwa, di negara maju, ketersediaan buku adalah hal utama dalam setiap bidang. Dan di semua sekolah menengah telah mewajibkan siswa membaca buku kesusastraan. Demikian kata pengelola Rumah Baca Tirai Ilmu, Unok Sulistiyanto.

“Ini mendorong majunya tingkat minat terhadap budaya literasi. Padahal tingginya minat baca itu akan sangat berpengaruh dengan kwalitas pendidikan. Karena separuh lebih pengetahuan yang didapat dari sekolah itu didapat dari membaca buku,” katanya. (Sulaiman)

Baca Juga:  Bangun Dunia Keberaksaraan di Masyarakat Lewat Kenangan dan Kenyataan

Loading...

Terpopuler