Connect with us

Rubrika

Guru SMA-nya Meninggal, Anies Baswedan Ceritakan Keteladanan Sang Guru

Published

on

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto Ucok Al Ayubbi NUSANTARANEWS.CO)

Gubernur DKI Jakarta Anies BaswedanGuru SMA-nya Meninggal, Gubernur DKI Jakarta,  Anies Baswedan Ceritakan Keteladanan Sang Guru. (Foto: Ucok Al Ayubbi/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan duka teramat dalam atas meninggalnya sang guru SMA-nya bernama Wahyuntono. Mantan kepala sekolah SMA 2 Yogyakarta itu menghembuskan napas terakhir pada Kamis (1/8/2019).

Atas berpulangnya salah satu guru terbaiknya itu, Anies melalui akun instagramnya mengkisahkan keteladanan sosok Wahyuntono. Berikut kisah keteladanan guru SMA Anies yang diunggah melalui Instagram @aniesbaswedan:

Namanya Wahyuntono, biasa dipanggil Pak Anton. Setiap jam 6.30 beliau sudah berdiri di gerbang sekolah. Beliau menyapa kami dgn senyum hangat.

Jam 7 pintu gerbang ditutup. Tapi Pak Anton tdk pergi. Beliau tetap menyapa yg terlambat. Ditanya satu-satu, mengapa terlambat. Mereka jera, ditanya langsung kepala sekolah. Sekolah jadi tertib.

Pak Anton menyapa ke kelas-kelas. Dari jendela, beliau memantau suasana kelas, cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Beliau mendorong siswanya untuk aktif organisasi.

“Anies, kamu ke Jakarta ya. Ikut pelatihan Ketua OSIS se Indonesia,” kata Pak Anton. Pagi itu saya dipanggil ke ruang kepsek. Diberi surat undangan dari Kemdikbud & Disdik yg meminta sekolah kami mengirim utusan ke Jakarta. Saya duduk di kelas 1 dan dapat tugas mewakili sekolah kami. Sebelum berangkat, beliau bekali dgn nasihat. Saya ke Jakarta bawa semangat.

Itulah wajah kehangatan dan contoh kepemimpinan kepala sekolah kami. Setiap guru, siswa merasakan kehadirannya dalam bentuk suasana sekolah yang sehat. Beliau tdk menghardik dan membentak utk disegani. Tapi membimbing, mengarahkan, lalu menuntun utk meraih target.

Saat bertugas di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), kami undang Pak Anton ke Jakarta. Menghadiri peringatan hari guru. Beliau sudah pensiun, usianya 76 th. Jalannya pelan, tapi tegap dan penuh semangat.

Saya sambut, salami dan cium tangannya. Beliau peluk erat sekali, dalam haru beliau berkata, “dulu saya kirim kamu ke Jakarta diundang kementerian, sekarang kamu ngantor di ruang ini.”

Di ruangan, Kepala Sekolah teladan itu sempat diam seakan tak percaya. Saya dengarkan semua ceritanya. Masih seperti dulu, saya tetap muridnya. Kami sering berkabar, beliau beri nasihat, tetap jadi guru.

Hari ini, 1 Agustus 2019, semua ingatan keteladanannya seakan diputar ulang. Ya, hari ini Pak Anton akan dimakamkan di Yogyakarta. 80 tahun usianya.

Doa ribuan muridnya mengiringi. InsyaAllah, pahala padanya tak berhenti mengalir lewat ilmu yang diamalkan murid-muridnya.

Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu…

View this post on Instagram

Namanya Wahyuntono, biasa dipanggil Pak Anton. Setiap jam 6.30 beliau sudah berdiri di gerbang sekolah. Beliau menyapa kami dgn senyum hangat. Jam 7 pintu gerbang ditutup. Tapi Pak Anton tdk pergi. Beliau tetap menyapa yg terlambat. Ditanya satu-satu, mengapa terlambat. Mereka jera, ditanya langsung kepala sekolah. Sekolah jadi tertib. Pak Anton menyapa ke kelas-kelas. Dari jendela, beliau memantau suasana kelas, cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Beliau mendorong siswanya untuk aktif organisasi. “Anies, kamu ke Jakarta ya. Ikut pelatihan Ketua OSIS se Indonesia,” kata Pak Anton. Pagi itu saya dipanggil ke ruang kepsek. Diberi surat undangan dari Kemdikbud & Disdik yg meminta sekolah kami mengirim utusan ke Jakarta. Saya duduk di kelas 1 dan dapat tugas mewakili sekolah kami. Sebelum berangkat, beliau bekali dgn nasihat. Saya ke Jakarta bawa semangat. Itulah wajah kehangatan dan contoh kepemimpinan kepala sekolah kami. Setiap guru, siswa merasakan kehadirannya dalam bentuk suasana sekolah yg sehat. Beliau tdk menghardik dan membentak utk disegani. Tapi membimbing, mengarahkan, lalu menuntun utk meraih target. Saat bertugas di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), kami undang Pak Anton ke Jakarta. Menghadiri peringatan hari guru. Beliau sudah pensiun, usianya 76 th. Jalannya pelan, tapi tegap dan penuh semangat. Saya sambut, salami dan cium tangannya. Beliau peluk erat sekali, dalam haru beliau berkata, “dulu saya kirim kamu ke Jakarta diundang kementerian, sekarang kamu ngantor di ruang ini.” . Di ruangan, Kepala Sekolah teladan itu sempat diam seakan tak percaya. Saya dengarkan semua ceritanya. Masih seperti dulu, saya tetap muridnya. Kami sering berkabar, beliau beri nasihat, tetap jadi guru. Hari ini, 1 Agustus 2019, semua ingatan keteladanannya seakan diputar ulang. Ya, hari ini Pak Anton akan dimakamkan di Yogyakarta. 80 tahun usianya. Doa ribuan muridnya mengiringi. InsyaAllah, pahala padanya tak berhenti mengalir lewat ilmu yang diamalkan murid-muridnya. Allahhummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu anhu… #ABW

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on

Pewarta: Romandhon

Loading...

Terpopuler