Politik

Gerindra Disarankan Copot Arief Poyuono dari Kursi Waketum Partai

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Nama Arief Poyuono sedang naik daun. Di media massa dan media sosial, Arief tak luput dari sebutan dan buah bibir. Pria yang tercatat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini terbilang sukses melambungkan namanya hingga level nasional.

Sejak menuding partai PDI Perjuangan mirip PKI, Arief mulai jadi pergunjingan. PDIP sendiri bereaksi cukup keras dan tegas atas pernyataan Arief yang tersebar di berbagai media nasional. Ujungnya, Arief dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terhadap PDIP.

Meski Arief sendiri sudah menyampaikan permintaan maaf secara resmi, nyatanya ucapan politisi Gerindara itu terlanjur menyebar ke segala penjuru negeri dan tak dapat dicabut. Jadilah tudingan itu masuk ke ranah hukum. Arief terancam dipenjara karena dinilai telah memfitnah partai penguasa.

Kecenderungan akhir-akhir ini, orang mudah merasa tersinggung ketika dituduh PKI. Sejak Jokowi naik ke kursi kepresidenan pada 2014 silam, tindakan tuduh-menuduh PKI antar sesama anak bangsa mencuat dan menguat. Orang sangat alergi jika dituding PKI, sekaligus sadar kalau partai yang tercatat pernah hendak melakukan kudeta (makar) sebanyak tiga kali itu sudah terlarang lagi hidup dan tumbuh di Indonesia. Dasarnya adalah TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang pelarang PKI, paham atau ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia. Selain itu, sebagian pihak juga menilai PKI anti Pancasila yang notabene satu-satunya ideologi dan dasar negara Indonesia.

Baca Juga:  Deddy Sitorus Akan Dorong Perubahan Sistem Transhipment di Pelabuahan Nunukan

Tahu pihak PDIP geram, Arief lalu meminta maaf secara resmi dan tandatangan di atas materai. Gerindra bersikap juga terkait ulah Arief dengan menyebut ucapannya itu bersifat pribadi dan tidak mewakili partai. Elite Gerindra, Fadli Zon juga sudah memastikan Arief akan diserahkan ke Mahkamah Partai untuk diproses dan disanksi.

Pernyataan Gerindra bahwa Arief harus mempertanggungjawabkan tuduhannya kepada PDIP membuat Wakil Ketua Umum di Bidang Buruh dan Ketenagakerjaan Partai Gerindra itu berang. Arief menilai, Gerindra tak membela dirinya yang terancam diseret ke meja hijau. Sikap Gerindra ini akhirnya berbuntut panjang, koalisi buruh pendukung Arief lalu mencabut dukungannya dari Gerindra dan Prabowo Subianto. Mereka menarik dukungan kepada Prabowo yang diwacanakan maju pada Pilpres 2019. Gerindra tak gentar, dan sedikit cuek.

Baca: Arief PoyuonoTak Dibela, Koalisi Buruh Cabut Dukungan ke Gerindra dan Prabowo di Pemilu 2019

Kisah berlanjut, Arief belakangan melunak. Kritikan tajamnya kepada kepemimpinan Joko Widodo berubah menjadi pujian. Arief menyanjung Jokowi sebagai sosok pemimpin yang sukses dan berhasil membuat Indonesia maju. “Hampir tiga tahun pemerintahan Joko Widodo sudah mulai menunjukan arah kemajuan yang nyata, yang mulai dirasakan masyarakat,” kata Arief, Selasa (8/8). Bahkan, terakhir Arief tak sungkan menyanjung Puan Maharani, menyebutnya sosok politisi bijak “Oase di antara kehausan saling cakar antar politisi, antar partai, antar organisasi dan ideologi,” katanya.

Baca Juga:  Simulasi Pilgub Jatim, Duet Khofifah-Fawait Tempel Ketat Duet Khofifah-Emil

Baca: Arief Poyuono Puji Jokowi dan Prediksi Bakal Menang di Pilpres 2019

Kritikan-kritikan tajam Arief terhadap kepemimpinan Jokowi selama ini akhirnya pudar dan terkikis. Ia telah berubah drastis sejak keselo lidah tempo hari. Arief tak lagi berada sebagai representasi partai oposisi, Gerindra. Ada apa dengan Arief?

“Ya, dia bukan kaum intelektual dan politisi berintegritas. Arief itu nggak ngaruh terhadap konstituen Gerindra. Dia bukan orang pergerakan punya basis intelektual,” kata pengamat politik NSEAS, Muchtar Effendi Harahap kepada redaksi, Kamis (10/8/2017).

Menurut Muchtar, Gerindra tak perlu ambil pusing dengan sikap Arief yang kini sudah mulai merubah arah dukungannya. Apalagi selama ini Gerindra dikenal sangat kritis terhadap kepemimpinan Jokowi, terutama menyangkut berbagai kebijakan pemerintah yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Belakangan, Gerindra sangat kritis dan tegas menyikapi kebijakan Perppu Ormas dan UU Pemilu (ambang batas presiden 20 persen).

Baca: Soal Penulis “Jokowi Undercover”, Waketum Gerindra: Jokowi Harus Bersedia Jadi Saksi

Baca Juga:  Sumur Minyak Ditemukan, Permahi Aceh Desak Pemprov dan BPMA Aceh Entas Kemiskinan

Muchtar menilai, sebaiknya Gerindra mencopot jabatan Arief sebagai Wakil Ketua Umum Gerindra daripada terus-menerus menuai polemik tak berkesudahan. Artinya,  keberadaan Arief jangan sampai merubah citra partai Gerindra yang selama ini dikenal publik kritis dan berdiri di posisi oposisi. “Ya, dicopot saja dari Waketum (Gerindra),” pungkasnya. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Simak kritik-kritik Arief Puyouno Terhadap Kepemimpinan Joko Widodo

  1. Gunakan Diskresi Sembarangan, Jokowi Bisa Dipidanakan
  2. FSP Bersatu Meminta DPR Berhenti Mempolitisasi BUMN
  3. Waketum Gerindra: Jangan Korbankan Dana Calon Tamu Allah Hanya Karena Ambisi Pak Joko Widodo
  4. Dana Alokasi Umum Tertunda, PNS Bisa Pidanakan Presiden
  5. UU Pemilu Tak Bisa Diluruskan di Era Pemerintahan Semau-maunya
  6. Gerindra: Selamatkan Industri Nasional dari Kebangkrutan
  7. Tanpa PT 20 Persen, Waketum Gerindra: Jokowi Tumbang di Pilpres 2019

Related Posts

1 of 1.738