Connect with us

Hankam

Geopolitik dan Nasib Nuklir Iran

Published

on

Nuklir Iran (Ilustrasi Nusantaranews)

Nuklir Iran (Ilustrasi Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO – Proyek nuklir dunia menjadi ajang adu kekuatan negara-negara besar. Saling curiga, saling tekan, bahkan saling ancam pun kerap terjadi akibat senjata nuklir yang dimiliki oleh suatu negara. Contohnya bisa dilihat pada berakhirnya perang Korea Utara dan Selatan dengan tujuan denuklirisasi Korea Utara. Hal serupa juga berlaku bagi Iran yang juga memiliki proyek senjata nuklir.

Kesepakatan Nuklir (Nuclear Agreement) diteken oleh Iran dan lima negara (AS, Perancis, Cina, Rusia, Jerman, dan Uni Eropa) melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Juli 2015 lalu menunjukkan komitmen Iran untuk menciptakan “program nuklir Iran yang aman.” Sebagai timbal balik, seluruh sanksi dari Dewan Keamanan PBB dan negara-negara dunia kepada Iran akan dicabut. Sanksi AS sejak Revolusi Iran (1979) juga akan dicabut.

Baca Juga:
UE Tetap Pada Komitmen, Tidak Ada Rencana Untuk Merundingkan Kembali Kesepakatan Nuklir Iran 2015
Washington Memberi Ultimatum Kepada Jerman, Inggris dan Prancis Untuk Mengubah Kesepakatan Nuklir Iran
Rusia dan Eropa Kompak Tetap Berkomitmen Terhadap Kesepakatan Nuklir Iran

Di era Trump, nampaknya kesepakatan Nuklir Iran bersama lima negara yang terlibat akan menemui hambatan. Pasalnya, Trump akan menarik kesepakatan Nuklir Iran. Dilansir dari republika co.id, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran atau dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Menurut Guterres, Timur Tengah akan menjadi tempat yang lebih berbahaya tanpa adanya kesepakatan tersebut. Ia menyoroti potensi pecahnya konflik antara Israel dengan Iran.

“Kita perlu melakukan segalanya guna menghindari risiko (pecahnya konflik) tersebut,” ucap Guterres.

Baca Juga:  Partai Sudah Tercoblos Sebelum Pemilu, Nasdem Salahkan Kubu Oposisi

Geopolitik Iran

Iran sebagai negara yang memiliki pengaruh di kawasan timur tengah tentu diperhitungkan negara barat dan timur yang berkepentingan di sana. Dukungan Iran terhadap Palestina membuatnya menjadi musuh Israel. Tentu saja itu berdampak kepada AS sebagai sekutu abadi Israel. Selain konflik Sunni – Syiah, persoalan perebutan kekuasaan dan hegemoni minyak di kawasan teluk juga menjadi alasan kuat mengapa Arab Saudi dan Iran menjadi musuh. Iran  yang diketahui bermitra dengan Rusia dan Saudi berafiliasi dengan AS, mengisyaratkan bahwa perseteruan AS dan Rusia di kawasan timur tengah cukup terwakili dengan keberadaan  Iran dan Saudi yang menjadi sekutu mereka.

Kesepakatan Nuklir Iran ditanggapi dengan beragam sikap oleh negara-negara teluk. Terbentuklah tiga blok di kawasan tersebut. Pertama, Blok Pro Arabian (anti Iran) terdiri dari negara-negara teluk seperti Turki, Yordania, dan Qatar. Kedua, Blok Pro-Iran terdiri dari Lebanon dan Suriah. Ketiga, Blok Oportunis diisi oleh Mesir.

Jika dicermati, negara-negara di kawasan teluk bersibuk diri mengamankan kepentingan mereka atas pengaruh Iran di kawasan. Blok Pro Arabian (anti iran) menganggap keterbukaan Iran sebagai ancaman hegemoni mereka di kawasan. Alasan Turki mengambil sikap anti-Iran lebih didasari faktor ekonomi. Dikutip dari tirto.id, Selama Iran-AS bersitegang, Turki memainkan peran sebagai jalur perdagangan alternatif, sehingga normalisasi hubungan Teheran-Washington dinilai bakal mengancam kepentingan ekonomi Ankara. Terlebih lagi muncul kesepakatan dagang antara Teheran dan tiga perusahaan minyak dunia, yang salah satunya berwujud pembangunan infrastruktur pipa migas.

Blok kedua, Pro-Iran, sikap keterbukaan Iran ini dinilai akan menggeser posisi Arab Saudi dan Israel di kawasan timur tengah. Negeri-negeri dalam blok ini terus mempromosikan Iran sebagai aktor utama kebangkitan islam tanpa pengaruh AS dan Israel. Blok ketiga oportunis Mesir, di satu sisi Mesir menolak kesepakatan nuklir karena eratnya hubungan ekonomi dengan Arab Saudi. Di sisi lain, Mesir juga berambisi memegang kepemimpinan di kawasan timur tengah.

Baca Juga:  Nestapa Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen di Era Kepemimpinan Jokowi-JK

Timur Tengah Jadi Rebutan

Tak dipungkiri, berbagai konflik yang terjadi di timur tengah tak lepas dari berbagai kepentingan, baik kepentingan nasional masing-masing negara di kawasan ataupun kepentingan ideologi yang dimainkan oleh barat dan musuh islam. Wajah Iran di masa kejayaan islam dulu menjadi salah satu pusat peradaban islam. Disinilah lahir imam dan ulama besar yang tercatat sepanjang sejarah, sebut saja Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Al Ghazali, Imam Al Baihaqi. Mereka adalah sebagian ulama mu’tabar yang menjadi rujukan khazanah keilmuan islam. Namun, wajah Iran yang dulu menggelegar di pentas dunia tenggelam oleh perpecahan sekte agama Sunni – Syi’ah yang memunculkan ketegangan diantara negara-negara teluk.

Saling berebut pengaruh di kawasan timur tengah, lalu terpecah karena sekte agama tentu suatu hal yang meguntungkan bagi negara barat untuk memainkan peran lebih. Keributan dan perseteruan di kawasan timur tengah menjadi hal menarik bagi mereka. Mengapa? Karena dengan itulah mereka mudah mengendalikan hegemoni dan kepentingan mereka.

Hal itu terlihat dari dukungan dan keterlibatan negara barat terhadap negara yang tengah bermusuhan di kawasan tersebut. Wajah negeri muslim tak akan berubah selama ada kepentingan barat yang mendominasi mereka. Konflik kekuasaan, SDA, dan isu agama akan terus dibunyikan. Berharap kebangkitan islam di tengah perpecahan tubuh umat islam menjadi hal yang sulit diwujudkan.

*Chusnatul Jannah, penulis aktif di Lingkar Studi Perempuan Peradaban

Loading...

Terpopuler