Connect with us

Kesehatan

Gangguan Kesehatan Reproduksi Rentan Mendera Perempuan Korban Bencana

Published

on

Kepala Subdit Kesehatan Usia Reproduksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Dr. Lovely Daisy sedang menandatangai nota kesepahaman bersama Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia, Pfizer Indonesia, Direct Relief, dan Wahana Visi Indonesia. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Achmad S)

Kepala Subdit Kesehatan Usia Reproduksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Dr. Lovely Daisy sedang menandatangai nota kesepahaman bersama Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia, Pfizer Indonesia, Direct Relief, dan Wahana Visi Indonesia. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Achmad S)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Perlindungan dan kesehatan ibu dan anak pasca tsunami dan gempa merupakan permasalahan penting yang membutuhkan dukungan. Akhir September lalu, gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter dan tsunami menghantam Sulawesi Tengah dan menyebabkan kerusakan parah pada ribuan rumah, jalan, dan jembatan. Lebih dari 200 ribu penduduk harus menjadi pengungsi di 122 lokasi evakuasi, diantaranya adalah ibu dan anak-anak.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama mitranya Yayasan Sayangi Tunas Cilik bekerja sama melakukan identifikasi dan reunifikasi anak-anak yang terpisah; menyediakan bantuan psikologis bagi anak dengan membangun ruang ramah anak serta distribusi perlengkapan sekolah dan bahan untuk perawatan ibu anak (selimut, pakaian, kelambu, dll).

Baca: Isu Krusial Pasca Tsunami dan Gempa: Perlindungan dan Kesehatan Anak

Kepala Subdit Kesehatan Usia Reproduksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Dr. Lovely Daisy, MKM. Selain karena mengalami trauma dan diare, para perempuan korban bencana alam juga rentan mengalami masalah kesehatan pada reproduksinya.

Masalah reproduksi yang dialami para perempuan korban bencana alam, kata Dokter Lovely, disebabkan karena tidak terpenuhi kebutuhan primernya ketika sedang menstruasi.

“Perempuan itu kan mengalami menstruasi, ketika bencana alam terjadi, mereka akan sulit aksesnya untuk mendapatkan pembalut, kemudian ke toilet juga pasti akan sulit, itu akan berpengaruh pada kesehatan reproduksi,” katanya saat menghadiri Diskusi: Dukungan Bersama bagi Anak-anak Korban Bencana di Sulawesi Tengah, di Tjikini Lima resto, Jl. Cikini 1 No.5, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (21/11/ 2018)

Baca Juga:  Arief Poyuono: Tenaga Kerja Asing Bisa Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

Dokter Lovely menjelaskan perempuan saat sedang menstruasi wajib menjaga kebersihan dirinya terutama di bagian intim kewanitaan. Hal itu akan menjadi sulit dilakukan ketika terjadi bencana alam. Sebab, pasti sulit mendapatkan fasilitas dan sebagainya, karena pasti sudah hancur.

Intinya, darah menstruasi pada perempuan bisa menyebabkan infeksi bila tidak ditangani sebagaimana mestinya. Bahkan infeksi itu bisa merambat kemana-mana dan menambah parah.

“Jika sudah mendapatkan pembalut pun harus terpenuhi kebutuhan hariannya. Karena pembalut itu kan harus sering diganti, teorinya seperi itu, bisa dua sampai tiga kali ganti. Darah itu bisa menjadi berkembang biaknya kuman,” jelas Dokter Lovely.

Pada kesempatan tersebut, Yayasan Sayangi Tunas Cilik (Save the Children Indonesia) memberikan penghargaan terhadap The Pfizer Foundation karena telah membantu agar dapat menjangkau lebih banyak anak-anak di Palu dan Donggala.

“Saat ini, kami sedang mempersiapkan suplai perlengkapan yang berkaitan dengan perawatan ibu dan anak. Kami percaya dukungan ini dapat membantu mereka mengatasi kesulitan selama periode pemulihan ini,” kata Ketua Fundraising Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia, Maitra Widantini.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler