Connect with us

Esai

Gagal Itu Soal Pilihan

Published

on

riwayat, jalan simpang, puisi, abdul zaim, kumpulan puisi, nusantaranews

Ilustrasi – Jalan simpang. (Foto: sejambakmawar/nukhatulistiwa)

Gagal Itu Soal Pilihan

Oleh: Indah Noviariesta, pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, alumni jurusan Biologi, Untirta, Banten

Penayangan film Joker yang sangat kontroversial dalam jagat perfilman dunia, membuat para pakar saintis dan neurologi membuka kembali peranan fungsi otak depan (prefrontal korteks) dalam tubuh manusia. Bagian otak depan ini bukan saja berfungsi untuk mengukur kemampuan diri dengan perbandingan kemampuan orang lain, tapi juga mengukur risiko dari tindakan manusia, apakah berdampak baik ataukah buruk di masa yang akan datang. Fungsi motorik dari korteks prefrontal, bahkan dapat memacu intelektualitas manusia pada dimensi rohani dan spiritual yang lebih tinggi. Ia mampu membedakan antara pikiran yang saling tarik-menarik dan bertentangan, bukan saja membedakan mana yang membangun dan merusak, bahkan juga mana yang terbaik dari yang baik.

Bercermin pada kreatifitas Lalu Muhamad Zohri dari Mataram, Lombok, yang mampu melatih kecerdasan ototnya (muscle intelligence) untuk fokus mengasah kecepatannya berlari dan terus berlari sejak masa kanak-kanak dan remaja, hingga kemudian membuahkan hasil yang gemilang dengan menjuarai berbagai lomba lari atletik, termasuk juara dunia lari 100m di Finlandia yang disaksikan jutaan pengunjung di kanal YouTube beberapa waktu lalu.

Dari perspektif lain, kita bisa menarik kesimpulan mengapa seorang pakar sains mampu menggabungkan berbagai unsur penemuan dalam ilmu pengetahuan untuk menciptakan penemuan terbaru. Seorang teknolog mampu memodifikasi perangkat terbaru dari penemuannya berkat gabungan dari berbagai macam unsur penemuan di bidang teknologi. Bahkan, seorang penulis dan intelektual mampu menyerap pemikiran dari berbagai pakar bahasa dan sastra, menggabungkan berbagai informasi dengan cepat, untuk kemudian dikemas menjadi wacana dan esai yang menarik di hati publik.

Prefrontal korteks bukan saja mengendalikan sikap yang tidak jujur dan prilaku negatif dari para koruptor, tetapi juga dapat mengukur betapa absurd, chaos dan kacaunya pemikiran kaum radikalis dan teroris, hingga ketika mereka tak mampu fokus pada satu bidang dan keahlian tertentu, mereka terjebak pada keputusan bahwa Tuhan tidak adil. Pada saat mereka berkeyakinan bahwa tidak ada jalan lain karena dipusingkan oleh banyaknya pintu yang berwarna-warni, mereka berpendapat bahwa dunia ini sesuatu yang kacau, dan bukan “ladang amal” untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketakwaan.

Perkembangan evolusi otak manusia pada mulanya berpangkal dari otak belakang terus meningkat kepada sistem limbik (otak bagian tengah) dan terakhir pada otak depannya. Para pakar neurologi sepakat ada kisaran waktu sekitar 25 tahun untuk mengalami perkembangan yang optimal. Di samping usia balita yang mengalami proses penting dalam pertumbuhan otak, tetapi usia remaja (12-15 tahun) justru mengalami ledangan evolusi yang cukup dahsyat.

Di usia tersebut, seorang remaja senang mencoba-coba sesuatu. Mereka sedang mencari identitas diri, menggali potensi dan keahlian yang menonjol pada dirinya, bahkan terkadang nekat melakukan sesuatu yang berisiko tinggi. Namun demikian, perkembangan terus berlangsung ke arah yang positif hingga menginjak usia 25 tahun. Nah, setelah menginjak tahun ini, kepekaan semakin muncul dalam soal-soal religiusitas, hingga karakteristik yang semakin peka untuk berempati, tepo seliro (adil), dan kematangan dalam agama dan keimanan. Jika kita ingin membangun masyarakat yang unggul dan mampu bersaing dengan peradaban global, mulailah berpikir untuk menumbuhkan prefrontal korteks pada anatomi otak anak-anak didik kita.

Oleh karena itu, Rasulullah pernah menekankan para sahabatnya yang memiliki anak remaja, agar sedapat mungkin mengajari mereka dalam tiga kemampuan yang cukup memasyarakat pada masa itu, yakni ketangkasan memanah, berkuda dan berenang. Terkait dengan itu, seorang pemikir dan cendikiawan muslim Muhammad Abduh menafsirkan kata an-nashiyah dalam Alquran dengan “otak depan” sebagai penyimpan memori, kehormatan, dan erat kaitannya dengan sikap dan karakteristik manusia. Seorang guru besar psikologi dari Universitas Southern California, Adrian Rane pernah mengadakan penelitian khusus pada otak para pelaku teror dan kriminal di Amerika Serikat. Dalam hasil scanning pada otak mereka selalu berhubungan dengan korteks prefrontal yang bermasalah, yakni menunjukkan sel-sel otak yang agresif, temperamental, ingin cepat kaya, serta nafsu dan kehendak yang berlapis-lapis (banyak maunya).

Kelainan secara kejiwaan akibat adanya disfungsi dari korteks prefrontal ditemukan pula pada penderita delusi paranoid hingga skizofrenia (baca: Pikiran Orang Indonesia). Kerusakan pada prefrontal kiri akan membuat seseorang mudah menggerutu, cemas, takut, hingga marah karena persoalan sepele saja. Sedangkan rusaknya prefrontal kanan bisa membuat seseorang selalu riang dan ceria, hingga tertawa terbahak-bahak karena persoalan yang ringan dan kecil saja. Reaksi pikiran tidak terkontrol yang dipicu oleh hubungan thalamus dan amigdala dapat diredam oleh fungsi prefrontal korteks yang baik.

Sebaliknya, jika prefrontal rusak, atau salah satunya mengalami kerusakan, maka emosi bisa menjadi liar dan tak terkendali. Sirkuit prefrontal antara keseimbangan kiri dan kanan itu sangat penting bagi pertumbuhan mental seseorang. Keterkaitan itu dapat menjadi pemandu manusia untuk membuat keputusan-keputusan vital dalam kehidupannya, hingga pada titik fokus apakah keahlian yang digelutinya. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan hasil diagnosa pada tokoh utama film Joker yang sedang hangat menjadi perbincangan publik.

Sirkuit itu juga berkaitan erat dengan apa yang disebut hati nurani, nalar dan akal sehat manusia. Karena itu, Alquran membuat metafora tentang rusaknya otak depan manusia (an-nashiyah) yang diidentikkan dengan goncangnya keseimbangan kosmik, maraknya prilaku dan perbuatan dusta, bohong, korup, yang sejajar dengan kemauan dan hasrat yang berlebih pada kekayaan dan kekuasaan duniawi. Secara implisit dapat pula diartikan bahwa tumpulnya korteks prefrontal pada suatu bangsa dan masyarakat, membuat mereka disibukkan oleh banyak urusan dan kemauan, hingga tak punya daya dan energi untuk fokus pada satu bidang ilmu dan keahlian tertentu.

Dari sisi spiritual, fokus pada satu titik merupakan simbol estetika dan keindahan pada satu kiblat dan arah tujuan manusia, misalnya simbol Piramida di Mesir, Stupa di Borobudur, Pagoda di Ragoon, Zikurrat di Babilonia, Menara Katedral di Eropa, Totem di suku-suku Indian, Kubah di Roma dan Turki, Gunung Olimpia di Yunani, Sion di Israel, Fuji di Jepang, juga Mahameru di India. Bagi pemeluk agama Islam, meskipun berbeda ras, etnik dan bangsa, kita melakukan solat pada satu pusat kosmos dengan mengarahkan kiblat ke bangunan segi empat bernama Ka’bah di pusat kota Makkah al-Mukarromah.

Pada prinsipnya, setiap manusia punya keterbatasan pada satu sisi, dan dianugerahi kelebihan pada sisi yang lain. Ketidaksanggupan untuk fokus pada satu bidang, dilandasi oleh sikap penolakan dan pengingkaran bahwa manusia seakan-akan mampu menguasai segalanya. Padahal, otak manusia punya keterbatasan, dan tidak mampu memahami segala sesuatu menurut kemauan intuisi dan hawa nafsu.

Sekali lagi perlu saya tegasakan, bahwa melimpahnya informasi di era milenial ini membuat seseorang harus mampu menyintesis informasi yang dihadapi, berdasarkan bidang ilmu yang digelutinya. Kemampuan ini juga diperlukan untuk mengintegrasikan berbagai ide menjadi satu kesatuan, dan mengomunikasikannya kepada pihak lain. Dengan kemampuan menyintesis informasi, seseorang dapat mendayagunakan pikiran untuk berpikir kreatif dan inovatif.

Suatu ironi yang layak dilontarkan kepada masyarakat Indonesia. Jika Anda tetap ingin menjadi penonton setia dalam persaingan terbuka di era milenial ini, silakan menutup diri dari perubahan dan transformasi. Meskipun Anda harus meyakini ajaran agama, bahwa kegagalan dan keterpurukan bukanlah disebabkan oleh zaman yang terus berubah, juga bukan karena Tuhan tidak berlaku adil, tetapi karena Anda sendiri yang telah menentukan pilihan kegagalan itu. Bukankah Tuhan sendiri pernah menawarkan pilihan, bahwa Ia akan bertindak sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Nya?

Jika kita percaya dan yakin pada keadilan Tuhan, maka Tuhan pasti menjamin kebahagiaan bagi hidup kita. Hal ini penting bagi tema-tema sentral dalam kesusastraan mutakhir Indonesia. Lihatlah novel Perasaan Orang Banten, ia mampu bersikap independen, dan tidak melulu bergantung pada eksistensialisme Barat yang dianut kebanyakan penulis kita. Ayo, hidupkan terus sikap-sikap optimistis, dan jangan bersikap skeptis dalam memandang kehidupan yang indah ini.

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler