Connect with us

Terbaru

Filsafat Jahiliah Penebar Malapetaka Sosiologisme Modern Bernama Komunisme dan Kapitalisme

Published

on

Kapitalis vs Komunis (Ilustrasi). Foto: Dok. Istimewa

NusantaraNews.co – Ideologi kapitalisme dan komunisme adalah dua ideologi jahiliah modern anti agama yang menjadikan manusia sebagai sumber dan pusat edar kehidupan di dunia [antroposentrisme]. Tuhan bagi kapitalisme adalah urusan individu yang tak boleh diikutkan dalam menata manusia, kehidupan dan pengelolaan bumi. Memisahkan nilai agama dari kehidupan adalah watak kapitalisme, atau sering disebut sebagai sekulerisme. Sementara komunisme, sama sekali tak mengakui eksistensi agama, bahkan Tuhanpun dianggap telah mati. Watak dasar komunisme adalah atheisme.

Dimensi antroposentrisitas kapitalisme dan komunisme adalah [1] upaya pemutusan hubungan manusia dengan metafisika dan agama, [2] menjadikan manusia sebagai sumber kebenaran, keindahan, kesenangan, kekuatan dan kepalsuan, [3] berorientasi duniawi semata yang materialisme. Paradigma humanisme dalam pandangan Barat – sejak Yunani kuno hingga Eropa sekarang – telah diseret ke materialisme dan mengalami nasib serupa dalam liberalisme kaum ensiklopedis, dalam kebudayaan borjuis Barat dan dalam Marxisme.

Karena itu jika kita cermati secara mendalam, maka perilaku masyarakat Barat yang memuja ideologi kapitalisme sekuler dimana agama dinafikan dalam ruang publik dan masyarakat timur pemuja ideologi komunis atheis dimana agama dianggap candu, maka yang terjadi adalah watak dan perilaku masyarakat pemujanya persis seperti kaum jahiliah pra Islam, bahkan tidak jarang lebih bejat lagi.

Kapitalisme merujuk kepada sistem sosial ekonomi yang individualistik dan liberalistik, dimana kepentingan individu diatas segalanya. Karena itu kapitalisme sering juga disebut dengan istilah free enterprise atau private enterprise. Hak milik privat atas alat-alat produksi dan konsumsi [tanah, pabrik, jalan, dll] dengan tujuan menumpuk kekayaan individual adalah karakter utama kapitalisme menurut Milton H Spencer. Konsep ini timbul dari pemikiran filsafat John Locke yang berpendapat bahwa kekayaan adalah hak alamiah dan terlepas dari kekuasaan negara.

Kapitalisme tidak memberikan ajarkan ideologi yang sistematis, namuan memberikan tatanan sosial dan ekonomi yang melawan agama, tetapi secara tidak langsung. Kapitalisme melakukan serangan terhadap agama atas nama ilmu, bukan atas nama kapitalis dan borjuis.

Kapitalisme ekonomi akan menjadikan kesenjangan menganga antara yang kaya dan yang miskin. Kekayaan sebuah negara hanya akan dikuasai oleh segelintir manusia rakus. Sementara dari sisi sosial, sekulerisme akan melahirkan perilaku individual amoral yang jauh dari nilai-nilai agama dengan berlindung dibalik hak asasi manusia sebagai hak individual untuk berbuat apa saja. Kapitalisme sekuler telah membawa self destructive sejak lahir. Worlview kapitalisme dan komunisme yang antietika agama inilah yang kelak menjadi sumber malapetaka sosiologis dunia modern di seluruh aspeknya. Sosiologisme bentukan kapitalisme sekuler dan komunisme atheis adalah kejahatan sistematis yang tak mungkin dimaafkan, sebaliknya harus dimusnahkan.

Tentu saja seorang muslim haram hukumnya memuja kedua ideologi jahiliah modern ini, baik menerapkan maupun menyebarkannya. Sebagai satu contoh, jika jahiliah pra Islam ada ayah membunuh bayi perempuan setelah lahir, namun sekarang bahkan membunuh janin yang masih dalam kandungan karena hasil perzinahan. Ideologi sekulerisme dan komunisme telah menyebabkan kehidupan modern lebih jahiliah dibanding kehidupan jahiliah pada masa sebelum Islam. Ujung dari kedua ideologi ini sebenarnya adalah materialisme, dimana agama dinafikan, sementara materi duniawi ditaruh diatas segalanya. Perilaku manusia pemuja kedua ideologi ini sama sekali tak bersandar kepada nilai etika agama apapun. Kedua ideologi jahiliah modern inilah penebar kezaliman sejati.

Karl Marx pernah mengatakan bahwa agama memberikan suatu bentuk kesadaran diri untuk mereka yang belum mencapai penguasaan diri atau mereka yang telah kehilangan dirinya lagi. Meskipun demikian, agama adalah realisasi suprarasional dari nasib manusia, sebab nasib manusia tidak memiliki eksistensi nyata. Konsekuensinya, memerangi agama berarti memerangi suatu dunia yang didalamnya agama adalah esensi spiritual. Musibah agama mengungkapkan penderitaan sebenarnya, sekaligus memberikan suatu protes terhadapnya. Agama adalah keluh kesah dari wujud yang tiada berdaya, hati dunia yang tak berhati, semangat dari makhluk yang tak bersemangat. Agama adalah candu bagi masyarakat.

Kondisi masyarakat jahiliah akibat penerapan dan pengadopsian ideologi sekulerisme dan komunisme bisa dikaji pada spektrum yang lebih luas yakni aspek politik, budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial. Karena kesalahan fatal cara pandang sekulerisme dan komunisme terhadap konsep kehidupan, manusia dan alam semesta, maka yang lahir adalah berbagai bentuk kezaliman. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qol’ahji menggambarkan kondisi bangsa Arab pra Islam dalam bukunya Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw dengan adanya enam bentuk kezaliman dan kesesatan akibat sistem jahiliah saat itu.

Pertama, kezaliman politik. Mengingat kekuasaan terhadap manusia dimonopoli oleh komunitas tertentu di antara mereka. Komunitas yang memonopoli kekuasaan ini senang memaksakan kehendaknya kepada rakyat, tanpa memberikan hak kepada siapapun untuk mengemukakan pendapatnya dalam menyusun program dan cara kerja penguasa. Di sana telah terjadi perampasan hak rakyat secara masif oleh sentral kekuatan politik negara. Hal ini terutama terjadi pada negara Romawi dan Persia.

Kedua, kezaliman sosial. Mengingat hanya kelas sosial tertentu yang bisa menjadi pemimpin di masyarakat. Di Romawi masyarakat dibagi menjadi dua, yaitu tuan dan hamba, bangsawan dan rakyat jelata. Sehingga di negara Romawi ada dua jenis Undang-undang, untuk kalangan bangsawan disebut dengan istilah undang-undang Romawi, sedangkan untuk daerah kolonial dan rakyat jelata disebut undang-undang proletariat. Di antara dua undang-undang itu terdapat jurang perbedaan yang sangat lebar. Padahal waktu itu negara Romawi merupakan negara yang paling besar perhatiannya terhadap perundang-undangan. Adapun negara Persia perundang-undangannya diambil dari paganisme. Adapun bangsa Arab tidak memiliki undang-undang kecuali aturan etnik yang berbeda-beda. Diantara mereka hanya diikat oleh ikatan etnik ashobiyah jahiliyah yang kerab kali menimbulkan perpecahan dan peperangan.

Ketiga, kezaliman ekonomi. Tumbuh pada masa itu kelas sosial kapitalis yang memiliki kekayaan yang melimpah di satu sisi tapi terdapat pula kelas sosial yang sangat miskin di sisi lain. Hal ini diakibatkan oleh belum terfikirnya pembuatan peraturan pendistribusian kekayaan negara kepada rakyat. Karenanya tumbuh kelas sosial yang kaya (kapitalis) yang rakus dan menzalimi sesama demi memuaskan nafsunya tanpa mengindahkan aturan. Tumbuhlah praktek-praktek ribawi yang sangat menjerat si miskin.

Keempat, kesesatan aqidah. Tidak dikecualikan dari agama dan masyarakat umum, orang-orang Romawi yang beragama Nasrani berkeyakinan bahwa Allah adalah salah satu yang tiga (trinitas), Isa anak Allah dan dalam diri Isa ada dua sifat : Lahut (sifat ketuhanan) dan Nasut (sifat kemanusiaan). Sedangkan orang-orang Persia berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada dua : Ahuramazda (Tuhan kebaikan) dan Ahriman (Tuhan kegelapan). Adapun orang-orang Arab berkeyakinan Tuhan adalah pencipta alam semesta ( QS. Lukman [31] : 25). Namun mereka juga menyembah banyak Tuhan (politeisme) melalui patung-patung. Mereka berkeyakinan bahwa patung-patung itu akan mendekatkan mereka kepada Allah yang ada di langit. Penyimpangan aqidah ini berdampak pada tata cara ibadah yang terkadang sangat irasional. Misalnya sembahyangnya orang Arab paganis berupa siulan dan tepukan, ketika haji dipisahkan antara penduduk asli dan pendatang, ketika tawah penduduk asli perpakaian sedangkan yang pendatang bertelanjang.

Kelima, kesesatan pemikiran. Mengingat akal dibelenggu dan ditutupi cadar hitam, maka tidak dapat melihat dengan jelas, tidak mampu membedakan warna dengan jelas, dan mereka berfikiran lemah yang menganggap batu bisa mendekatkan kepada Allah. Bahkan pemikiran (mindset) mereka sampai pada pemahaman substansi yang terbalik bahwa kezaliman merupakan sarana terbaik untuk menjaga kebenaran ( machiavellisme). Mereka mengatakan gunakan kamu punya senjata, jika kamu tidak ingin binasa, berbuatlah zalim kepada manusia, sebelum manusia menzalimi kita. Mereka menggunakan khufarat (tahayul) untuk mempertahankan kedudukan mereka.

Keenam, kezaliman jiwa. Masyarakat saat itu tidak dibangun di atas asas persaudaraan melainkan pemaksaan dan kepentingan sepihak. Inilah yang kemudian menghilangkan kejernihan jiwanya. Mereka tumbuh menjadi penindas yang lemah. Jiwa mereka menjadi gelap penuh egoisme dan kecongkakan.

Keenam kezaliman dan kesesatan yakni politik, ekonomi, sosial, aqidah, pemikiran dan jiwa kini benar-benar nyata dan dapat dilihat dan dirasakan di tengah kehidupan masyarakat saat ini akibat penerapan ideologi sekulerisme dan komunisme. Maka dengan dakwahnya, Rasulullah secara tegas menolak sistem hukum jahiliah dan menyadarkan bangsa Arab untuk kembali ke jalan Allah yakni sistem hukum Islam. Pemimpin Negara Romawi dan Persia dikirimi surat agar mereka memeluk agama Islam dan meninggalkan sistem jahiliah yang mereka anut selama ini. Tak segan-segan Rasulullah membongkar kebobrokan sistem jahiliyah sampai akar-akarnya dengan membawa dan menawarkan ajaran yang sama sekali baru yakni Islam.

Begitupun kaum muslim hari ini, bukankah kaum muslim adalah pewaris dakwah Rasulullah. Seluruh bentuk kezaliman jahiliah benar-benar nyata terjadi hari ini akibat penerapan sistem jahiliah modern kapitalisme sekuler dan komunisme atheis. Maka langkah dakwahpun hari ini harus persis mengikuti metode Rasulullah. Revolusi pemikiran dan kesadaran masyarakat modern agar mengadopsi ideologi Islam dan memperjuangkannya untuk diterapkan oleh negara dengan cara dakwah damai dan intelektual adalah metode shohih hingga datang pertolongan Allah. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah dimulai dari perubahan pola fikir dan pola sikap masyarakat jahiliah hingga tegaknya daulah Islam.

Ali Syariati melihat di masyarakat terdapat dua wajah Islam, tradisional dan ideologis. Islam tradisional tak lain hanyalah cermin suatu nasionalitas dan semangat kolektif rakyat yang telah ditransformasikan ke dalam simbol, ritus dan tradisi religius. Islam ideologi adalah suatu kepercayaan yang secara sadar dipilih untuk menjawab persoalan dan kebutuhan kehidupan masyarakat. Islam ideologi menggerakkan rakyat dan bangsa untuk mencapai cita-cita luhur yang telah lama diperjuangkan. Islam ideologi akan selalu melihat kondisi politik ekonomi masyarakat di lingkungan zamannya. Islam ideologi merupakan sistem intelektual yang akan melahirkan sistem sosial pengganti kapitalisme dan komunisme berupa kemajuan dan kemuliaan peradaban Islam di bawah daulah Islam yang rahmatan lil’alamin.

Penulis: Dr. Ahmad Sastra, Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia

Terpopuler