Connect with us

Budaya / Seni

Essai: Menulis Sebagai Terapi Batin

Published

on

sajak-sajak, dwi pratiwi, sajak dwi, sajak temu, sajak tak bermakna, sajak sebab, sajak bermuara, sajaka da, sajak bidadari, sajak reaksi rindu, sajak simpati, kumpulan sajak, nusantaranews

Ilustrasi perempuan menulis sajak. (Foto: Galeri Buku Jakarta)

Menulis Sebagai Terapi Batin

Kehidupan berjalan cepat. Sesekali kita melumat kesibukan-kesibukan dari berbagai arah, sehingga tak terasa waktu seperti kilat. Orang-orang makin sibuk dengan dunianya dan keegoisan pun tampak terang. Alhasil, tak sedikit manusia yang mengalami kemurungan dalam hal duniawi. Kata pepatah begini “Besar Pasak daripada Tiang”. Sepakat? Kenapa bisa demikian? padahal, hidup hanya ‘butuh ketenangan dan kenyamanan’ bukan ‘kemewahan’. Dan ketika kita mengejar dunia yang ada hanya kenikmatan yang semu (samar-samar).

Hampir setahun kematian teman-ku yang semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi sorotan para guru dan teman seangkatan. Peristiwa itu amat melekat di hati teman-teman dan sanak saudara. Bahwasanya, dia yang kami kenal baik, ramah, dan pintar. Tetapi, Tuhan mengambilnya dengan cepat. Di usia yang terbilang muda (29 tahun) dia meninggal di ruang ICU. Keluarga amat terpukul dari kejadian itu. Sekalipun semuanya sudah takdir Tuhan. Namun, airmata bersetia mengalir seperti halnya kesetiaan istrinya yang setiap pagi membuatkan sarapan untuk almarhum.

Informasi dari berbagai sumber, katanya almarhum mengidap penyakit darah tinggi yang memang sudah lama dideritanya di usia belasan tahun (kurang lebih semasa SMP). Akhirnya, orangtua almarhum pun amat memanjakan anak laki-laki semata wayangnya. Lalu, setelah terdeteksi penyakit darah tinggi tersebut, almarhum tidak pernah mau opname di Rumah Sakit hanya saja dia meminta rawat jalan. Setelah disepakati, keluarga pun menyetujui. Sebelum menikah, almarhum kondisinya baik. Namun, ketika menikah dan memiliki anak, almarhum kehidupannya lumayan kacau. Berbagai bisnis ia lakukan, dari parfum, mukena/rukuh, dan lain sebagainya. Berkali-kali gagal, pokoknya jatuh bangun bisnis yang ia bangun itu.

Baca Juga:  Beraksi di 10 TKP, Komplotan Maling Ditangkap Resmob Polrestabes Surabaya

Dari persitiwa di atas, kita bisa mengambil beberapa nilai. Salahsatunya kehidupan duniawi, yang seringkali menjadi momok yang menakutkan, barangkali kita menyebutnya ‘hantu di setiap musim’. Mengapa? Sebab, tidak sedikit orang-orang yang kaget ketika masuk dalam kehidupan rumah tangga. So, menulis adalah alternatif yang afdol (utama) dalam rangka mengatasi kemurungan-kemurungan lahir maupun batin.

Loading...

Berikut data komunitas-komunitas menulis di Banyumas baik yang hilir mudik/yang stay di Banyumas; Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia (Ajibarang, Banyumas), Komunitas Pondok Pena (Purwokerto), SKSP Amikom (Purwokerto), Sekolah Kepenulisan IAIN Purwokerto, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP), Komunitas Penyair Institut (KPI), Komunitas Sastra Kopi, Komunitas Sastra Ngapak, Komunis (Komunitas Menulis Sastra), Komunitas Signatur, Komunitas Cipta Gembira, Komunitas Garba Aksara dan seterusnya.

 

 

 

Penulis: Yanwi Mudrikah lahir di Banyumas 12 Agustus. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia. Dia berprofesi sebagai Dosen Tamu di STKIP Darussalam Karangpucung Cilacap. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional. Hampir 2 tahun ini menjadi Juri di Event Hunter Indonesia dan ikut lomba. Buku puisi keduanya yang berjudul Menjadi Tulang Rusukmu lolos dalam Musyawarah Sastrawan Indonesia II (Kemendikbud, Jakarta 2017).

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler