Connect with us

Budaya / Seni

Esai: Sisi Humanisme Bahasa

Published

on

Esai, Sisi Humanisme Bahasa

NUSANTARANEWS.CO – Perkembangan dunia bahasa menjadi hal yang paling hangat untuk diperbincangkan. Manusia dalam hidupnya pasti menghabiskan waktu dengan bahasa. Entah itu bahasa verbal ataupun dengan bahasa non-verbal. Penggunaan bahasa tidak terlepas dari kemauan seorang manusia untuk saling berkomunikasi antara manusia satu dengan manusia yang lain. Bahkan, ketika manusia terlelap dalam tidurnya, mereka tak lepas dari penggunaan bahasa, saat terlelap kemudian mereka berbicara dalam tidur dikarenakan bermimpi atau pun mengigau. Aktivitas manusia dipenuhi dengan bahasa. Sekiranya bahasa pun menjadi sebuah sumber air mata dan darah yang mengucur gara gara menggunakaan bahasa dan permainan kata kata yang berakhir dengan kekecewaan ataupun sakit hati.

Bahasa manusia bisa menggerakan dunia dengan kekuatan dan persuasifnya. Kekuatan mahadahsyat yang dikeluarkan manusia menjadi sebuah magnet yang berlawanan sehingga dapat menjadi gaya tarik menarik antara seorang komunikan dan komunikator. Berangkat dari sinilah bahasa mengambil peranan yang urgen, mengingat semua yang dilakukan seorang manusia adalah bahasa.

Kemampuan bahasa seseorang diperhatikan dari cara mereka menyampaikan sebuah informasi. Ketika seseorang itu telah berhasil menyampaikan informasi secara baik maka, kemampuan bahasanya sudah bisa dikatakan baik pula, namun bila belum bisa menginformasikan dengan baik maka bisa dipastikan bahwa kemampuan bahasa seseorang belum mumpuni.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi bahasa, bahkan banyak hal luar biasa yang dipengaruhi oleh bahasa, salah satunya profesi pengacara, jaksa, sarjana, guru bahkan semua profesi membutuhkan kemahiran bahasa yang mumpuni dalam rangka menunjang pekerjaannya. Sejumlah warga negara seperti Sri Bintang Pamungkas dan Budiman Sudjatmiko, dipenjara karena bahasa. Ini membuktikan bahwa bahasa menjadi sebuah kebutuhan utama dalam kehidupan. Dalam kebutuhan bersosialisasi dalam lingkup umum dan luasnya dalam lingkup berbangsa dan bernegara, karena bahasa merupakan bagian dari tak tertinggalkan dari berdirinya sebuah negara.

Baca Juga:  Pemilu 2019 Disebut Momentum Kebangkitan Emak-Emak

Beberapa tahun lalu, bahasa pejabat negara bertubi-tubi menjadi bulan- bulanan dan kritik pedas kalangan media dan masyarakat Indonesia sendiri.

Loading...

Sebenarnya bahasa adalah cara ampuh dalam ekspansi sebuah informasi, akan tetapi berbagai permasalahan yang dtimbulkan oleh bahasa sendiri juga memiliki dampak yang menjadi pertimbangan.

Pertama, penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja menjadi hal yang digandrungi karena lebih diterima masyarakat dibandingkan dengan bahasa baku yang terkesan kaku dan tidak memasyarakat. Bahasa baku dianggap sulit untuk menjadikan perkenalan menjadi akrab, bisa dikatakan bila bersosialisasi dengan teman akarab lalu menggunakan bahasa baku, maka akan sangat tabu untuk di dengarkan serta terkesan sangat formal. Dengan bahasa gaul menjadikan mereka memiliki gaya bahasa verbal sendiri yang menjadikan mudah dalam berkomunikasi.

Kedua, perilaku masyarakat yang menggunakan bahasa semaunya sendiri sehingga muncul istilah-istilah baru yang maknanya seringkali tak ditemui dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), contohnya pelakor yang sedang melabung eksistensinya. Masyarakat sering mengakronimkan bahasa. Seperti ini juga menjadi masalah. Pasalnya, penggunaan bahasa semaunya sendiri biasanya akan merusak susuan bahasa yang sudah baku. Akan tetapi dengan munculnya istilah ini, perbendaharaan kata akan sangat banyak dan kaya. Ketiga, manusia seringkali menangkap bahwa bahasa adalah semua yang keluar dari mulut. Akan tetapi tidak seperti itu, dikarenakan bahasa memiliki arti yang sangat luas. Bahasa meliputi bahasa verbal serta non verbal. Karena banyak orang hanya memaknai bahasa sebatas sesuatu yang keluar dari mulut, serta masih sedikit yang menganggap bahasa non verbal sebagai bahasa yang sederajat dengan bahasa verbal.

Bahasa adalah segala sesuatu yang menjadikan seseorang itu disebut sebagai manusia yang bersisoalisasi.

Baca Juga:  Desandra, Karya Yeni Amilia

Bahasa dalam tradisi Timur umumnya, yang belum diserbu oleh kolonial modern berarti bergaul. Jadi, bahasa merupakan sebuah kegiatan sosial yang dapat memacu kegiatan positif dimasyarakat. Sebenarnya kemampuan bahasa adalah kemampuan bersama, dikarenakan kemampuan bahasa yang dimiliki sesorang agar bisa memahami satu orang dengan oarang yang lain, bukan hanya keterampilan individual yang tak butuh partner. Bahasa selalu melibatkan orang banyak, yang terpenting adalah lebih dari satu. Oleh sebab itu, orang yang tak pandai bergaul lebih dikatakan tidak pandai berbahasa atau kurang kemampuan dalam berbahasa (Heryanto, 2000: 150)

Sisi Humanisme Bahasa

Kemampuan bahasa seseorang bisa ditentukan dari seberapa ia bisa membawa lingkungan kepada keadaan sosial yang baik. Ketika kita berada pada sebuah komunitas masyarakat yang beraneka ragam dan memiliki keragaman corak bahasa, maka tidak menjadi hal yang diherankan apabila kita menggunakan bahasa yang berwarna warni pula. Sebuah kata bahkan ketika disusun menjadi kalimat yang berkomponen sama, biasanya akan memunculkan makna yang berbeda pula jika diutarakan ke dalam komunitas sosial yang berbeda. Maka, tingkat pengetahuan seseorang juga akan mempengaruhi komunitas sosialnya dan akan mempengaruhi keadaan psikologi dalam berbahasa seseorang.

Berangkat dari sinilah, bahasa tidak bisa dianggap remeh, bahkan bahasa seharusnya dapat menduduki peringkat teratas dalam tata cara kemasyarakatan yang baik. Tata cara kemanusiaan dengan cara memanusiakan manusia seperti berbincang atau dengan komunikasi non verbal dengan menganggukan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain, menjadi sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan dari sisi kemusiaan di sekitar kita yang mana itu semua mencakup bahasa, baik bahasa verbal maupun non verbal. Bahasa manusia terkadang berkaitan dengan isyarat yang dapat dijadikan sebagai alat menyampaian kondisi yang sedang dialami oleh seseorang.

Baca Juga:  One Day Bersama KCM di Wisata Bukit Tinggi Sumenep

Berbahasa dengan baik dan benar akan memberikan dampak positif bagi penerima informasi, keadaan ini akan menempatkan sebuah infromasi menjadi mudah untuk ditangkap, sehingga menjanjikan pergaulan yang baik pula di antara komponen informasi tersebut.

Kemahiran berbahasa dengan interaksi masyarakat sekitar dilihat dari sisi kemanusiaan.

Berbahasa yang sesuai dengan kaidah memang sangat dianjurakan, dikarenakan ini akan menumbuhkan hubungan saling menghargai diantara seseorang dengan orang lain. Berbahasa (bergaul) dapat menciptakan makna-makna yang kemudian terus dikembangkan menjadi sebuah kebudayaan yang saling memanusiakan dengan bahasa.

Bahasa yang menumbuhkan kebaikan akan membawa kepada perubahan. Menciptakan makna makna dalam kehidupan sosial. Apabila timbul masyarakat yang sedang mengalami kesulitan dalam menghadapi serta membina kerjasama antara manusia satu dengan yang lain, maka bahasa hadir membawa aroma harum dalam menyikapi hal ini. Sedangkan, kesulitan-kesulitan dalam berbahasa sendiri biasanya mendapat ketimpangan yang signifikan dalam tataran masyarakat, khususnya pada status dan hubungan antar anggota masyarakat yang sudah semestinya ikut bergaul bersama bahasa. Maka, dari sinilah bahasa sesungguhnya hadir menjadi pencair antara ketimpangan yang tak seimbang tersebut.

Nia Nur Pratiwi, Sisi Humanisme Bahasa; sebuah esai. (Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Nia Nur Pratiwi, Mahasiswa semester 2 prodi MPI yang bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban IAIN Purwokerto. Memiliki karya “Kain Terakhir” yang sudah diterbitkan dalam buku antologi cerpen Luksia (Lembaga Pers JUSTISIA UIN Walisongo)

Loading...

Terpopuler