Budaya / SeniEsai

Esai Bagus Likurnianto: Sastra Islam dan Pendidikan Karakter

NUSANTARANEWS.CO – Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan mendidik yang diperuntukkan mendidik generasi selanjutnya serta bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik.

Salah satu upaya untuk membangun pendidikan karakter adalah dengan bersastra. Contohnya sastra Islam. Allah sendiri sebenarnya telah menjelaskan mengenai pendidikan karakter dalam firmannya surah Luqman ayat 12-14 yang artinya “dan sesungguhnya telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”(12); dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”(13); dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (14).

Terdapat kalimat perintah bersyukur dan berbuat baik kepada kedua orang tua serta larangan mempersekutukan Allah. Hal itu merupakan konsep pendidikan karakter yang dijelaskan dalam al-Qur’an bahwasannya manusia diperintahkan agar memiliki karakter syukur, berbhakti kepada kedua orang tua serta kukuh iman terhadap Allah SWT. Untuk itulah sastra Islam diperlukan untuk menyampaikan pendidikan karakter sebagaimana yang telah di teladankan dalam al-Qur’an.

Hanifa menyatakan, Kesusastraan Islam telah mempengaruhi manusia untuk mengabdi kepada Allah. Lihat saja apa yang telah ada dalam karangan Islami yang populer seperti, 99 Cahaya di Langit Eropa, Negeri 5 Menara, Hafalan Sholat Delisa dan lain sebagainya. Karya-karya tersebut merupakan bentuk syi’ar dan abdi manusia kepada Allah serta mengungkap kenyataan. Penulis menggunakan tulisannya sekaligus mengajarkan karakter Islami yang dituangkan dalam karya mereka.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Memang benar yang dikatakan Hanifa di atas. Selain mempengaruhi daya abdi, sastra mampu mengungkapkan realita. Hal itu juga terdapat dalam kebanyakan karangan sastra Islam. Sastrawan muslim memang tidak secara langsung menyabutkan karangan mereka sebagai karangan Islami meskipun isi kandunganya bernapaskan Islam. Mereka enggan mengatakannya karena memang mereka ingin karyanya itu “betul-betul” menjadi sorotan tidak hanya untuk umat muslim saja melainkan sebagai media dakwah kepada non-muslim. Dengan itulah kekuatan dakwah dalam sastra Islam dibuktikan.

Mendidik generasi muda berlandaskan akhlak Islam merupakan ide yang brilian. Sastra Islam dikatakan sebagai seni yang berlandaskan akhlak dan digunakan sebagai media dakwah. Oleh karena itu, perlu dikembangkannya sastra Islam sebagai media pendidikan. Karena lewat sastra Islam ini, karakter generasi muda menikmati pendidikan akhlak secara tidak langsung.

Mengenai masalah keagamaan atau relijiusitas dalam realitas sosial yang ada, Sumandiyo Hadi berpendapat mengenai hal ini bahwa sifat mengkaji pola sosial berskala besar, yaitu melihat realitas sosial pada tingkat makroskopik, memusatkan perhatian kepada masyarakat secara keseluruhan mengenai bagaimana mereka menganggap kesadaran beragama. Untuk mengkaji fenomena itu kita harus berusaha memahami pendapat, sikap, dan cita-cita bagaimana masyarakat (umat) sendiri memandang religiusitas. Mengenai pemahaman masalah keagamaan atau religiusitas memang harus dikaji dalam lingkup yang luas karena permasalahannya berhubungan dengan realitas sosial yang ada dan pendidikan karakter itu ditujukan guna menyempurnakan suatu individu ke arah yang lebih baik (Hadi, 2006: 32).

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Kemudian mengenai sastra dalam kepenyairan, “penyair yang betul-betul penyair tidaklah tinggal diam, dengan sendirinya dia memperkaya batin, memperkaya kemampuan bahasa, kemampuan imajinasi keaspekannya”, begitu kata Abdul Wachid B.S. Dalam diri seorang penyair, terutama penyair Islam tentunya kebanyakan mereka juga memperkaya batin, kemampuan berbahasa, dan aspek imajinasi. Lihat saja karya-karya penyair Islami yang ada, sudah pasti dapat terlihat wacana dengan aspek imajinasi yang mampu membawa kita sampai pada perasaan dengan kemampuan bahasa yang mumpuni dalam hal kepenyairan (Wachid BS, 2005: 126).

Lihat sajak Abdul Wachid B.S. di bawah ini:

AIRMATA

airmata itulah yang
akan menjadi saksi
kembalinya ruh
ke dalam tubuh

di tepian muara
di sebuah taman yang
mahaluas batas antara
mataair dan airmata

Yogyakarta, 19 juli 2014

Terdapat kalimat pendidikan Islam di dalam kutipan syair di atas yang menjelaskan mengenai hari perhitungan setelah kehidupan di dunia. Dari kutipan tersebut juga dapatlah kita ambil sisi pendidikannya yaitu bahwasannya suatu saat nanti di akhirat kita akan dibangkitkan kembali menghadap pertanggungjawaban di padang mahsyar. Jadi, syair tersebut berusaha memberi tahu kita agar kita mampu sedari dini mempersiapkan diri menghadapi akhirat nanti. Syair tersebut mendidik manusia agar manusia dapat memiliki karakter yang baik. Sehingga kelak pada hari perhitungan kita sudah bersiap dengan bekal yang cukup.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Sastra Islam itu sendiri sedari awal sudah bisa dikatakan mampu menjadi sarana yang membawa generasi muda kepada pendidikan karakter. Permasalahannya adalah mau atau tidaknya generasi muda membaca dan memahami karya sastra tersebut. Namun sayangnya, kebanyakan generasi muda sekarang masih belum mau mengarah kepada sastra yang bernuansa Islam tersebut. Selagi masih banyak yang enggan membaca, maka sastra Islam pun masih belum mampu berpegang kepada pendidikan karakter. Jadi, masalahannya bukan pada sastra Islamnya melainkan pada generasi yang enggan membaca dan memahami sastra Islam.

Terlepas dari permasalahan di atas, tentu kita tidak dapat melalaikan karakteristik sastra Islam itu sendiri. Untuk memberikan ajaran pendidikan karakter, penyair selain memberikan nilai pendidikan juga dituntut memiliki konsistensi terhadap karyanya, membawakan pesan moral terhadap pembaca, mudah dipahami oleh khalayak, tegas dan jelas dalam penyampaiannya, yang ditulis merupakan kejadian nyata, serta optimis bahwa karyanya mampu mengarahkan kepada generasi muda agar memiliki karakter akhlak yang baik.

Untuk itu penulis berharap kepada penyair bernuansa Islam agar lebih bersemangat lagi dalam menarik minat baca generasi muda sehingga mampu memberikan pendidikan karakter yang diberikan melalui karyanya. Tidak hanya pada sastrawan saja yang perlu mengembangkan hal demikian. Khususnya untuk bibit generasi penerus juga perlu mempersiapkan semangatnya lebih dini agar suatu saat nanti juga mampu memberikan pendidikan karakter bangsa melalui karya sastranya.

Bagus Likurnianto
Bagus Likurnianto

Bagus Likurnianto adalah esais kelahiran Banjarnegara 9 Januari 1999. Dia masih berstatus mahasiswa semester 2 Jurusan Pendidikan Agama Islam & Bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Perdaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Bagus menggemari baca dan menulis

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 6