Connect with us

Mancanegara

Energi Angin dan Matahari Semakin Nyata

Published

on

Turbin Angin

NUSANTARANEWS.CO – Teknologi energi bersih sudah semakin menunjukkan kenyataan karena teknologi seperti turbin angin telah mulai merambah pasar.

Itulah kesimpulan Bloomberg New Energy Finance (BNEF) yang didirikan Michael Liebreich. Ia memperkirakan bahwa energi bersih akan mendapatkan jatah sebanyak 86 persen dari 10,2 triliun yang kemungkinan akan diivestasikan dalam pembangkit listrik pada tahun 2040 mendatang.

Dalam sebuah presentasi koferensi kelompok peneliti di London pada Selasa (20/9) seperti dilansir Independent, Liebreich mengatakan teknologi angin (turbin angin) dan matahari (panel surya) tak terelakkan, bahwa energi bersih akan menjadi lebih ekonomis daripada bahan bakar fosil untuk utilitas di banyak tempat. Kemajuan paling pesat adalah skala turbin angin.

BNEF sendiri dilaporkna telah mengamati kecenderungan tersebut sejak 2004 silam. Untuk turbin angin, mereka melihat pertumbuahannya dengan model yang direncanakan oleh Siemens dan VESTAS Wind System yang telah merancang rentang sayap lebih besar pada jetbander kelas Airbus A380.

Selanjutnya, Jerman telah mengembangkan turbin angin di lepas pantainya untuk kebutuhan penyediaan listrik tanpa subsidi.

Energi listrik yang dihasilkan angin dan sinar matahari tentu saja lebih bersih dan ekonomis. Sehingga, Liebreich memprediksi beberapa tahun ke depan pembangkit listrik yang menggunakan gas alam dan batubara akan tak lagi menarik. Selain tak ramah lingkungan, tetapi juga semakin mahal. “Angin dan matahari lebih murah,” kata dia.

Baca Juga:  Batubara Masih Primadona, Jonan Klaim Tak Lagi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Pulau Jawa

Jepang, India, Jerman dan China diprediksi akan menjadi negara-negara yang paling terdepan memanfaatkan energi angin dan matahari beberapa tahun ke depan. Jepang berusaha menerapkannya pada 2025, Jerman dan India pada tahun 2030.

Meski demikian, BNEF masih belum bisa memastikan kapan energi terbarukan bisa menggantikan bahan bakar fosil karena biayanya sangat bervariasi di negara satu ke negara lainnya. China bahkan baru-baru ini masih belum bisa memastikan kapan mereka mengalihkan dieselnya ke tenaga listrik untuk kendaraan roda empat.

Liebreich menegaskan, dari sisi ekonomi energi angin dan matahari akan bertahan sangat kuat karena batubara tidak mungkin bertahan pada posisi dominannya dalam skala global.

“Ini akan segera terjadi. Batubara sedang menurun di AS. Takkan ada yang akan mampu membuat batubara bertahan lagi,” katanya. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Loading...

Terpopuler