Ekpedisi Melacak Jejak Perang Aceh 1873 dan Tewasnya Kohler

Ekpedisi melacak jejak Perang Aceh 1873 dan tewasnya Kohler
Ekpedisi melacak jejak Perang Aceh 1873 dan tewasnya Kohler

NUSANTARANEWS.CO, Banda Aceh – Pada 26 Maret 1873 Ultimatum Perang dikirimkan oleh Belanda kepada Sultan Aceh. Ultimatum ditolak Sultan dan Panglima Polem Cut Banta. Akhirnya Pasukan Aceh bersiap Teuku Kali Malikon Ade mempertahankan Kuta Meugat dan Pejuang Aceh mempertahankan Kuta Pante Ceureumen Ulee Lheu. Serangan kapal laut dibalas bertubi-tubi dari Aceh barulah 8 April 1873 Belanda mendarat besar-besaran di Kawasan Pante Cermin.

“Menurut Informasi yang didapatkan dari masyarakat Ulee Lheue kalau pelabuhan Ulee lheu dulu adalah Kuta Pante Cermin. Tak jauh dari jembatan Ulee lheue di dalam air juga terdapat reruntuhan dan bebatuan yang diperkirakan Kuta Meugat. Setelah tsunami kawasan Ini penuh air namun berbeda kondisinya dengan 149 tahun sebelumnya – kawasan ini adalah kawasan pantai berpasir,” kata Muammar Al Farisi Koordinator Peusaba yang meneliti jejak Agresi Pertama Belanda di Aceh tahun 1873.

Setelah terjadi pertempuran dahsyat dan mati-matian oleh para pejuang Aceh maka Syahid Teungku Imuem Lamkrak dan Rama Setia. Belanda lalu menuju kawasan Maharaja Kuta Pahang yang sekarang terletak di Gampong Alue Deah Teungoh. Pada zaman dulu para pangeran diletakkan dibeberapa Kuta seperti Pocut Kleng putra Sultan Ahmad Syah (1727-1735) yang menguasai Kuta Pahang.

Makam Maharaja Gampong Pahang masih ditemukan meski dipenuhi semak-semak sedangkan Kuta Maharaja Gampong Pahang sudah lama dihancurkan Belanda.

Pihak Aceh sudah sejak lama memperhitungkan Belanda akan datang ke Aceh makanya ibukota diperkuat di Kuta Pantai Cermin, Kuta Meugat, Kuta Bugeh, Kuta Rantang, Kuta Pocut, Lampoh Tube Poteu Jeumaloy, Kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, dan Kuta Gunongan serta Istana Darud Donya.

Dalam perang Dahsyat Belanda sampai ke Kawasan Peukan Lampaseh dari Lampaseh ke Keudah dan Merduati serangan langsung diarahkan Ke Mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh Darussalam.

Ibukota dipertahankan oleh tiga panglima perang tangguh Teuku Imuem Luengbata, Teuku Nanta Setia, dan Teuku Ce’ atau Teuku Ibrahim Lamnga.

Pertempuran dahsyat terjadi di Mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh dan Lampoh Teube Poteu Jeumaloy atau Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail (1703-1726). Basis pasukan pertahanan di Lampoh Teube Poteu Jeumaloy berhasil mempersempit gerakan Belanda sehingga terpojok dalam upaya merebut mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh. Belanda akhirnya kalah, dipukul mundur dengan meninggalkan mesjid Raya yang terbakar akibat tembakan meriam dan peluru api.

Tanggal 14 April 1873 Belanda datang kembali dengan kekuatan besar-besaran sehingga terjadi pertempuran yang amat dahsyat. Banyak pasukan Belanda terbunuh dan pasukan Aceh mati syahid di Mesjid Raya Baiturrahman dan Lampoh Teube Kawasan Pemakaman Poteu Jeumaloy yang menjadi arena perang.

Ketika peluru sniper Aceh mengenai Dada Kohler yang sedang meneropong ke kawasan Istana, pasukan Belanda terkejut dan kocar-kacir, beberapa personil yang berhasil ditangkap kemudian dikonfirmasi: “Beutoi Jih Keunong” (benar Kohler yang kena). Dijawab. “Ya!” oleh pasukan Belanda yang ditangkap pasukan kesultanan Aceh. Kemudian para tawanan perang itu dilepaskan. Karena kalah, Belanda melarikan diri dari Aceh, demikian penjelasan Muammar Al Farisi.

Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman meminta pemerintah “Agar menjaga situs penting perang Aceh Belanda agar generasi muda tahu sejarah Aceh. Banyak sekali orang membaca sejarah Aceh dan kehebatan perang Aceh namun banyak yang tidak tahu lokasi perang Aceh melawan Belanda. Makanya kedepan perlu pembinaan edukasi sejarah dan wisata titik perang Aceh Belanda kepada generasi muda Aceh,” tutup ketua Peusaba Aceh. (MG)

Kontributor/Pewarta: Mawardi Usman, Ketua Peusaba Aceh