Ekspoitasi Tambang batubara/Ilustrasi/Net
Ekspoitasi Tambang batubara/Ilustrasi/Net

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Untuk membedah kasus pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2017 yang gagal mencapai target, pendekatan ekonomi makro bisa menjadi pisau analisis. Mengapa? Situasi ekonomi global saat ini bisa menjadi penentu gagal tidaknya pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Apalagi dalam konteks ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani kerap menggunakan ekonomi makro sebagai strategi untuk mendongkrak ekonomi dalam negeri. Dalam kasus growth ekonomi nasional yang gagal tembus target ada beberapa indikator.

Indikator pertama terkait dengan turunnya harga minyak dunia, yang memicu growth ekonomi nasional turun. Akhir-akhir ini harga minyak dunia sudah jatuh hingga level US$ 50, yang beberapa tahun sebelumnya sempat menyentuh harga US$ 100.

Penting diketahui, sektor minyak adalah salah satu komoditi andalan ekspor Indonesia. Dengan menurunnya harga minyak, maka menurun pula penghasilan dalam negeri. Praksis situasi itu akan mempengaruhi pola konsumsi dalam negeri.

Baca Juga:
Daya Beli Menurun Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Gagal Capai Target
Zakat PNS Muslim Alternatif Tutupi Kelesuan Ekonomi Indonesia
Ekonomi Indonesia, Antara Ambisi dan Prestasi Tak Sebanding

Indikator kedua adalah turunnya harga batu bara dunia. Sebagaimana diketahui, batu bara merupakan salah satu komoditi andalan nasional. Sebagaimana dengan turunnya harga minyak, maka anjloknya harga batu bara memicu pula surutnya penghasilan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara mencatat Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Desember 2017 mengalami penurunan menjadi US$94,04 per ton dari US$94,84 per ton pada bulan sebelumnya, atau turun sekitar 0,8%.

Dua indikator ini bisa berbuntut panjang terhadap ekonomi mikro Indonesia. Menyebabkan daya beli menurun, bergugurannya satu persatu sektor ritel dan menghentikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dimana dalam setahun, pertumbuhan PDB Indonesia di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya mentok di level 8,6%. Jumlah ini adalah jumlah terendah sepanjang kepemimpinan presiden-presiden RI sebelumnya. Dengan kata lain, paket kebijakan ekonomi yang dibangga-banggakan pemerintahan Jokowi-JK serta yang diklaim sukses ternyata tak berbanding lurus, antara ambisi dan prestasi.

Editor: Romandhon

Komentar