Connect with us

Berita Utama

Ekonom Sangsikan Penurunan Daya Beli Disebut Faktor Lesunya Perekonomian

Published

on

akar Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal. Foto: Dok. Dakta.com

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ekonom Sangsikan Penurunan Daya Beli Disebut Faktor Lesunya Perekonomian. Perkonomian Indonesia semakin hari dinilai semakin lesu. Sejumlah pihak menilai kelesuan yang terjadi akibat turunnya daya beli masyarakat menurun. Namun demikian, Pakar Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut bahwa penurunan daya beli masyarakat tidak memberikan pengaruh terhadap kelesuan ekononi yang akut itu.

“Saya ingin menanggapi beberapa pendapat yang menyatakan bahwa kelesuan ekonomi saat ini tidak ada hubungannya dengan penurunan daya beli masyarakat,” kata Faisal dalam pesan singkat berantainya, Sabtu, 29 Juli 2017.

Faisal mempertanyakan, apa benar daya beli masyarakat Indonesia turun? Berdasarkan data yang diterbitkan BPS (Badan Pusat Statistik), kata dia, selama lebih dari satu tahun terakhir terjadi penurunan pendapatan riil, khususnya masyarakat berpendapatan rendah, terutama di perkotaan.

“Buruh bangunan, misalnya, meski secara nominal rata-rata upah mereka mengalami kenaikan, tapi inflasi yang selama semester pertama 2017 mencapai 2,4 persen membuat pendapatan riil mereka tergerus 1,4 persen,” ungkapnya.

Hal tersebut, kata Faisal, praktis mematahkan argumen pemerintah bahwa inflasi tahun ini terkendali. Benar bahwa inflasi bahan pangan (volatile food) tahun ini sangat rendah, tapi kenaikan harga-harga kebutuhan hidup yang diatur oleh pemerintah (administered prices) seperti tarif dasar listrik, gas elpiji, dll., justru mendorong inflasi selama 6 bulan pertama tahun ini lebih tinggi dua kali lipat dibanding inflasi di periode yang sama tahun lalu.

Ekonom CORE itu mempertanyakan pula perihal kelesuan penjualan yang disebut-sebut sebagai akibat dari penurunan daya beli. Menurut dia, penurunan penjualan di banyak sektor memang bukan hanya disebabkan oleh melemahnya daya beli, apalagi oleh golongan berpendapatan bawah yang memang daya belinya lemah. Penyebab yang lebih penting adalah lantaran golongan kelas menengah menahan belanjanya (delayed purchase).

Baca Juga:  Daya Beli Menurun, Infrastruktur Picu Hutang Negara Numpuk

“Buktinya, kalau kita melihat data pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan selama 9 bulan terakhir sebenarnya meningkat. Namun peningkatan DPK ini terjadi pada simpanan jangka panjang (deposito) dan giro, sebaliknya DPK dalam bentuk tabungan jangka pendek melambat. Artinya, mereka yang menyimpan uang bank cenderung untuk semakin membatasi belanjanya dalam waktu dekat,” jelas Faisal.

Dia menunjukkan betapa pertumbuhan DPK dalam valuta asing dalam 9 bulan terakhir juga jauh lebih cepat daripada dalam Rupiah. “Ini terjadi sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia dan peningkatan harga sejumlah komoditas andalan Indonesia yang mendorong aktivitas ekspor-impor dalam 9 bulan terakhir,” imbuh dia..

Sayangnya, kata dia, peningkatan pendapatan tersebut tidak lantas ditransmisikan ke konsumsi di dalam negeri. “Mengapa? Salah satu alasannya adalah berkurangnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Hasil survey Bank Indonesia di bulan Juni menunjukkan kembali melemahnya indeks ekspektasi dan kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi dan daya beli selama 6 bulan ke depan, meskipun sempat menguat di awal tahun,” jelas dia lagi.

Berdasarkan pengamatan di atas, kemunkinan besar atau sebaliknya, kata Faisal, kelesuan ekonomi Indonesia bukan karena faktor disruptive economy. Artinya, tambah dia, Maraknya e-commerce memang berperan terhadap berkurangnya pelanggan di pertokoan dan pusat perbelanjaan.

“Tapi kalaulah hanya itu penyebabnya, maka semestinya dampaknya hanya pada sisi hilirnya, yaitu para retailers, tidak sampai ke hulu (produsen). Namun faktanya, bukan hanya pertokoan dan mal-mal, tetapi pabrik-pabrik pengolahan juga menahan produksi. Perlambatan produksi sudah terjadi di banyak industri, mulai dari industri pakaian, peralatan listrik, sepeda motor, farmasi, plastik, bahkan juga sudah merambah ke sejumlah industri makanan dan minuman,” kata Faisal.

Artinya, sambung dia, bukan hanya cara membelinya yang bergeser, tetapi permintaan juga melemah, sehingga produksi pun terpaksa ditahan, bahkan dikurangi. “Kita semua tentu sangat tidak berharap terjadi penurunan daya beli dan kelesuan ekonomi, namun sebagai analis dan akademisi kita harus menyampaikan fakta dengan jujur agar kebijakan pemerintah yang sedang giat mendorong ekonomi tidak misleading,” tandas Faisal.

Baca Juga:  Telaah Kritis: Kurs Dolar Menuju Rp16.000

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler