Connect with us

Ekonomi

Ekonom: Perekonomian Indonesia Cenderung Tertutup dan Gunakan Strategi Bertahan

Published

on

Faisal Basri, Pengamat Ekonomi/Foto Andika

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ekonom senior Faisal Basri mengatakan perekonomian Indonesia cenderung semakin tertutup. Jika diibaratkan dalam dunia sepakbola, pemerintah cenderung menerapkan strategi bertahan.

“Padahal, strategi menyerang lebih menjanjikan ketimbang bertahan. Tengok kompetisi sepakbola paling bergensi di dunia, Premier League di Inggris dan La Liga Santander di Spanyol. Pemenang di kedua liga ialah Chelsea (Liga Inggris) dan Real Madrid (Liga Spanyol). Penyandang gerar juara atau setidaknya runner-up adalah klub yang paling banyak membobolkan gawang lawan, bukan yang paling sedikit kebobolan,” kata Fasial dikutip keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (30/12/2017).

Ia mengatakan, kenyataan menunjukkan Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang perekonomiannya semakin tertutup. “Terlepas dari perbedaan ideologi, jumlah penduduk, negara kaya atau miskin, kondisi geografis dan faktor musim, semua negara semakin membuka diri. Indonesia justru sebaliknya,” katanya.

Faisal menjelaskan, selama 16 tahun terakhir perekonomian Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin tertutup. Indonesia telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Padahal, sejarah panjang Nusantara membuktikan keterbukaanlah yang membuat Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit berjaya. Bahkan, jauh sebelumnya, pada abad kedua, warga Nusantau (sebelum berubah menjadi Nusantara) telah menjejakkan kaki di benua Afrika dengan menggunakan kapal dan sistem navigasi buatan sendiri.

“Taktik bertahan Indonesia tercermin dari penerapan berbagai macam pembatasan perdagangan dan investasi yang jauh lebih banyak ketimpang di negara-negara tetangga dekat,” paparnya.

Ditambahkan Faisal, tidak ada waktu untuk terus bergundah gulana. Saatnya generasi muda membaliknya peruntungan Bangsa ini, memacu diri agar bersejajaran dengan negara lain, menjadi Bangsa yang bermartabat.

“Kita pantas optimistik karena kita telah menyadari kekuarangan dan kesalahan kita. Kita tahu apa yang harus kita perbuat. Kita segera buat peta jalan untuk meraih kejayaan Indonesia. Semoga tidak terlalu lama lagi, ketika kita merayakan seabad merdeka, 2045,” tutupnya. (red)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler