Connect with us

Politik

Efek Global Kasus Floyd dan Kasus Papua

Published

on

Efek Global Kasus Floyd dan Kasus Papua.

Efek Global Kasus Floyd dan Kasus Papua. Sejumlah bagian Minneapolis, Amerika Serikat, hebat terbakar sejak Kamis (28/5) setelah warga setempat turun ke jalan memprotes kematian George Floyd. (Antifa/Suara)

NUSANTARANEWS.CO – Efek Global Kasus Floyd dan Kasus Papua. Dalam sejarah rasisme di dunia, sistem rasialis tidak terjadi dengan sendirinya namun dikonstruksi dengan beberapa alasan karena kepentingan ekonomi dan politik.

Ketidakpahaman mengenai kompleksitas sistem rasialisme berpotensi menimbulkan distrust dan konflik. Salah satu kasus yang muncul beberapa minggu lalu di AS atau kasus Floyd menjadi contoh persoalan perbedaan ras/warna kulit masih potensial menjadi gerakan sosial yang memancing solidaritas ke banyak negara.

Kematian seorang pria berkulit hitam, George Floyd usai leheranya ditindih lutut polisi berkulit putih di Minneapolis menimbulkan kecaman dunia internasional, terlebih di Amerika Serikat sendiri. Puluhan ribu orang turun ke jalan di sejumlah negara di Asia, Australia dan Eropa menyuarakan kemarahan atas kematian Floyd. Mereka juga menentang segala bentuk diskriminasi dan rasisme.

Analis Papua, Adriana Elisabeth mengatakan kekeliruan logika (false binary) dalam kasus ini mengarah pada pemahaman bahwa perbedaan rasial terbatas pada warga kulit padahal yang membedakan adalah perspektif.

“Kasus Floyd berdekatan dengan dua peristiwa di Indonesia terkait hasil putusan PTUN yang mengalahkan Presiden dan Menkominfo atas kebijakan pelambatan/pemutusan internet di Papua dan Papua Barat dalam demo dan kerusuhan berseri tahun 2019. Peristiwa lain adalah tuntutan jaksa terhadap 7 tahanan politik (tapol) di PN Balikpapan,” kata Adriana, Rabu (10/6/2020).

“Apakah rasialis di AS bisa dianalogikan dengan kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada Agustus 2019?,” ucapnya.

Dia berpendapat, terdapat perbedaan akar masalah antara kasus Minesota dan Surabaya karena persoalan Surabaya yang disusul dengan demo dan kerusuhan anti rasisme merupakan akumulasi persoalan masa lalu dan masalah-masalah pembangunan yang belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Papua.

Baca Juga:  Capres Tes Baca Qur'an, BPN: Tidak Perlu Dilakukan

“Dengan kata lain, kasus rasialis yang muncul merupakan percikan api dari bara api yang belum bisa dipadamkan,” sebut Adriana. (eda)

Loading...

Terpopuler