Kolom  

Dua Pilihan Tatanan Kehidupan Bernegara: Berlandaskan Keyakinan-Keagamaan atau Gagasan-Rasional

Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co
Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co

Dua Pilihan Tatanan Kehidupan Bernegara: Berlandaskan Keyakinan-Keagamaan atau Gagasan-Rasional

 

Penulis: Budi Arie Setiadi, Ketua Umum DPP Projo

Hari-hari ini kita dihadapkan pada persoalan-persoalan bagaimana memilih suatu tatanan kehidupan bernegara, apakah yang berlandaskan keyakinan-keagamaan ataukah dilandaskan pada gagasan-rasional. Pilihan pertama tidak banyak menyisakan ruang berdebat dan berpikir karena ukuran-ukurannya sudah ditentukan sedari awal, baik input maupun output ditetapkan secara absolut. Pilihan kedua banyak menyisakan ruang perdebatan, perbedaan pikiran, program-program yang disusun berdasarkan hitungan-ukuran rasio dan bukan pada pertimbangan satu dasar keyakinan dogmatis, melainkan pada program-program dan kinerja sebagai ukuran keberhasilan.

Dua pilihan tersebut bisa dirujuk dengan ‘berkunjung kembali’ kepada gagasan awal menjadikan dan membentuk Indonesia. Memilih Indonesia menjadi republik tentu bukan pilihan asal-comot, atau sekadar meniru-niru mereka ‘yang di seberang barat sana’. Embrio Indonesia lahir dari modernisme dan pencerahan, dari kaum muda berpendidikan. Namun, tidak kehilangan identitas keIndonesiannya. Embrio Indonesia lahir dari keragaman pikiran para ‘kaum muda’ sebagai ‘embrio bangsa’.

Kaum muda melahirkan kebaharuan dalam politik saat itu, dengan melihat bagaimana gagasan memandang diri mereka dan situasi kolonial tempat mereka berada, yakni gagasan-gagasan humanitas, kemajuan dan kesetaraan manusia. Gagasan-gagasan ini yang terus dikumandangkan lewat media-media surat kabar dan mendorong terbentuknya suatu kesadaran bersama dalam memandang kolonialisme dan cita-cita pendirian suatu bangsa, suatu kesadaran nasional.

Dari ide-ide dan gagasan para embrio bangsa dibangun suatu paham kebangsaan yang egaliter, menghormati persamaan-persaudaraan dan menjunjung tinggi kebebasan dan kemanusiaan. Pengalaman kolonialisme menjadi pelajaran terhadap bahaya ketimpangan, penindasan, rasialisme dan feodalisme. Sehingga, nilai-nilai tersebut selalu diikat bersama-sama saat menggagas nation yang merdeka dan berdaulat. Keragaman dan pluralisme yang menjadi kondisi yang demikian adanya diperhitungkan dengan cermat sebagai dasar pokok merumuskan suatu tatanan kenegaraan-kebangsaan bernama Indonesia.

Baca Juga:  Angkatan Laut IRGC Akan Dapatkan 3 Kapal Perang Baru Jenis Catamaran

Soekarno merumuskan Pancasila, sebuah dasar negara, sebuah gagasan bernegara. Rumusan dari apa yang menjadi diskursus para embrio bangsa. Suatu rumusan yang merupakan pensejajaran modernitas dan nilai-nilai keindonesiaan. Dalam rumusannya, Soekarno, salah seorang embrio bangsa, menolak feodalisme, rasialisme, fanatisme keagamaan dan monarki dengan mengedepankan nilai-nilai modernitas yakni humanisme, demokrasi, keadilan, nasionalisme sejajar dengan pola-laku khas Indonesia yakni permusyawaratan. Masing-masing nilai yang dirumuskan Soekarno bersifat sama pentingnya, dan tidak ada satu kepentingannya melebihi atau mengatasi yang lain. Para embrio bangsa ini telah meletakkan gagasan dasar bernegara, suatu pembayangan bagaimana menjadi Indonesia.

Sejarah diperlukan bukan karena sensasi politiknya. Juga bukan sebagai sumber keteladanan nilai semata-mata. Tetapi pada percakapan terus menerus tentang kemanusiaan. Keteladanan tidak harus diikatkan pada masa lalu. Ia dapat berada di masa depan yaitu pada ide-ide yang membuka ruang imajinasi peradaban. Cita-cita politik yang menimbulkan toleransi kemanusiaan adalah sejarah sebagai proses terus-menerus untuk menjadi.

Apa yang menjadi ancaman bagi politik adalah ketika nilai-nilai dasar dikompromikan dengan kepentingan satu golongan. Artinya, nilai-nilai dasar diletakkan di bawah kompromi, yang bahayanya, lama-kelamaan hasil-hasil kompromi kepada satu golongan jadi lebih menentukan dari nilai dasar. Kalau terus-menerus demikian, maka upaya menuju Indonesia yang menjadi lebih baik tidak akan pernah tercapai karena nilai-nilai dasar diinjak-injak kompromi kepentingan.

Proses Indonesia yang menjadi suatu tatanan kenegaraan dan kebangsaan demokratis, yang sekarang ini terus-menerus harus kita upayakan. Salah satu upaya kita adalah dengan mencari pemimpin yang bisa menjadi teladan untuk membawa Indonesia ke arah kemajuan dan kesejahteraan. Yang pasti, pemimpin bangsa bukan tipe manajer perusahaan yang dikendalikan seorang investor yang menghitung politik dalam rumus efisiensi untung-rugi. Ia juga bukan bermental spekulan saham yang mengejar margin keuntungan pada sebuah situasi ekonomi kritis untuk kemudian hengkang mencari pasar jangka pendek lain. Pemimpin juga bukan pengecer ayat-ayat suci yang menjanjikan surga eksklusif sambil menebar kebencian pada sesama manusia. Pemimpin adalah pemberi arah hidup sebuah bangsa. Ia menanam nilai untuk dituai orang lain, dalam jangka panjang. Pemimpin tidak berkelahi demi dendam politik, melainkan guru yang sabar mengajarkan keadilan dan kemerdekaan.

Baca Juga:  Puisi-puisi Nuraz Aji

Maka sudah saatnya bangsa Indonesia kembali kepada jalurnya. Yakni pengemban amanat cita-cita yang berlandaskan nilai dasar gagasan bernegara, suatu cita-cita bagi Indonesia yang menjadi rumah bagi semua warga Indonesia, rumah yang nyaman untuk didiami, rumah yang menghidupi. Bukan yang menyingkirkan. Bukan yang mematikan. Para embrio bangsa berpikir, bekerja dan berjuang untuk menjadikan Indonesia. Kita melakukan hal sama untuk Indonesia yang menjadi demokratis, berkeadilan-sosial dan menghormati setiap warga negara yang berdiam di dalamnya

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2019