Connect with us

Mancanegara

Dua Isu Global Paling Berpengaruh di Benua Afrika

Published

on

Dua Isu Sentral Paling Berpengaruh di Afrika

Ilustrasi Perang hibrida sebagai sabotase terhadap proyek Jalur Sutra Baru Global (JSBG) Cina di Afrika.

NUSANTARANEWS.CO – Dua isu global yang paling berpengaruh di benua Afrika saat ini adalah Perang Global Amerika Serikat (AS) Melawan Teroris dan Jalur Sutra Baru (New Silk Road) Global Cina, Inisiatif One Belt One Road. Dua isu global tersebut secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi relasi negara-negara di benua tersebut. Dengan kata lain, kebijakan politik Afrika telah terjebak dalam pusaran arus dua isu global tersebut.

AS dan sekutunya Perancis secara historis telah lama menjajah Afrika. Benua Afrika boleh dikata adalah bekas daerah jajahan Prancis, bahkan sebagian besar benua itu masih dikendalikan dengan gaya neokolonialisme melalui kebijakan ekonomi-militer Françafrique. Sehingga AS, Perancis dan Uni Eropa memiliki pengaruh yang kuat di wilayah bekas jajahannya. Di tambah lagi dengan kebijakan Perang Global melawan teroris – yang memungkinkan AS-Prancis memperluas pengaruh mereka di Afrika.

Pertemuan dua kepentingan tersebut, otomatis menimbulkan gesekan yang mengakibatkan munculnya “perang hibrida”. Perang hibrida ini, secara sederhana dapat digambarkan sebagai konflik identitas yang diprovokasi oleh kekuatan eksternal (AS dan Barat) – yang pada gilirannya mengganggu proyek-proyek transnasional di Afrika. Dengan kata lain, boleh dibilang juga sebagai sabotase terhadap proyek-proyek infrastruktur Jalur Sutra Baru Global (JSBG) Cina.

Terkait denganitu, di sinilah fungsi strategis pangkalan militer Cina di Djibouti, selain sebagai basis perlawanan terhadap perang global melawan teroris – juga berfungsi untuk melindungi proyek-proyek JSBG-nya di Afrika. Sedikitnya ada 5 (lima) proyek utama JSBG Cina yang kini sedang berjalan antara lain: jalur kereta api Djibouti-Addis Ababa, Koridor LAPSSET, Kereta Api Gauge Standar di Kenya, dan Koridor Pusat dan TAZARA di Tanzania – sebagai upaya mengintegrasikan infrastruktur Afrika Timur dalam jaringan Global Silk Road.

Baca: Strategi “Transversal Afrika” Rusia di Abad Ke-21

Dengan demikian, secara makro peta politik Afrika terbelah menjadi dua: pengaruh AS yang terkonsentrasi di Afrika Barat dan ruang Françafrique – sementara Cina lebih fokus di Afrika Timur.

Selain kepentingan AS dan Cina yang lintas benua tersebut, ada juga beberapa negara lain yang terlibat aktif, dan mereka berfokus pada daerah tertentu di Afrika. Uni Eropa aktif di Afrika Utara dan Barat dengan kegiatan anti-teroris dan ekonomi di negara-negara yang berasal dari migran.

Loading...

Jepang hadir di seluruh benua dengan fokus pada pembangunan, bukan geopolitik, meskipun suatu hari nanti bisa saja bekerja sama dengan India untuk bersaing dengan Cina. India adalah “super power” Asia Selatan saingan Cina di seluruh Indo-Pasifik. India aktif di sepanjang pantai Afrika Timur, khususnya Kenya dan Tanzania, dan pembeli utama sumber daya energi dari Nigeria.

Sedangkan Turki, lebih berkonsentrasi di negara-negara Muslim sub-Sahara. Turki juga memiliki pangkalan militer di Somalia sebagai basis soft power model “Demokrasi Islam” di seluruh wilayah, yang pada gilirannya bisa membentuk sebuah lingkungan bisnis yang lebih ramah bagi pengusaha Turki.

Rusia adalah pemain terakhir di Afrika, meski begitu, pijakan strategis Rusia di Afrika tidak dapat diabaikan. Rusia telah mendapatkan kembali pengaruh yang sangat besar di setiap negara Afrika Utara selama beberapa tahun terakhir, dan Rusia juga memiliki hubungan energi, pertambangan, dan militer yang penting dengan beberapa negara bagian Sahara seperti Afrika Selatan, Angola, dan Nigeria.

Baca: Rusia Telah Mengirim ‘Spesialis’ Militer ke Republik Kongo

Pengaruh Rusia belakangan ini meningkat drastis di Arika Utara. Rusia telah memulihkan hubungan era Soviet-nya dengan Mesir, kemudian juga Aljazair serta Maroko sebagai mitra baru. Rusia juga mulai memainkan kartunya di Libya untuk menyeimbangkan konflik di negara tersebut.

Secara keseluruhan, Afrika Utara sedang mengalami periode reorganisasi geostrategis yang mendalam di tengah-tengah risiko ketidakpastian Aljazair, kerusuhan Libya, dan kembalinya terorisme ke Mesir.

Afrika barat sebagian besar berada di bawah pengaruh AS, Prancis, dan UE, dan belakangan mulai mendapat saingan dengan masuknya investasi Cina mulai yang berdampak pada pembentukan kebijakan regional. Sementara Rusia baru melakukan kerjasama bilateral militer dengan Nigeria di tengah persaingan energi yang sedang berlangsung antara Cina dan India.

Afrika barat berada dalam risiko destabilisasi karena banyaknya negara yang rapuh. Terorisme mulai meningkat sejak awal dekade. Pemberontakan Boko Haram, ditambah Al Qaeda dan ISIS telah meramaikan “pasar” konflik di wilayah ini. Aktor-aktor non-negara bersenjata lain pun turut meramaikan pasar konflik ini, seperti Tuareg, kartel narkoba Amerika Selatan, dan pasukan pemberontak lokal – yang telah meningkatkan perdagangan senjata ilegal secara signifikan. Sekaligus memperumit situasi politik di wilayah ini.

Afrika Tengah, adalah pusat kekacauan dari Perang Hibrida yang dilancarkan oleh AS. Republik Demokratik Kongo kini berada di tepi jurang kehancuran akibat perang hibrida habis-habisan – yang merusak konektivitas JSBG Cina di Afrika.

Afrika Timur, terutama raksasa regional Ethiopia, kini telah menjadi pusat JSBG Cina di Afrika, terlepas dari kerentanan konfliknya. Negara-negara Afrika Timur, minus Sudan Selatan, tumbuh dengan mengesankan. Wilayah ini, juga merupakan jalur akses terminal Cina ke Afrika. Ke depan, Afrika Timur mungkin akan menjadi titik fokus persaingan antara Cina dan India.

Afrika bagian selatan, mungkin merupakan wilayah paling stabil di masa lalu, tapi perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa Zimbabwe dan Mozambik terancam oleh potensi instet politik mereka sendiri.

Secara keseluruhan, lintasan kebijakan luar negeri negara-negara Afrika semakin ditentukan oleh posisi mereka terhadap Perang Global AS melawan Teroris dan JSBG Cina. Namun belakangan, Rusia mulai melakukan manuver politik kreatif yang memberikan pilihan alternatif bagi negara-negara Afrika. (Agus Setiawan)

Terpopuler