Berita UtamaHankamMancanegara

Israel Sangat Khawatir Dengan Dominasi Iran Yang Terus Meningkat di Suriah

NUSANTARANEWS.CO – Israel sangat khawatir dengan dominasi Iran yang terus meningkat di Suriah setelah kekalahan ISIS. Seperti dikatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa: Israel tidak bisa menerima kehadiran militer tetap Iran di mana saja di Suriah, termasuk milisi Hizbullah.

Dalam beberapa pekan terakhir, diberitakan bahwa Israel telah melakukan serangan udara terhadap apa yang disebutnya basis militer Iran di Suriah. Bahkan dalam laporan sebelumnya dikabarkan Israel kerap melakukan serangan udara ke sejumlah wilayah Suriah dari wilayah Lebanon.

Diberitakan pula beberapa rudal darat ke darat Israel berhasil dicegat oleh sistem pertahanan anti rudal Suriah, sementara sejumlah rudal lainnya menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah selatan Damaskus, seperti dilaporkan televisi Suriah Al-Ikhbariya.

Namun, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel menolak berkomentar mengenai serangan rudal tersebut, seperti dilansir Sputnik.

Beberapa video yang muncul di media sosial menunjukkan gambar saat rudal Israel tersebut berhasil dicegat oleh pasukan Pertahanan Udara Suriah.

Seperti diketahui hubungan Israel dan Suriah sampai saat ini masih dalam kondisi perang. Israel dan Suriah belum pernah menandatangani sebuah perjanjian damai sejak perang terakhir tahun 1967. Sehingga Netanyahu beralasan bahwa Tel Aviv boleh menyerang Suriah demi keamanannya negaranya.

Baca Juga:  Israel Berikan Dukungan Intelijen Untuk Ukraina, MIG-29 Ukraina Rontok Dihajar Shahed-136

Israel terakhir kali menyerang Suriah pada bulan September 2017, terhadap pasukan Angkatan Darat Suriah di provinsi Hama.

Pada awal November, Amerika Serikat (AS), Rusia dan Yordania mencapai kesepakatan gencatan senjata terbatas di Suriah selatan dengan menghasilkan sebuah Memorandum of Principles (MOP) yang menyerukan agar semua pasukan asing keluar dari Suriah.

Namun, kesepakatan tersebut tidak melarang pasukan militer yang dikendalikan oleh Iran dan Hizbullah ditempatkan di dekat perbatasan Israel dengan Suriah di Dataran Tinggi Golan. Iran mengambil kesempatan gencatan senjata ini untuk mengkonsolidasikan kekuatannya di Suriah.

Sementara Israel langsung mengambil sikap “perang” sebagai alasan untuk mempertahankan diri dan menolak MOP yang mengizinkan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), dan Hizbullah membangun basis militer di dekat Dataran Tinggi Golan di masa mendatang.

Sejak Revolusi Islam pada tahun 1979, Republik Islam Iran telah berusaha untuk mengekspor kehadiran revolusionernya di seluruh wilayah Timur Tengah dalam upaya meningkatkan pengaruhnya di kawasan regional – sekaligus menentang dominasi AS.

Baca Juga:  Militer AS Semakin Giat Menjarah Minyak Suriah di Tengah Krisis Energi Global

Sejak awal revolusi, Damaskus telah menjadi sekutu utama Teheran. Kedua negara kemudian membangun aliansi yang kuat guna menghadapi musuh bersama mereka: Saddam Hussein dan Israel.

Dalam waktu bersamaan, Teheran dan Damaskus juga berhasil memupuk kekuatan sayap militer Hizbullah di Lebanon sehingga mampu mengalahkan pasukan Israel dan menendang Israel keluar dari Lebanon selatan pada Perang Lebanon Jilid I tahun 2000.

Dengan keberhasilan menendang Israel keluar dari Lebanon, aliansi Iran, Suriah dan Hizbullah kini menjadi poros utama perlawanan terhadap zionis Israel dan dominasi AS di kawasan regional Timur Tengah.

Melemahnya kekuatan militer Suriah dalam kurun waktu lima tahun terakhir akibat perang hibrida yang dilancarkan oleh aliansi AS, Israel dan Arab Saudi  – membawa konsekuensi logis meningkatnya kehadiran militer Iran dan Hizbullah di Suriah dalam menghadapi gempuran ISIS dan kelompok opsisi anti Presiden Assad.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih H.R. McMaster telah menyatakan bahwa 80 persen pasukan Suriah adalah tantara Iran dan Hizbullah. Hanya 20 persen yang merupakan militer Presiden Assad.

Baca Juga:  Selamat! Kabupaten Pamekasan Masuk 15 Besar Kabupaten Paling Inovatif se-Indonesia

Sehingga secara langsung Teheran dapat mengendalikan wilayah Suriah dan menjadikannya sebagai basis utama untuk menyerang negara penindas bangsa Palestina tersebut.

Menurut sumber militer Israel, diyakini Teheran telah membangun pabrik rudal di Suriah dan Lebanon untuk memperkuat aliansi mereka guna menghadapi Israel. Bahkan menurut kabar yang dihembuskan BBC, badan intelijen Barat telah mengidentifikasi ada seorang panglima komando tetap yang ditempatkan di selatan Damaskus.

Iran saat ini mengoperasikan 13 pangkalan militer di Suriah, yang terdiri dari jaringan komando dan kontrol yang kuat yang mencakup seluruh wilayah negara, kecuali yang dikuasai oleh kubu pemberontak dukungan Aliansi AS, Irael dan Arab Saudi.

Israel tampaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali melancarkan perang – di mana sejak bulan November, jet-jet Israel telah melakukan aksi sepihak menyerang pangkalan-pangkalan militer Iran di Suriah.

Pada 3 Desember, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak ragu lagi menyatakan bahwa Israel, “tidak akan membiarkan sebuah rezim membungkam pembasmian negara Yahudi…” (Agus Setiawan)

Related Posts

1 of 29