Connect with us

Puisi

Doa Diserang Rindu dan Kitab Puisi

Published

on

puisi, doa, diserang rindu, kitab puisi, puisi doa, puisi rindu, rofqil junior, nusantaranews

Doa Diserang Rindu dan Kitab Puisi. (Foto: pixabay)

Doa Diserang Rindu dan Kitab Puisi
Puisi karya Rofqil Junior

 

Doa Diserang Rindu

matikan hujan, semisal rindu benar menyerang
kenangan selayaknya dilipat ke almari itu
malam, sepi dan beberapa potong luka
seharusnya tak pernah ada
takut takut ada resah kembali basah

sunyi dibunug, tinggal kau seorang
mengamini ramai untuk tandang
kian lama kian bersarang,
sampai tak ada satu pun yang diam
sambil menjemput tentram yang hilang

malam diusir, misalnya
dalam temaram tak perlu ada yang berjalan
selain debar bulan dan kokok kinantan
biar kangen tak begitu ambigu, menentukan
jalan yang kerap bercabang

Loading...

menulis puisi, sebisa mungkin
meski pun dengan air mata paling akhir
dan tak ada yang tersisa
seluruh ingatan menjadi beku, menjadi batu
;sama dengan rindu rindu

 

Kitab Puisi

Ayat pertama:
sebuah kata tumbuh serupa mawar lengkap dengan durinya
di tangan berdarah, mengabadikan damai yang kita rebut
tiap datang hujan ia berkecambah ujungnya sulur menyulur
terjaga gagah di kitab dengan lembar setengah robek

betapa temaram di sini begitu ampuh mengusir temaram nasib
meski kadang kadang seluruh nya kerap kasip
ayat yang lenih sakral dari biasanya serta luka kian menganga
bahwa termasuk duka, semua kembali pada muasal, pada kekar akar

Ayat kedua:
setelah beberapa lembar kertas terbuka, puisi menelanjangiku
mencari celah di tiap tubuh, tak lupa menunjukkan jalan
paling benderang, menjemput tentram
mengaji pada segala yang diam, pohon pohon menuding
puncak langit yang tiap dahannya kerap ramai

Ayat ketiga:
puisi mencatat segala jalan perih nan letih, berabad silam
alur yang ganjil dan tak semestinya mengalir
bosan kuusir agar tak lama mampir, seluruh kata lebih berarti
dari suratan takdir

Baca Juga:  Bupati Labuhanbatu Terancam Dipecat, PDIP: Tidak Ada Toleransi Bagi Koruptor

 

 

 

 

Penulis: Rofqil Junior adalah nama pena dari Moh Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang Kecamatan Dungkek kab.Sumenep Madura pada 19 Mei 2002.Berdimisili di Gapura Timur Gapura Sumenep. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP merupakan alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs Al-Hidayah Bancamara Giliyang. Tempatnya memulai berproses menulis. Essainya mendapat juara 1 dalam lomba Creative Student Day 2018. Puisinya mendapat juara 1 dalam lomba yang diadakan oleh PT Mandiri Jaya Surabaya sekaligus terangkum dalam antologi Surat Berdarah di Antara Gelas Retak (2019). Puisinya juga termaktub dalam antologi Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan;2018), Banjarbaru Festival Literary (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019). Saat ini sudah menulis puisi di berbagai media cetak dan online antara lain Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Malang Post, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Rakyat Sumbar, Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews.

Loading...

Terpopuler