Connect with us

Ekonomi

Ditolak Uni-Eropa Berkali-Kali, Komoditas Pala Nasional Merugi Besar

Published

on

Petani Pala pamerkan Pala hasil panennya (Foto Dok. Okezone)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kerugian besar terus membayang-bayangi komoditas pala nasional, setelah sepanjang 2016-2017 sebanyak 31 kali ekpor pala Indonesia ditolak oleh negara Uni-Eropa.

Anggota Dewan Pengurus Pusat Bidang Pemasaran, Promosi dan Advokasi Dewan Rempah Indonesia Sigit Ismaryanto mengatakan, akibat penolakan yang berulang-ulang itu, kini para pengusaha pala dalam negeri terpaksa menanggung kerugian besar. Menurut Sigit, ada beberapa sumber kerugian yang ditanggung oleh para pengusaha.

Diantaranya kerugian dari pembelian pala pada petani dan atau pengumpul. Belum lagi biaya pengujian contoh pala dalam rangka penerbitan Sertifikat Kesehatan oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan serta biaya transportasi dari pelabuhan di Indonesia ke Uni Eropa.

Selain itu ada biaya sewa gudang di negara tujuan. Ditambah dengan biaya pengujian ulang sampel 20% dari biji pala yang dikirim ke negara tujuan. Tak berhenti disitu, kerugian semakin bertambah manakala pelarangan ekspor langsung dari Indonesia. Dimana ekspor harus melalui negara ketiga.

Hal ini sampaikan Sigit sebagaimana dilansir dari Bisnis.com, Senin (26/2/2018). Semenjak Uni Eropa mulai menerapkan regulasi sertifikat kesehatan dan uji sampel biji pala pada 2016, Indonesia kehilangan potensi pasar karena pencemaran aflatoxin yang dianggap dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Uni Eropa menetapkan regulasi bahwa pala yang akan diekspor harus disertai dengan sertifikat kesehatan. Selain itu saat tes sampel pencemaran aflatoxin B1 maksimal 5 ppb, aflatoxin maksimal 10 ppb dan ochratoxin maksimal 15 ppb pada saat diterima di negara tujuan. (*)

Pewarta: Alya Karen
Editor: Romandhon

Terpopuler