Connect with us

Ekonomi

Dinilai Tak Ramah Pasar, Trump Buktikan Ekonomi AS di Puncak

Published

on

Presiden AS Donald Trump (Foto Getty)

Presiden AS Donald Trump (Foto Getty)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Terlepas dari kebijakan ekonominya yang dinilai tak ramah terhadap pasar internasional, Presiden AS Donald Trump faktanya berhasil membawa ekonomi negeri Paman Sam itu di puncak kejayaan.

Dibandingkan dengan era presiden Obama, posisi Trump jauh lebih unggul dalam capaian ekonomi. Dimana nilai GDP (Gross domestic product) sepanjang dua tahun terakhir melesat.

Mengenai GDP AS yang semakin membaik ini juga dibenarkan oleh Ketua Komisi XI DPR RI, Melchias Markus Mekeng. Dirinya mengatakan bahwa GDP AS semakin kuat setelah Trump menjadi presiden.

“Itu (GDP AS) setelah Trump masuk (menjadi presiden) baik dan ekonominya positif,” kata Melchias Markus Mekeng kepada Nusantaranews.co, Rabu (7/11/2018).

Karena GDP-nya bagus, lanjut dia, sehingga membuat posisi mata uang dolar kuat. “Itu yang membuat dolarnya kuat,” sambungnya.

Baca Juga:
Rizal Ramli: Jelek-Jelek Ternyata Trump Bekerja! Ada Kebalikannya, Tapi Kagak Kerja
Kemenangan Demokrat di AS Picu Rupiah Menguat

Sementara itu, ekonom kenamaan nasional Rizal Ramli memiliki pendapat yang sama dengan posisi ekonomi AS saat ini. Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi era Gus Dur itu menjelaskan saat ini bank sentral Amerika Serikat, yakni The Fed memiliki kemampuan bertingkat dalam menaikkan suku bunga mereka.

Sebab, kata Rizal Ramli, “Karena ekonomi Amerika belum pernah sebaik ini,” kata dia, Rabu, 31 Oktober 2018.

Sebagai informasi, diperkirakan, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate pada rapat 19 Desember 2018 mencapai 78,5%. Bahkan ada kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sampai 50 bps.

Saat ini, suku bunga acuan di AS ada di 2-2,25% atau median 2,125%. Pada akhir 2020, The Fed menargetkan suku bunga berada di median 3,4%. Oleh karena itu, kemungkinan akan ada tiga kali kenaikan lagi pada 2019 dan setidaknya sekali pada 2020.

Artinya, arus modal akan terus tersedot ke AS. Sebab kenaikan suku bunga acuan akan ikut mengerek imbalan investasi di Negeri Paman Sam (utamanya di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi).

Editor: Romadhon

Advertisement

Terpopuler