Connect with us

Politik

Dinilai tak etis, BPN Kritik Menhan Labuhkan Dukungan ke Capres 01

Published

on

Menhan RI Ryamizard Ryacudu. (FOTO: Dok. Kemhan)

Menhan RI Ryamizard Ryacudu. (FOTO: Dok. Kemhan)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean kritik pernyataan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu yang tanpa tedeng aling-aling berikan dukungan kepada pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Ferdinand menilai pengakuan Menhan tersebut tidak etis sebagai pejabat negara. Bahkan, kata dia, Menhan terkesan punya ekspektasi tinggi untuk menjabat lagi.

“Saya pikir, Ryamizard masih terlalu memiliki ekspektasi tinggi menjabat lagi nanti. Bahkan, rela secara blak-blakan seperti itu mendukung Jokowi,” kata Ferdinand kepada wartawan, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Menurut Ferdinand, meski tak ada larangan, namun etika sebagai pejabat mesti dijaga Ryamizard. Ucapan eks Kepala Staf TNI AD itu, kata dia, teralalu vulgar dan berkonotasi kampanye. Baginya, pernyataan Ryamizard terkesan mengarahkan aparatur sipil negara (ASN) untuk memilih Jokowi.

“Ini harus dijaga para penjabat kita. Netralitas itu perlu dijaga, jika Ryamizard masih menghargai demokrasi dan aturan. ASN wajib netral, menteri boleh berpihak,” jelasnya.

Ferdinand menambahkan, dengan adanya ucapan Ryamizard dinilainya netralitas lembaga negara era pemerintahan Jokowi rusak. Netralitas pejabat menteri dipertanyakan, karena seolah mengarahkan dukungan untuk Jokowi.

“Ini etika pejabat rusak. dan ini tanggung Jokowi sebagai Presiden yang tidak bisa menjaga demokrasi dengan baik,” tutur Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat itu.

Loading...

Diketahui, Menhan Ryamizard menegaskan sebagai pembantu Presiden, maka ia akan mendukung Jokowi. Hal ini sebagai bentuk loyalitas terhadap eks Gubernur DKI itu. “Saya jelas pilih Pak Jokowi, saya anak buahnya, menterinya, pembantunya,” ucap Menhan usai Rapat Pimpinan di Kemenhan, Rabu (16/1).

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Terpopuler