Budaya / SeniKhazanah

Dinilai Ceroboh Dalam Cara Pengutipan Buku, Narudin Irit Bicara

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam rentang waktu empat tahun terakhir muncul nama penulis Narudin Pituin. Dimana secara istiqomah mencitrakan dirinya sendiri sebagai kritikus (sastra). Sarjana Sastra Inggris ini dengan cukup konsisten pula ketika menulis esai pada judul dicantumkan keterangan “Kritik Sastra Narudin“.

Narudin aktif menyebarkan tulisannya di beranda facebook-nya, juga menulis catatan-catatan pendek seputar sastra. Tidak sedikit dari penyair Indonesia mulai dari Chairil Anwar hingga Tia Stiadi (untuk dua nama dari sekain banyak nama) yang diulas puisi-puisinya oleh Narudin.

Dari pengamatan singkat redaksi nusantaranews.co, cukup banyak yang memberikan apresiasi untuk esai-esai Narudin. Tak sedikit pula yang memberikan kritik balik terhadap sosok Narudin dan karyanya.

Misalnya, salah satu esai Narudin berjudul “Tahun Baru yang Tak Baru” dinilai terdapat satu kecerobohan dalam cara pengutipan buku. Penyair Bernando J. Sujibto menilai cara tersebut tidak berdasar. “Cara Narudin mengutip buku juga tidak berdasar,” kata BJ panggilan akrab Bernando itu lewat pesan online, Senin (8/1/2018).

“Misalnya, saya tulis ulang daftar sebuah buku yang menjadi salah satu rujukan dalam esainya di Pikiran Rakyat (Sabtu, 30 Desember 2017): ‘Andy Barnard, Contemporary Sociology: AS and A Level, London: Cambridge Univ Pres, 2014.’ Tak perlu jauh-jauh menelisik apakah betul Barnard menulis buku dengan judul begitu,” imbuh empunya antologi puisi “Rumbalara Perjalanan” itu.

Baca Juga:  Cut Putri Perekam Video Tsunami Aceh 2004 Kunjungi Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST)

BJ menilai Judul Contemporary Sociology: AS and A Level sudah sangat mencurigakan karena struktur bahasa Inggrisnya sudah kacau dan tidak dapat dimengerti khsusunya untuk frasa AS and A Level.

“Setelah saya telusuri, ternyata tidak ada buku karangan Andy Barnad dengan judul demikian. Yang ada adalah buku Sociology: As Level And A Level karya Terry Burgess, Andy Barnard dan Mike Kirby, buku diktat yang disusun untuk Cambridge syllabus belaka,” tutur Nominator Sayembara Buku Puisi HPI 2017 tersebut.

Cara seperti ini, sambung Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 itu, sangat sangat membahayakan bagi dunia akademik di Indonesia. “Itu bisa terjadi karena faktor keteledoran atau ketidaktahuan penulisnya karena mencomot asal-asalan. Saya khawatir ini terjadi di banyak tulisan dia,” jelas Bernando J. Sujibto, alumni master sosiologi Selcuk University, Turki, itu.

Redaksi nusantaranews.co menemukan dalam esai Narudin lainnya berjudul “Kritik Sastra Narudin untuk Buku Puisi ‘Ketam Ladam Rumah Ingatan‘ (2016) Para Penyair Muda Madura” yang diposting di beranda facebook-nya pada 28 Februari 2016, dengan menggunakan buku rujukan yang sama ditulis berbeda. Di akhir esainya pada bagian daftar pustakan Narudin menulis sebagai berikut: “Barnard, Andy. 2004. Contemporary Sociology (As-A Level). London: Cambridge University Press.”

Setelah ditulusuri melalui mesin pencarian google, amazon.com menghaturkan buku berjudul Sociology: AS Level and A Level (Cambridge International Examinations) karya Andy Barnard, Terry Burgess dan Mike Kirby, persis seperti yang disebut Bernando J. Sujipto.

Baca Juga:  Minta Kembalikan Nisan Situs Makam Ulama Lamdingin Ke Tempat Semula, Darud Donya Surati Pj Walikota Banda Aceh

Pengamat sastra cum penyair Malkan Junaidi menegaskan bahwa Narudin memang ceroboh. Seperti diketahui Andy Barnard menulis buku “Sociology: AS Level and A Level (Cambridge International Examinations) karya Andy Barnard, Terry Burgess dan Mike Kirby” yang ditulis “Contemporary Sociology: AS and A Level, London: Cambridge Univ Pres, 2014.” oleh Narudin dalam esainya berjudul “Tahun Baru yang Tak Baru” juga dalam esai “Kritik Sastra Narudin untuk Buku Puisi ‘Ketam Ladam Rumah Ingatan’ (2016) Para Penyair Muda Madura” yang ditulis “Barnard, Andy. 2004. Contemporary Sociology (As-A Level). London: Cambridge University Press.”

“Narudin, seperti biasa, ceroboh. Yang lebih menarik ditanggapi sebenarnya adalah isu posmodernisme yang dia angkat, terlepas dia mengutip kalimat dari mana,” ujar pengamat sastra yang tinggal di Blitar itu melalui pesan Facebooknya kepada nusantaranews.co, Sabtu (13/1/2018).

Menurut Malkan, esai “Tahun Baru yang Tak Baru” berangkat dari stigma atas posmodernisme.

“Di mata Narudin posmodernisme itu negatif. Dia memakai kenegatifan tersebut untuk memvalidasi ‘kredo’nya mengenai sastra bermoral. Dia tak pernah mempertanyakan kenapa posmodernisme lahir. Dia mengabaikan fakta bahwa Posmodernisme adalah kritik terhadap Modernisme. Apa yang merupakan cara ungkap dianggap Narudin sebagai substansi,” terang Empunya buku puisi “Lidah Bulan” (2011) itu.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Aktivis Media Sosial tersebut menyatakan bahwa modernisme memperjuangkan Narasi Besar, kebenaran universal, objektivitas, kebaruan, dan sebagainya. “Para posmodernis mempercayai semua ini sebagai sesuatu yang palsu, menindas, dan tak sesuai kebutuhan,” jelas Malkan.

“Jelas bahwa Narudin adalah seorang modernis dan selalu demikian dia: seolah Tuhan memunculkannya di waktu yang salah. Narudin menyebut teori-teori dari abad ke-20 sebagai kontemporer. Dia memerangi Posmodernisme, padahal masanya telah lewat,” imbuh sastrawan yang melahirkan buku puisi kedua “Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu” tahun 2016 lalu.

Ketika temuan Bernando J. Sujibto dan Malkan Junaidi itu dikonfirmasi kepada Narudin Pituin, Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu menjawab singkat. “Tak ada tanggapan,” balas Narudin saat dikonfirmasi melalui pesan online, Mingu (14/1/2017).

“Biar dia membaca sendiri tentang buku itu dan tentang Chairil juga yang prosa dan terjemahannya tak bagus,” imbuhnya.

Kemudian Duta Bahasa Berprestasi 2015 Jawa Barat itu menerangkan bahwa buku yang dimaksud pernah dia ampu selama setahun. “Saya mengajar buku itu satu tahun,” akunya.

“Buku itu boleh disebut Sociology A-As Level boleh Contemporary Sociology. Andy Barnard berperan utama dalam buku itu,” terang Narudin.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Related Posts