Connect with us

Puisi

Dingin Gelas Temani Aku – Puisi Tedy Ndarung

Published

on

Ben W. Heineman Sr. Family Gallery of Contemporary Glass/Foto: Dok. Galleries | Corning Museum of Glass
Ben W. Heineman Sr. Family Gallery of Contemporary Glass/Foto: Dok. Galleries | Corning Museum of Glass

Temani Aku

I
Sudah sekian jauh kita lupa pada sapa, sayang
di sekujur tubuh lidahku selalu kubalut namamu
masih tersisa halus tanganmu pada jemari lentik
juga sedikit cita-cita asmara di ujung waktu yang belum terucap
sekarang waktu mengepung kita di sini, sayang
tangkaplah tatapanku yang bertengger pada manik matamu
dan temani aku

II
Temani aku mengusir kabut kota
lengkungkan cahaya senja
dan hujan yang berani memancing amarah di mataku
temani aku menghitung detik dan langkah kita
menangkap bersama cahaya temaram yang menikam ekor wangi badanmu
menerka berapa banyak mobil yang lalu-lalang
perempatan, lampu merah yang mematikan marah
bersama tiang-tiang yang penuh luka
beserta tembok-tembok tempat remaja mewujudkan hasrat
pun fandalisme yang selalu menjalar
termasuk tulisan “Yang kencing di sini hanya anjing”

III
Temani aku, sayang
mengelilingi taman kota dan beri aku jawab
“mengapa taman ini tidak diurus?”
“mengapa pemerintah tidak mengindahkannya?”
“ataukah ini bukan taman?”

IV
Temani aku menyusuri pertokoan melihat si jompo dan bayi yang berserakkan di pinggir-pinggir jalan, di got-got
dan melihat kebahagiaan masyarakat asing yang lagi ngopi di atas rumah tingkatnya
beserta gumpalan asap rokok di penghujung mulutnya

Loading...

V
Temani aku, sayang
pergi ke pasar untuk menggiling biji-biji kopi yang sudah di goreng oleh bunda sebagai buah tangan untuk kita reguk bersama besok

VI
Temani aku kawan
pulang dan langsung ke pangkalan ojek
mencari dan membujuk pemilik sepeda simpatisan tanpa bayaran
untuk kita bisa pulang
“sayangku, di kota ini susah”
“tidak ada simpatisan”
“semuanya diuangkan”
si miskin tetap kelaparan

Maumere, 03/02/2017

Gelas

Gelas ini menyeret kata-kataku menjadi beku
dingin tiada lelah menghujaniku dengan kecupan sakral
membuatku kaku menjadi batu
membakar imajinasiku jadi abu tak bersuara
semacam puisi kerinduan tanpa tujuan
jika jemari memecahkan gelas ini menjadi seribu beling
yang sisa hanyalah geliat sunyi
setiap detik yang berdendang direguk sekejap
lebih lama embun melepuh di atas daun talas
mungkin secangkir kopi di atas meja ini menjadi penakluk jiwa yang mati ini
biar dingin di sini tau apa maksudnya panas
biar hujan di luar yang belum juga reda tau apa mauku

Baca Juga:  Pengikut Jejak Patung Api

Dingin

sayatan pisau yang ia sembunyikan terlalu lembut
membangunkan bulu-bulu yang telah mati.
Meremang…
ketika sadar
bumi telah lama mematikan bahasa

Maumere, 29 Januari 2017

Tedy Ndarung, lahir pada tanggal 27 September 1996, di Lambur-Manggarai Barat.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler