Connect with us

Politik

Diduga Ada Skenario Rusuh di Pilpres 2019 Lewat Isu Anti Cina

Published

on

7 kontainer surat suara, ancaman kekacauan, konflik pilpres, sengketa pilpres, andi arief, kasus hoaks, nusantaranews

Ilustrasi Konflik Sosial. (Foto: Ist)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Patut diduga ada skenario rusuh di Pilpres 2019 melalui isu anti Cina. Pemerhati geopolitik, Hendrajit mengingatkan, Prabowo Subianto dan ayahnya, Soemitro Djojohadikoesoemo sejak dulu memang sudah dikenal gencar memerangi konglomerasi Cina di Indonesia. Dia menegaskan, fakta ini bukan soal rasialis anti Cina.

“Jadi perlu saya ingatkan. Yang diperangi Prabowo dan ayahnya, Pak Mitro sejak dulu, adalah konglomerasi Cina di negeri kita. Sehingga, kerajaan ekonomi menjelma jadi imperium politik. Jadi ini bukan soal rasialis anti cina,” kata Hendrajit melalui keterangannya, Jakarta, Kamis (7/3/2019).

Karena itu, kata dia, berita yang merebak seputar membanjirnya TKA Cina jangan sampai memprovokasi untuk jadi rasialis. Pasalnya, begitu kita terjebak menyikapi soal Cina secara rasialis, maka para perancang skenario rusuh menemukan alat pemicu yang pas.

Begitu skenario rusuh digelar, maka people power yang sudah dalam keadaan siaga untuk mengawal Prabowo andaikan nanti dikalahkan secara curang. “Akan dipatahkan dengan mudah dengan memunculkan skenario rusuh,” sebutnya.

Baca juga: Ancaman Non-Militer Datang dari Tenaga Kerja Asing

Baca juga: BKPM Sebut Sentimen Anti Cina Tak Goyahkan Nilai Investasi di Indonesia

Baca juga: Protes Anti-Cina Terburuk di Vietnam, Ratusan Orang Ditangkap

Baca juga: Diduga Ini Penyebab Poster Anti-Cina Ramai di Australia

Baca juga: Gerakan Anti China Mulai Muncul di Australia

Baca juga: Arief: Turis China di Bali Banyak, Pemasukan Devisa Negara Hanya Sedikit

Dengan demikian, lanjut Hendrajit, kebangkitan people power akan dilumpuhkan dengan munculnya skenario rusuh dan akan digiring ke arah opini.

“Anti Cina sama dengan dukung kerusuhan,” ujar Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) ini.

Hendrajit mengingatkan, memandang isu Cina harus proporsional dan jernih. “TKA Cina membanjir ke negri kita berarti ada pembiaran dari otoritas imigrasi,” katanya.

“Lantas kenapa dibiarkan? Supaya kita digiring beropini kalau nanti pemilu curang dengan menggelembungkan suara memakai para TKA ini? Meskipun dulunya modus ini yang digunakan tapi kalau sekarang masih dilakukan padahal modus sudah kebongkar. Apa mereka sebodoh itu?,” lanjutnya.

Baca juga: Pemilu 2019, Mendagri: Tidak Ada Ruang Secelahpun Bagi Pelaku Curang

Baca juga: Mencermati Kinerja KPU dan Bawaslu Antisipasi Kecurangan Pemilu 2019

Pasti ada tujuan lain, kata Hendrajit. “Kita sedang dihipnotis ke arah politik isu tunggal. Kalau nanti ada yang tidak beres berarti gara-gara TKA sialan itu, maka rusuh sosial pun dipantik dengan mudah,” sambung dia.

“Siapa yang dirugikan? Prabowo dan para pihak yang ingin menata ulang tata politik ekonomi yang tidak adil selama ini. Salah satunya adalah memangkas konglomerasi Cina yang sekarang menjadi imperium ekonomi dan politik di Indonesia,” kata Hendrajit lagi.

Dia menambahkan, people power yang sudah merajut rasa melalui Aksi Bela Islam 414 dan 212 jangan sampai dilumpuhkan oleh skenario rusuh. Dan kemenangan Prabowo-Sandi harus dikawal oleh people power, bukan rusuh sosial apalagi rusuh anti Cina.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler