Mancanegara

Di Tengah Ancaman AS, Beijing Siap Memperkuat Kerjasama Bilateral Dengan Iran

Di Tengah Ancaman AS, Beijing Siap Menigkatkan Kerjasama Dengan Iran
Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Iran Hassan Rouhani di Qingdao dalam KTT Organisasi Kerjasama Shanghai

NUSANTARANEWS.CO – Di tengah ancaman Amerika Serikat (AS), Beijing siap memperkuat kerjasama bilateral dengan Iran. Presiden Cina Xi Jinping mengatakan hal tersebut pada hari Minggu, bahwa Cina siap meningkatkan pengembangan hubungan bilateral dengan Iran.

Xi juga menyatakan kesiapan China untuk memperkuat kerjasama dengan Iran dalam kerangka mekanisme multilateral ketika bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani pada hari Minggu di Qingdao dalam KTT Organisasi Kerjasama Shanghai.

Xi menekankan bahwa para pihak harus terus meningkatkan tingkat saling percaya strategis, memperkuat kontak di semua tingkatan, terus memberikan dukungan timbal balik dalam hal kepentingan mendasar masing-masing.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa, “Hubungan Cina-Iran memiliki potensi untuk pengembangan lebih lanjut dan lebih dalam. Cina siap bersama-sama memajukan hubungan kemitraan strategis komprehensif Cina -Iran.”

Terkait dengan implementasi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), juga dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran, Xi menegaskan bahwa Cina mendukung penuh kesepakatan tersebut.

Baca Juga:  Kata Iran: AS Tidak dalam Posisi untuk Menetapkan Kondisi bagi Iran dalam Pembicaraan JCPOA

“Rencana Aksi Bersama Komprehensif pada program nuklir Iran adalah hasil dari upaya multilateral yang berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan stabilitas regional, serta perlindungan rezim non-proliferasi internasional. Perjanjian ini harus sepenuhnya dilaksanakan,” ujar pemimpin Cina itu menegaskan.

Namun, pada 8 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari JCPOA dan menuntut perubahan isi perjanjian tersebut agar lebih di perluas tanpa ada batas waktunya.

Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) asalah sebuah perjanjian internasional yang dicapai pada tahun 2015 oleh Iran, AS, Rusia, Perancis, China, Inggris, Jerman dan Uni Eropa. Kesepakatan itu dirancang untuk mencegah Iran membangun senjata nuklir dan untuk memastikan sifat damai dari program nuklirnya, serta mencabut sanksi ekonomi terhadao Iran sebagai imbalannya.

Sementara Presiden Trump secara konsisten menjadi oposisi terhadap kesepakatan nuklir Iran tersebut. Trump menyebut kesepakatan itu “cacat” dan harus diperbaiki. Trump juga mengancam akan memberlakuan kembali sanksi ekonomi.

Baca Juga:  Menyaksikan Kebangkitan BRICS dan Berakhirnya Pax Americana

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel gagal meyakinkan Trump untuk tetap berpegang pada kesepakatan niklir Iran tersebut.

Sanksi-sanksi AS yang dikenakan kembali akan mempengaruhi setiap perusahaan yang melakukan bisnis dengan Teheran, menempatkan perusahaan-perusahaan Eropa, Cina dan Rusia dalam bahaya. Negara-negara Eropa saat ini sedang mempertimbangkan opsi untuk melawan sanksi AS yang mungkin terhadap perusahaan mereka, seperti mengaktifkan kembali “undang-undang pemblokiran” tahun 1996. UE juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan nuklir Iran. (Banyu)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3.063