Connect with us

Budaya / Seni

Di Teluk Tamian Kutulis Puisi untuk Seorang Ibu

Published

on

Seorang ibu dan si Bayi. Foto: Dok. radiomirchi.com

Seorang ibu dan si Bayi. Foto: Dok. radiomirchi.com

Puisi Rahmat Akbar*

UNTUK SESEORANG (IBU)

Untuk seorang yang bernama “ibu”. Kupandang kedua bola matamu
Aku tahu berapa kali sudah air mata yang kau teteskan semasa hidupmu
Namun, tetap surga berada di telapak kakimu
Dan aku selalu menyadari itu

Ibu. . .
kau menyibak kabut pagi dengan senyuman, kau hirup sembunyi embun bersama kenangan
Dirangka sayap-sayapmu yang bisa mematah, kau tabur benih nasehat kehidupan
Kau ukir kata sayang di atas batu cadas kebahagiaan
Sungguh, tidak akan terhapus oleh jaman

Ibu. . .
Ada kata yang tak pernah terucap tentang perihal benci
Sayangmu, laksana ke dalaman lautan yang menimba mimpi
Dan semua itu akan tercapai keinginan tuk buaimu dalam relung hati

Ibu. . .
Disaat ini aku memandangmu, banyak rasa sesal mungkin melekat di hatimu
Entah apa yang terjadi jika aku tidak memohon kepadamu
Karena, sesungguhnya doa yang kau sampaikan di sepertiga malam
Mampu mengetarkan tiang langit yang diijabah oleh sang pemilik segala-Nya

Ibu. . .
Rawatlah aku seperti kau mengandungku sembilan bulan dulu
Lihatlah aku dengan senyuman ketika suara azan menyambutku ke dunia
Tegurlah aku dengan lembut kasih sayangmu
Dan, kebisuanmu telah mengajarkanku arti sebuah kedewasaan.

Kotabaru, 22 Desember 2017

DI TELUK TAMIANG TELAH KUTULIS PUISI

Di Teluk Tamiang telah kutulis puisi
Pada kemolekan alam yang hakiki
Dengan langkah kaki menyusuri wajah garam dengan sendiri

Di Teluk Tamiang kutulis puisidi malam buta
Telah kudengar tentang dialog laut dan karang
Menyampaikan pesan ombak ke pesisiran
Pada kapal-kapal penaruh harapan

Di bukit telah kusaksikan kapal-kapal melepas jangkar
Yang datang tengah malam mengauli alam dari waktu ke waktu
Meski kau suguhkan sayang, kau tinggalkan kengerian
Pada laut tenang, tangis pecah di antara terumbu karang

Baca Juga:  Sudah Sejak Lama Etnis Rohingya Alami Kekerasan dan Pembantaian

Di Teluk Tamiang telah kutulis puisi
Pada bibir pantai yang kian menggerutu menahan pilu
Akibat tangan manis tidak punya rasa malu
Datang. Lalu, meninggalkan luka bersama waktu

Di Teluk Tamiang telah kutulis puisi
Tentang airmu sebening kaca
Tentang ombakmu yang berdebur
Tentang semilir anginmu memberikan ketenangan
Tentang bukitmu sebagai tempat mengadu

Jika ada yang bertanya
Mengapa aku menulis puisi tentang dirimu?
Maka jawablah dengan laut, pantai dan bukitmu.

Kotabaru (Teluk Tamiang), 25 Desember 2017

Rahmat Akbar, kelahiran Kotabaru 04 Juli 1993 tepatnya di Kalimantan Selatan. Alamat tinggal Jalan Hasanuddin Rt. 06 Kelurahan Kotabaru Hilir. Puisinya (menggisi media Tribun Bali, Media Kalimantan, Koran Merapi), puisinya “Hitammu Di Tanahku” antologi puisi ASKS Ke 13 KALSEL 2016, puisinya di antologi “ Gemuruh1001 Kuda Padang Sabana, antologi puisi “ Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku, antologi puisi “Tadarus Puisi Kalsel 2017”, antologi puisi ASKS ke 14 KALSEL 2017, antologi puisi “Puputan Melawan Korupsi” Bali, antologi puisi “Hutan Hujan Tropis”, antologi puisi “Indonesia Lucu Jilid VI 2018, dll. Sekarang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan aktiv tergabung di komunitas Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Akbar bisa disapa melalui email [email protected], fb: Kai.akbar

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler