Connect with us

Inspirasi

Di Masa Kini, Berkarya dan Berprestasi Harus Jadi Tradisi Mahasiswa

Published

on

Salah satu narasumber seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (28/11). Foto: Hendris Abdullah/Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi pada Selasa (28/11). Ini merupakan serangkaian dari kegiatan pekan ilmiah FISHUM 2017 di mana semua karya dan kreatifitas dari dosen, mahasiswa dan alumni FISHUM kemudian disosialisasikan.

“Mahasiswa merupakan kaum intelektual. Maka karya dan kreatifitas merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari dunia akademiknya. Khususnya bagi mahasiswa FISHUM, teruslah berkreasi dan berprestasi, serta jangan sampai merasa lelah untuk berkarya,” jelas Hendris, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FISHUM saat ditemui usai acara.

Dalam seminar series kali ini, sharing session terbagi menjadi dua, yakni dari mahasiswa dan alumni. Beberapa mahasiswa yang diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman terkait karyanya antara lain ialah Tri Muryani mahasiswa Sosiologi, Tresna Khoirun Nisa dan Lelita Azaria Rahmadiva mahasiswa Ilmu Komunikasi, Arif Azizy dan Aisyah Puspa Lestari merupakan mahasiswa Psikologi. Sesi pertama dimoderatori oleh Nerpati Damar Panuluh, sedangkan untuk sesi kedua dimoderatori oleh Herlambang Dwi Prasetyo.

Peserta seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (28/11). Foto: Hendris Abdullah/Istimewa

Peserta seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (28/11). Foto: Hendris Abdullah/Istimewa

Selain narasumber dari mahasiswa, narasumber lain juga didatangkan dari alumni. Beberapa alumni yang ikut mengisi acara ini ialah dari Prodi Sosiologi ada B.J Soejibto, alumni FISHUM yang melanjutkan S2 di Universitas Selcuk Turki. Pembiacara lain ada Sabiqotul Husna alumni dari Psikologi yang melanjutkan studi S2-nya di Maastricht University, serta Jahid Syaifullah, yang merupakan alumni Ilmu Komunikasi tahun 2005. Sesi alumni ini dimoderatori oleh Ahmad Riyadi.

Menyambut baik kegiatan ini, Mochamad Sodik selaku Dekan FISHUM mengapresiasi semangat mahasiswa dalam berkarya dan berkreatifitas. Menurutnya, karya dan kreatifitas diharapkan menjadi tradisi bagi mahasiswa FISHUM. “FISHUM muda terkemuka. Kita ingin prestasi itu menjadi tradisi. Fastabiqul khairot kita artikan sebagai berlomba-lomba menjadi yang lebih baik. Lebih baik dari hari sebelumnya. Minimal untuk diri sendiri,” tuturnya.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi penting karena ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa sifatnya harus multi. Selain itu, kata dia, mahasiswa juga sudah seharunya memiliki nilai plus untuk kemudian bisa bersaing dan berkompetisi. Sementara, Sus Budhiartho selaku keynote speaker dari acara ini menjelaskan bahwa generasi milenial memang memiliki beberapa tantangan. Salah satunya ialah tingkat kecemasan yang cukup tinggi dalam menghadapi sesuatu.

Peserta dan narasumber seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (28/11). Foto: Hendris Abdullah/Istimewa

Peserta dan narasumber seminar series bertemakan Yang Muda yang Berkarya dan Berprestasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (28/11). Foto: Hendris Abdullah/Istimewa

Meski demikian, B.J Soejibto berpendapat bahwa era milenial memang menjadi tantangan tersendiri bagi maysarakat. Bahkan, bagi mahasiswa yang sekaligus berperan menjadi pemuda, tantangan-tantangan kecanggihan teknologi menjadi semakin kuat dengan adanya akses informasi tanpa batas ruang dan waktu. Karena alih-alih mempermudah, kecanggihan teknologi justru beresiko untuk menjadikan seseorang sebagai objek dari teknologi itu sendiri.

“Alay dan lebay. Ini merupakan paket, yang biasa terjadi dalam dunia millenial. Beberapa Ancaman generasi ini ialah muculnya fenomena Post-truth atau Post-Logic, yakni situasi ketika fakta dan data tidak dipentingkan tapi yang paling utama ialah bagaimana mempengahrui opini dan situasi,” jelasnya.

Namun, katanya, potensi untuk berkarya menjadi semakin mudah apabila kita mampu memanfaatkan era hari ini. Personal platform, akses media, kompetisi, kolaborasi, dan pasar bisa menjadi potensi untuk berkarya.

Senada dengan ini, Jahid Syaifullah menegaskan bahwa penting adanya kemauan untuk berproses. “Dalam proses perjalanan panjang, ada masa ketika kita terbentur sesuatu. Kita akan berhenti sejenak ataupun melanjutkan meskipun dengan tertatih-tatih. Maka, dari proses perjalanan panjang, kita mesti memiliki mimpi-mimpi yang harus kita raih,” paparnya. (tri)

Komentar

Advertisement

Terpopuler