Mancanegara

Destabilisasi Timur Tengah Terus Berlanjut

NUSANTARANEWS.CO, Mosul – Kekalahan ISIS di Mosul, Irak Utara ternyata telah memicu babak baru sejarah berdarah dan destabilisasi di kawasan Timur Tengah yang tidak kalah berbahaya dengan bab-bab sebelumnya sejak runtuhnya Kekaisaran Ottoman pada Perang Dunia I. Kelanjutan pola kekerasan tampaknya akan semakin luas dan menembus kawasan regional karena memang belum ada kerangka komprehensif yang dapat menyelesaikan konflik internal dunia Arab yang telah berlangsung berabad-abad.

Sejak persekongkolan kekuatan Barat melalui Perjanjian Sykes-Picot pada tahun 1916, di mana Inggris dan Prancis secara tidak bermoral telah memecah belah wilayah Kekaisaran Ottoman, hingga hari ini masih menjadi bara kemarahan di dunia Arab. Bahkan secara tegas ISIS telah menantang perjanjian tersebut.

Setelah Perang Dunia II, AS boleh dibilang adalah biang kerok yang menyebabkan destabilisasi regional Timur Tengah hingga hari ini. Kepentingan AS di Timur Tengah pada awalnya memang hanya ditujukan pada kebutuhan minyak. Tapi, ketika pecah Perang Dingin (Cold War), kepentingan ekonomi dengan cepat berubah menjadi kepentingan strategis dalam upaya membendung pengaruh Uni Soviet (US) dan munculnya pemerintahan anti-Barat di kawasan. Peranan AS di Timur Tengah semakin mempertebal kemarahan dunia Arab setelah AS dan Israel membuat pakta pertahahan bersama, padahal dunia Arab sebagian besar jelas-jelas sangat anti Israel.

Baca Juga:  Melihat Alih Teknologi Jet Tempur Su-30 Rusia untuk India

Demikian pula keterlibatan AS di Afghanistan, secara tidak langsung juga memiliki dampak yang mendalam bagi Timur Tengah. Pemberontakan yang didukung AS pada tahun 1980an, untuk melawan pendudukan Uni Soviet telah mengubah sekutu AS-Pakistan dan Arab Saudi menjadi ancaman strategis. Hal tersebut bisa kita cermati melalui peristiwa 11 September 2001, di mana 15 dari 19 penyerang adalah warga Arab Saudi. Sementara Taliban diciptakan oleh Pakistan.

Bencana regional berlanjut ketika Bush Junior melancarkan Perang Teluk II untuk menggulingkan Saddam Hussein yang dituduh menyimpan senjata pemusnah masal. Meski tidak terbukti, tapi Irak telah menjadi korban keganasan AS, yang mengakibatkan lahirnya kelompok-kelompok ekstrim bersenjata di kawasan regional yang mengakibatkan destabilisasi Timur Tengah terus berlanjut. Situasi politik yang tidak menentu ini secara tidak langsung sangat menguntungkan Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan regional Timur Tengah.

Setelah hancurnya kekhalifahan ISIS di Mosul, Irak Utara, konflik kawasan tampaknya mulai mengarah kepada konfrontasi langsung antara sunni Arab Saudi dan Syiah Iran untuk mendominasi kawasan. Sementara dua kekuatan global yang turut aktif di wilayah konflik tersebut telah memposisikan diri dengan tegas. AS berpihak pada Arab Saudi dan Rusia berpihak pada Iran.

Baca Juga:  72 Negara Akan Ambil Bagian Dalam Rusia Army 2022

Tampaknya perang melawan teror saat ini akan berkelindan dengan konflik hegemonik. Konflik Arab Saudi dan empat sekutu Sunni mengisolasi Qatar, juga terkait dengan persoalan hubungan dekat Qataris dengan Iran. Konflik ini juga adalah babak baru dalam krisis kawasan yang dapat memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan Teluk Persia. Sebab bila terjadi konfrontasi militer langsung dengan Iran dampaknya akan melampaui semua perang yang terjadi di Timur Tengah sebelumnya. Apalagi dengan konflik Suriah yang masih panas, ditambah dengan banyaknya gerakan ekstrimis bersenjata serta gerakan perlawanan bawah tanah ISIS yang tampaknya terus berlanjut.

Penulis: Agus Setiawan
Editor: Eriec Dieda

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts