Connect with us

Puisi

Desandra, Karya Yeni Amilia

Published

on

desandra, puisi, karya, yeni amilia, puisi yeni amilia, kumpulan puisi, nusantaranews, mahasiswi universitas bondowoso

Yeni Amilia. (Foto: Dok Pribadi)

Desandra, Karya Yeni Amilia

 

 

Desandra

1.
Aku bertemu desandra
Sebelum ujung jalan
Menyapa dengan pernak pernik
Terlihat pekat dengan lampu khas jalanan

Menyalakan rokok dan membakarnya
Menembus kegelapan
Hingga asapnya berteman
Berkawan dengan kesunyian alam

“Kau tak perlu datang,
Di tempat gelap dan suram.
Memintaku melangitkan namaku di universitas jalanan.”
Ucapnya sebelum suara langkahku genap di depan desandra

Loading...

Rokok di hisap dalam-dalam
Menyisakan tembakau yang di makan bara
Berserakan sebelum habis berbaur dengan tanah
Senyum terbit di wajahnya

Di terpa sang rembulan
Sebelum malam ke lima belas
Menjadikan sempurna sinarnya
Menghiasi cakrawala tak bertuan

Dia mengatakan;kembali
“Kau bisa belajar dari semua buku karya desandra,
Didikan alam tanpa ocehan
makhluk bernyawa tak berperasaan
Lahir atas belas kasihan tuhan”

5 Agustus 2019

 

2.
Kini yang ada hanya sisa-sisa
Putung rokok berserakan
Menjadi sahabat trotoar
Dengan pijakan sepatu milik tuan

Bangku taman hanya bayangan
Tanpa berkata
Impian mendekam di baris karya
Di buku penuh makna

“Kau perlu melihat setiap huruf,
Tersusun dengan rapi di kertas.
Mereka akan berbicara dengan keras sebuah harapan.”
Lolos dari mulut desandra

Desandra berjalan tanpa kata-kata bualan
Melihat wajahnya di cermin rumah
“Wajahku bagus
Aku bercermin di kaca mewah milik orang kaya”

Bondowoso, 9 Agustus 2019

 

3.
Di perkotaan yang legang
Dari kejahatan dan kedamaian
Ramai oleh kebaikan dan pertolongan
Tolak kebohongan

Instansi paling megah berdiri dimana-mana
Dimana tak ada cela
Tak ada dinding rapuh
Menjadi hiasan kekekurangan dan kelemahan

Di lorong kecil perpustakaan milik desandra
Serupa istana yang megah
Dengan beton paling kuat
Bercat kuning mirip seperti kertas

Baca Juga:  Dahnil Sebut Saat Ini Bukan Waktunya Lagi Mengaku Paling Pancasila

Di hiasi corak desain khas perkotaan
Dari tempelan foto jalanan
Wajah-wajah paling mengesankan
Keluguan yang di manfaatkan

“Kami bisa makan
Perut kami tidak akan lapar
Di sana peliharaan tau segalanya
Basi dan layak atau beracun dan bergizi”

Katakan!
Gemintang telah pulang
Senyum menjadi rembulan
Rokok menjadi hidangan

Lampu menjadi teman
Aspal menjadi taman
Jalanan menjadi pendidikan
Anak-anak adalah dewa

Diam!
Suara luka menggelegar
Diam!
Pemberontakan menjadi kisah dalam karya

Jabatan kau gunjing
Kami kau junjung
Kekuasaan kau anak tirikan
Kami kau anak emaskan

Desandra
Lukisanmu tentang alam
Karyamu lewat jeritan
Aksara yang tak pernah diam

Bondowoso,15 Agustus 2019

 

 

 

 

Penulis: Yeni Amilia lahir tanggal 02 juli 2001. Penyuka biru dengan hobby membaca dan menulis. Mahasiswi Universitas Bondowoso (Unibo). Karyanya pernah lolos sebuku dengan eyang Sapardi Djoko Damono di sebuku.net (2019). Karyanya juga lolos sebuku bersama Nissa Sabyan tahun 2019. Motto: jadilah orang berbeda dari kebanyakan orang selama itu dalam kebaikan.

Loading...

Terpopuler