Desa Obat Jakarta, Bukan Meikarta

NUSANTARANEWS.CO – Tak ada yang lebih melelahkan dan membosankan selain tinggal atau beraktivitas di Jakarta. Jalanan macet, udara pengap penuh polusi miskin oksigen, kriminalitas mengancam belum lagi banjir tahunan.

Jakarta kota metropolitan megah penuh bangunan beton indah menjulang tinggi, jalanan dihiasi mobil-mobil mewah lalu kenapa berkesan tidak nyaman, tidak aman dan tidak ramah lingkungan?

Manusia berjubel di Jakarta bagai musafir berkelana di padang pasir, panas, haus rasa kemanusiaan dan lapar toleransi. Jakarta hanya menyisakan jiwa kering kerontang setelah bekerja bersimbah peluh.

Meikarta kota impian yang masih dalam mimpi hadir disamping Jakarta, menawarkan mimpi oase indah di tengah kepenatan dan kepengapan kota Jakarta.

Disebut sebagai kota mandiri. Meikarta akan dilengkapi berbagai bangunan infrastruktur dengan teknologi canggih seperti hotel, apartemen, bandara international, jalan tol, light rapid transportation, shopping mall, fast train menuju bandung dll.

Baca:
Globalisasi Gelombang III, Desa Sebagai Epicentrum Peradaban
Seperti Laron, Orang-Orang Berbondong Menuju Kota Raksasa Meikarta
Mimpi Meikarta dan Iklan Pembangkit Hasrat Memiliki
Menteri PUPR Tegur Pengembang Meikarta?

Meikarta didesain bagai surga dunia karena semua kemudahan kenyamanan dan keindahan yang diidamkan manusia Jakarta hadir di surga Meikarta. Sebuah antonim yang sempurna dari bumi Jakarta yang sumpek seperti neraka.

Meikarta, lupa satu hal bahwa manusia itu bukan hanya makhluk materi tapi juga berjiwa. Semua infrastruktur canggih Meikarta bisa saja memanjakan manusia dari segi materi, namun belum tentu mampu mengisi jiwa manusia yang kosong hampa dari sentuhan kemanusiaan.

Apa yang Bisa Diharapkan Dari Meikarta?

Di Meikarta semua mungkin tampak indah dan lancar. Keinginan dan kebutuhan ego manusia bakal dilayani secara mekanis dan digital. Interaksi antarmanusia semakin minimalis. Semua tampak sibuk, tapi tak saling kenal. Komunikasi keluarga cukup via HP.

Baca Juga:  Kretek Nusantara, Transformasi Musik Melayu, Hingga Panggung Sandiwara Meikarta

Tanpa interaksi batin, sesama anggota keluarga saling terasing. Oase Meikarta makin lama mengering seperti Jakarta. Lalu apakah akan terus dibangun Meikarta-Meikarta lain?

Kota seperti Meikarta bukanlah obat penyembuh bagi Jakarta. Begitupun kota-kota metropolitan lain yang tengah sakit parah bukan fisik, melainkan rohaninya.

Manusia metropolitan semestinya diterapi batinnya untuk belajar mengenali kembali sisi kemanusiannya. Sisi kemanusiaan yang tergerus budaya materialisme. Yang hanya mengutamakan hasil dengan menggunakan segala macam cara.

Sementara, budaya ‘proses’ yang penuh dengan nilai luhur manusia yang jujur, saling peduli, menghargai dan menyayangi sesama banyak diabaikan. Sebaliknya, didominasi budaya instan. Ingin hidup enak dengan cara mudah dan cepat yang hanya melahirkan keserakahan ego. Tak lebih berharga dari seekor binatang.

Krisis Kemanusiaan

Hal yang tengah kita hadapi saat ini bukan krisis materi, melainkan krisis kemanusiaan. Di Jakarta, semua kemewahan materi sudah tersedia. Tak perlu ada kemacetan dan krimininalitas, jika para manusianya sudah benar-benar menjadi manusia yang tidak egois, bisa saling menghargai dan peduli satu sama lain.

Dimana yang kaya tidak semakin kaya dan yang miskin tidak makin kere. Sebab, sudah ada rasa kemanusiaan untuk saling berbagi dan menolong.

Suasana harmoni penuh kemanusiaan seperti itu hanya bisa kita jumpai di desa-desa pelesok yang jauh dari peradaban modern. Suasana desa yang beradab. Itulah peradaban asli manusia. Manusia kota metropolitan back to nature. Belajarlah menjadi manusia kembali di desa.

Penulis: Duniafana
Editor: Romandhon