Connect with us

Politik

Denny JA Disebut Tengah Sibuk Produksi Meme untuk Hancurkan Citra Prabowo-Sandi

Published

on

Capres-Cawapres 02 Prabowo-Sandi menjelang Depat Perdana. (FOTO: Istimewa)

Capres-Cawapres 02 Prabowo-Sandi menjelang Depat Perdana. (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur Sabang Merauke Ciecle (SMC) Syahganda Nainggolan mengatakan Denny JA saat ini tengah sibuk memproduksi meme yang berusaha menghancurkan citra Prabowo-Sandi menjelang dihelatnya Pilpres 2019. Di waktu yang sama, Denny JA juga sibuk memuji-muji citra dan keberhasilan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan membuat produk serupa.

“Bapak suvei kita, Denny JA hari demi hari memproduksi meme yang berusaha menghancurkan image Prabowo-Sandi (02) dan memuji-muji image dan keberhasilan Jokowi-Ma’ruf Amin (01),” kata Syahganda dikutip dari catatannya, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

“Pada saat Puskaptis mengumunkan hasil survei pilpres kemarin, dengan selisih elektabilitas 4% Jokowi unggul, Denny JA masih kosentrasi di meme. Sebaliknya elit tim kubu Jokowi antara lain Karding dan Ace Hasan, menuduh hasil Puskaptis tidak dapat dipercaya. Kenapa, karena pada tahun 2014 Puskaptis gagal menunjukkan hasil survei dan quick count yang memenangkan Jokowi,” sambung dia.

Baca juga: LSI Denny JA Klaim Prabowo Tak Konsisten Perjuangkan Pancasila

Baca juga: Sudutkan PAN di Survei dan Meme, Denny JA Disebut Penjilat Penguasa

Baca juga: Pengamat: Hasil Survei LSI Denny JA Soal Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tak Masuk Akal alias Palsu

Baca juga: Hasil Survei LSI Denny JA Sangat Mungkin Diisi Penulis Survei Sendiri!

Baca juga: Analisa Sumir Denny JA Soal Prabowo, Amien Rais dan PAN Dinilai Ngawur

Meme didefinisikan sebagai suatu ungkapan emosi (senang, sedih, marah), bisa juga suatu maksud yang diungkapkan berbentuk tulisan. Saat ini, meme di sertakan pada media visual misalnya gambar yang dianggap mewakili perasaan dan maksud tersebut.

Merujuk Wikipedia, meme merupakan neologisme yang dikembangkan dan dipopulerkan oleh Richard Drawkins. Inti dari meme adalah menyebarkan suatu gagasan budaya, berarti jika budaya sekarang yang sedang berkembang adalah internet, sarana di mana orang melakukan komunikasi. Interaksi umumnya menggunakan tulisan dan gambar juga video.

Terlepas dari itu, Syahganda menegaskan hasil survei tidak mungkin penilaiannya diserahkan pada statemen seorang politisi. Termasuk penilaian Abdul Kadir Karding dan Ace Hasan terkait hasil survei Puskaptis.

“Ketika Pew Reasearch misalnya, salah satu lembaga survei terbesar di Amerika, gagal memprediksi kemenangan Hillary Clinton, direktur dan direktur riset serta dua orang senior metodologies melakukan pernyataan ke publik; meminta maaf; menjelaskan kemungkinan kesalahan metodologi dalam survei; serta membentuk kolaborasi besar antar lembaga riset/survei plus para ahli dari berbagai perguruan tinggi memeriksa kesalahan prediksi ini.

“Politisi di sana tidak berani menilai,” tegasnya.

Menurutnya, Denny JA tampak seolah-olah menjadi seorang ahli metodologis. Padahal, Pew Research membutuhkan waktu setengah tahun dengan melibatkan berbagai doktor ahli metodologis memeriksa kesalahan mereka.

“Pada saat Denny dkk gagal memprediksi kemenangan Ahok di Jakarta, yang dipaparkan bulan demi bulan selama setahun, dan gagal total memprediksi variasi perolehan suara di pilkada Jabar dan Jateng 2018, Denny JA malah mulai sibuk main meme tanpa tanggung jawab seperti Pew Research, Gallup dan lain-lain. Dan Ace Hasan dan Karding, tidak meributkannya, karena lembaga survei Denny JA dkk adalah lembaga pendukungnya, penduduk Jokowi,” urai Syahganda.

Denny malah menjadi seolah-olah ahli metodologis, menjelaskan ke publik bahwa kesalahan prediksi suara sebesar 20% untuk kandidat Sudrajat-Syeikhu serta di Jateng adalah karena perubahan sikap pemilih menjelang pilkada,” sambung dia.

Syahganda menambahkan, tentu Denny JA nekat sendirian menjawab kesalahan presdiksinya karena rakyat pembaca kebanyakan tidak mengerti survei-survei dan kebenarannya. Sebaliknya, kalangan perguruan tinggi tutup mata.

“Kalau di Amerika, Inggris, atau negara-negara maju, berbagai ahli atau dosen sibuk ikut memberi opini soal kemungkinan kesalahan survei. Apa yang dijelaskan Denny seolah-olah sah sebagai sebuah jawaban,” kata doktor ilmu sosial ini.

Dia mempertanyakan pemahaman Denny JA dan rekan-rekannya tentang kesalahan metodologis dalam survei kuantitatif.

“Sebagai doktor ilmu sosial dengan disertasi menggunakan metodologi kuantitatif dan via survei, saya mengetahui kesulitan anak-anak ITB, misalnya, masuk ke dunia survei opini. Karena ilmu statistik terapan di ITB hanya dealing dengan exact number. Misalnya, ketika anak Geodesi melakukan pengukuran titik-titik ketinggian bumi, meskipun datanya bisa ribuan atau jutaan data, data-data itu adalah eksak. Sedangkan survei sosial atau opini, membutuhkan pengetahuan dalam soal konsep sosial,” terangnya.

(eda/bya)

Editor: Almeiji Santoso

Terpopuler