Connect with us

Mancanegara

Demonstrasi Anti Pemerintah Terus Berlanjut di Hongkong

Published

on

Demontrasi Anti Pemerintah Terus Berlanjut di Hongkong

Demonstrasi Anti Pemerintah Terus Berlanjut di Hongkong/Foto: CTV News

NUSANTARANEWS.CODemonstrasi anti pemerintah terus berlanjut di Hongkong. Para pengunjuk rasa prodemokrasi terus melanjutkan protesnya di pusat bisnis Hongkong pada Selasa (12/11) dan menduduki beberapa bagian distrik. Ribuan orang berkumpul di distrik tersebut pada siang hari dengan meneriakkan slogan-slogan yang menuntut demokrasi yang lebih luas. Para pengunjuk rasa menghentikan lalu lintas dengan menghancurkan lampu lalu lintas dan menggunakan batu bata untuk menutup jalan.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengisyaratkan bahwa pemerintah akan meminta polisi untuk semakin menindak keras para pengunjuk rasa. Sementara itu, Institut Penelitian Opini Publik Hong Kong mengatakan bahwa tingkat dukungan terhadap Carrie Lam terkini berada di level 11 persen. Ini merupakan angka terendah yang pernah dimiliki negara tersebut sejak Inggris mengembalikannya kepada pemerintahan Cina pada 1997.

Ketegangan terus berlanjut di Hong Kong setelah para pengunjuk rasa yang terdiri dari mahasiswa memblokade lalu lintas dan menduduki sebuah universitas. Para pengunjuk rasa semakin marah setelah seorang petugas polisi menembak dan mengakibatkan seorang mahasiswa mengalami luka serius pada hari Senin (11/11). Akibat penembakan tersebut, mahasiswa pada Selasa malam melanjutkan aksi memblokade jalan-jalan di kawasan sibuk Hongkong.

Beberapa pengunjuk rasa bahkan membakar kendaraan-kendaraan milik polisi dan kereta bawah tanah yang tidak beroperasi.

Pada Rabu pagi, para pengunjuk rasa antipemerintah turun ke jalan-jalan membentuk barikade dan menutup jalan dengan batu bata untuk menghambat lalu lintas. Sejumlah layanan kereta juga terganggu. Sementara itu, sekolah dan universitas meliburkan kelas-kelas sebagai langkah pencegahan.

Unjuk rasa Hongkong memasuki tahap baru setelah pada pada Senin (11/11) polisi menembak seorang pria berusia 21 tahun. Insiden tersebut telah memicu bentrokan di berbagai penjuru kota.

Baca Juga:  AS Siap Hadang Ancaman Cyber Warfare Rusia dan Cina

Kerusuhan massal tersebut telah melumpuhkan aktifitas kota pulau itu selama lebih dari lima bulan. Pengunjuk rasa terus menyerukan reformasi demokrasi, namun Kepala Eksekutif Carrie Lam mengatakan kekerasan tidak akan membantu dalam mencapai tujuan tersebut. (Banyu)

Loading...

Terpopuler