Connect with us

Puisi

Delapan Esai: Percakapan tentang Puisi – Puisi Tjahjono Widarmanto

Published

on

DELAPAN ESAI:  PERCAKAPAN TENTANG PUISI
*) mengenang Seamus Heaney

1/
tempayan selalu menyediakan perutnya menampung segala air
demikian pun puisi menyediakan baris dan baitnya menampung
air mata luka dan duka kehidupan yang tak sekedar jasmaniah
menampung segala ketegangan dan kejemuan antara yang kuno dan baru

2/
setiap kali puisi disabdakan ia akan menetes bagai air
kadang lembut dan hening melampaui isyarat meditasi
menanggalkan dahaga dan menyiram mekar bunga
kadang pula bagai badai yang gelisah menampar pantai
mengguncang benda-benda menghempaskan teka-teki

3/
setiap suara adalah ruh puisi
segala riuh dan bisik-bisik
juga decitan dan dengungan
adalah sinyal yang terpancar dari puisi
bunyi-bunyi yang mengisyaratkan menyenangkan dan tak menyenangkan

4/
acap kali ditulis puisi akan merambat di udara
berjalan dalam keleluasan perjalanan yang di setiap titik istirahnya
seseorang bisa berkaca kemudian memilih menjadi batu atau air

5/
bahasa butuh perahu untuk merantaukan makna,
puisilah, perahu yang berlayar itu
di antara perasaan gaib dan olah pikir penggoda yang sederhana
sama nilainya dengan: pesona yang takjub dan kemalangan yang meringis

6/
kesahajaan yang cerdas, kerumitan berpikir, dan pertanyaan tentang moral
adalah rayuan puisi memancing segenap lompatan penolakan-penolakan
atau justru pengukuhan-pengukuhan yang terang sekaligus samar
selalu menjadi putaran siklus-siklus tanpa tepi tanpa silam

7/
sebuah puisi selalu dua wajah kebenaran dan kepalsuan
mengungkap kebenaran sekaligus mempertanyakan habis-habisan
tak selalu meyakinkan namun tiba-tiba memungkiri bahkan mengutuknya
kadang dengan menawan dan menyenangkan lantas mengejutkan kengerian
menolak keseragaman berpikir sekaligus menyesali kebodohan dan kepatuhan

8/
puisi adalah hadiah terindah bagi dunia
sebab mengatakan apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya terjadi
namun dunia selalu harus dikasihani
sebab ketakpeduliannya pada puisi.

Baca Juga:  Surat Kabar Pagi, Menanti Datangmu

(ngawi)

Baca : Aku, Sedadu Menunggu Giliran, Di Hadapan Maut – Puisi Tjahjono Widarmanto*

SAJAK PARA PENYAIR

sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari
: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda
meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan
yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya

sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igauan dan mimpi perawan tua
merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,
suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk
bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus
meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng

sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan
yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam
untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata

sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda
yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,
gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,
segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan
yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi
pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis

sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh
melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib

kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala
makna yang dicatat zaman!

(Ngawi, kedungdani)

Baca juga : Erotisme Seksual Dalam Teks-Teks Kuno – Artikel Tjahjono Widarmanto*

Tjahjono Widarmanto

Tjahjono Widarmanto

*Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan saat ini melanjutkan studi di program doctoral di Pascasarjana Unesa. Bukunya yang  telah terbit antara lain Mata Air di Karang Rindu (buku puisi, 2013), Masa Depan Sastra: Mozaik telaah dan Pengajaran Sastra (2013), Nasionalisme Sastra (bunga rampai esai, 2011),   Drama: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), Umayi (buku puisi, 2012), Kidung Buat Tanah Tercinta (buku puisi, 2011), Mata Ibu (buku puisi, 2011), Di Pusat Pusaran Angin (buku puisi, 1997), Kubur Penyair (buku puisi: 2002), Kitab Kelahiran (buku puisi, 2003). Penulis pernah menerima Anugerah Penghargaan Seniman dan Budayawan dari Pemprov Jatim (2003), beberapa kali memenangkan sayembara menulis tk. Nasional dan suntuk menghadiri berbagai pertemuan sastra ditingkat nasional dan internasional. Penulis kini menjadi Pembantu Ketua I, Dosen di STKIP PGRI Ngawi dan guru SMA 2 Ngawi. Beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. E-Mail:  [email protected]

Baca Juga:  Baju Kematian Ibu

__________________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

 

Loading...

Terpopuler