Connect with us

Gaya Hidup

Daya Saing Busana Muslim Indonesia di Era Modern Diperhitungkan

Published

on

Ilustrasi: Model memperagakan busana muslim karya desainer Itang Yunasz, pada kegiatan "Minangkabau Fashion Festival", di Hotel Bumiminang, Padang, Sumatera Barat, Senin (23/5). Peragaan busana muslim tersebut menunjukkan sejumlah karya desainer ternama di Indonesia tergabung dalam Komunitas Desainer Etnik Indonesia. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra via arah)

Ilustrasi: Model memperagakan busana muslim karya desainer Itang Yunasz, pada kegiatan “Minangkabau Fashion Festival”, di Hotel Bumiminang, Padang, Sumatera Barat, Senin (23/5). Peragaan busana muslim tersebut menunjukkan sejumlah karya desainer ternama di Indonesia tergabung dalam Komunitas Desainer Etnik Indonesia. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra via arah)

NUSANTARANEWS.CO – Dunia Fashion modern terus berkembang dengan inovasi sesuai dengan life style metakhir. Perancang atau desainer busana muslim, khususnya untuk kaum wanita pun ikut berkembang.

Tanpa harus mengesampingkan kaidah dan nilai-nilai keislaman, rancangan busana muslim/muslimah tidak ketinggalan zaman. Ia terus berinovasi mengikuti gaya hidup manusia modern. Apalagi jika memasuki bulan Ramadan, dimana kaum muslimin akan merayakan bulan suci Ramadan dengan mengenakan busana-busana yang sesuai trend.

Sebab itu, beragam model busana muslim di Indonesia terus diinovasi dan dipamerankan. Hal itu dapat mempermudah wanita muslimah untuk mencari busana yang mereka suka sesuai perkembangan life style masa kini. Di mana busana muslim sudah menjadi lebih sytlish, trendy, dan lebih edgy.

Maraknya model-model busana muslim terbari demi mengejar perkembangan trend busana modern, sebagian desainer ada yang lalai terhadap kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Hal ini menjadi perhatian bagi salah satu icon desainer busana muslim Indonesia Itang Yunasz.

Bagi Itang Yunasz yang awalnya terinspirasi dari sang ibu dalam dunia desain busana, menekankan para desainer busana muslim untuk tidak keluar dari kaidah ke-Islaman. Artinya tidak asal memadumadankan busana demi mendapat hasil yang sesuai trend mutakhir. Begitulah komentar Itang Yunasz dalam acara Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2016 di Senayan, Jakarta, Jumat (27/5/2016) lalu.

Dalam pagelaran MUFFEST 2016 tersebut, Itang Yunasz memamerkan 30 macam busana ready to wear yang kesemuanya terinspirasi dari saung galing karya budayawan Solo bernama Go Tik Swan.

Baca Juga:  Perancang Busana Muslim Sukses Tampilkan Hijab di New York Fashion Week

“Saung galing terus diangkat oleh pembatik hingga ke pesisir yang diangkat oleh pembatik Pekalongan, hingga telah memberikan inspirasi untuk saya,” ujarnya.

Pasalnya, saung galing yang mengandung perpaduan ayam dan burung phoenix ini memiliki arti sebuah kemenangan dalam kehidupan. Uniknya, saung galing dicipta atas perintah Bung Karno pada Go Tik Swan untuk membuat batik yang membedakan Solo dari Yogyakarta. Kali ini, Itang Yunasz memarmenkan koleksinya dengan dua kategori yakni sepuluh di antaranya bewarna indigo blue dan 20 lainnya bewarna soga yang menjadi warna dasar batik tersebut.

Koleksi busana yang bertema “ready to ware” tersebut dicetak di atas digital printing, sehingga menghasilkan pola dan motif yang beragam dengan kualitas yang baik. Adapun koleksi yang dimpilkan berupa jaket, blouse, tunik, pallazo, legging, celana pipa, cape, dan kaftan yang dibanderol mulai dari harga Rp. 1.000.000,00 hingga Rp. 3.000.000,00. Harga yang cukup mahal tersbeut dibuat dari beberapa bahan seperti silk, katun, dan twill.

Sebagai informasi, issue yang terdengar belakangan ini, tahun 2020 mendatang, Indonesia disebut-sebut akan menjadi pusat busana muslim di dunia. Hal ini merujuk pada beberapa perancang busana muslim dari luar negeri yang terinspirasi oleh perancang busana dari tanah air. Terkait hal ini, Itang Yunasz masih ragu antara pesimis dan optimis hal tersebut akan terjadi.

“Antara pesimis dan optimis, kalau dibilang 2020 kita menjadi pusat fashion dunia muslim, agak pesimis. Saat ini kita juga menunggu pabrik-pabrik di daerah untuk bisa mendukung, bekerja sama, dan memberikan inspirasi kepada kita. Sehingga, kita dapat menjadi pembuat busana ready to wear, dan juga menjadi pusat atau kiblat busana muslim dunia,” terangnya penuh alasan yang kuat. (MRH/Sel)

Baca Juga:  Pameran "Mokume" Busana Ramadan Karya Restu Anggraini, Terinspirasi Budaya Jepang

Baca Juga

Pameran “Mokume” Busana Ramadan Karya Restu Anggraini, Terinspirasi Budaya Jepang

Seratus Tahun Model Jilbab/Hijab Dalam Satu Menit

Tren Busana Sederhana di Bulan Ramadan Tahun ini

Loading...

Terpopuler