Terbaru

Dari Banyuasin Hingga Kolaka Timur, Mulai Bali Hingga NTB, Padi Melimpah

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kementerian Pertanian menyatakan di sejumlah daerah di Indonesia tengah mengalami panen raya padi. Tak hanya penen, ketersediaan gabah di masing-masing daerah pun melimpah.

Dari Banyuasin Hingga Kolaka Timur Gabah Melimpah

Menurut data Kementan, sejak awal Januari 2018, panen padi di Banyuasin Sumatera Selatan tidak pernah hentinya dan terus meningkat luas panennya. Ini panen padi mencapai 780 ha, umumnya merupakan lahan sawah pasang surut. Sekitar 90 persen panen setiap harinya di Banyuadin berasal dari sawah pasang surut Air Salek dan Muara Telang.

“Sudah lebih satu minggu ini panen padi di atas 500 ha setiap hari dan terus meningkat setiap harinya. Hari-hari berikutnya luas panen semakin meningkat, dan diperkirakan berakhir di bulan Pebruari, ungkap Didik dari Dinas Pertanian Kab. Banyuasin,” bunyi rilis kementan, Kamis (18/1/2018)

Kepala BPTP Balitbangtan Kementan Sumsel Priatna Sasmita menerangkan, panen padi di bulan Januari ini disambut suka cita oleh petani karena harga gabah cukup bagus dibandingkan bulan Desember kemarin. Provitas yang dicapai 5-7 ton GKP per hektar, cukup tinggi untuk ukuran sawah pasang surut.

“Apalagi tidak ada serangan OPT yang serius terhadap tanaman padi. Ini merupakan berkah bagi petani yang melakukan percepatan tanam dan peningkatan luas tanam, sehingga bisa panen di bulan Januari ini,” terang Priatna, Rabu (17/1/2018).

Zainudin Arifin, Korlap Upsus kec. Air Salek mengatakan panen padi di Air Salek mencapai 300 ha dan makin meluas setiap harinya. “Combine harvester yang tersedia harus bisa dimobilisasi dan diorganisir dengan baik agar semua sawah yang siap panen terlayani semua,” tuturnya.

Baca Juga:  Gerindra Kabupaten Madiun Tancap Gas Jelang Pesta Demokrasi

Sehari sebelumnya, Selasa (16/1/2018) Kolaka Timur mengalami panen padi yang disaksikan langsung oleh Kepala BPTP Sultra, Kabid Tan. Pangan Distan Kolaka Timur, Babinsa, Peneliti, Penyuluh, dan Kelompok Tani.

Menurut penyuluh pertanian setempat, Muji, luas dengan varietas yang ditanam Inpari 30, Inpari 7, dan Ciherang. “Produktivitas yg dicapai 5,5 ton GKP per ha. Harga gabah Rp. 4.500 per kg, sedangkan beras medium Rp. 9.600 per kg. Dikatakan bahwa Inpari 7 walau agak pera, namun memiliki ketahanan terhadap penyakit blast,” tutur Muji.

Kabid Tanaman Pangan Kolaka Timur, Arjun Hamzah, menjelaskan bahwa panen di Tinondo diprediksi sampai bulan Februari 2018. Hal senada juga disampaikan Peneliti BPTP Sultra, Suharno, bahwa produksi di Tinondo masih dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietss Inpari 43. Padi varietas ini memiliki potensi hasil tinggi, rasa nasi pulen dan termasuk golongan padi amphibi.

Bali Panen Setiap Hari – Setok Beras Surplus di NTB

Kepala BPTP Balitbang Kementan Bali I Made Rai Yasa mengatakan subak selain mengatur penggunaan air irigasi, juga mengatur waktu tanam, penanggulangan hama sampai ke panennya.

“Panen padi setiap hari di Bali itu wajar saja, karena setiap hari ada subak yang melakukan penanaman padi, ada juga subak yang sedang panen” kapan waktunya menanam, setiap subak punya aturan tersendiri,” jelas I Made Rai.

Seperti yang dilaporkan hari ini 17 Januari 2018, oleh petugas pendamping upsus BPTP Balitbangtan Bali. Ada subak yang sedang memanen dan di Subak lainnya ada yang sedang menanam padi. Subak yang melakukan penanaman hari ini adalah Subak Yeh Tengah, Desa Klusa, Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar seluas 54 hektar.

Baca Juga:  Disorot Kinerja Tahun 2022, Gus Fawait Sebut Kadis OPD Pemprov Jatim Tak Bisa Imbangi Kinerja Gubernur Khofifah

Sedangkan subak yang sedang panen dilaporkan ada empat subak pada tiga Kabupaten. Panen seluas 40 ha, dari potensi lahan seluas 91 ha. Panen di empat subak yang dimaksud adalah; Kabupaten Badung dilaporkan hari ini di Subak Tegal, Desa Kerobokan Kaja, Kecamatan Kuta Utara. Dari potensi panen 20 ha, hari ini dipanen 17 ha, dengan produktivitas 7,8 ton/ha, padi Varietas Ciherang. Panen dihadiri oleh Ka. UPTD, PPL, Kelompok panen dan petani.

Kabupaten Tabanan dilaporkan ada dua subak yang sedang panen yaitu, Pertama di Subak Kelepud, Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur. Dari potensi panen seluas 37 ha dipanen seluas 10 ha dengan produktivitas 6,49 ton/ ha. Varietas yang dipanen adalah Ciherang. Panen dihadiri Kelompok panen dan PPL. Yang ke dua adalah Subak Pangkung Lengkuas, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur. Dari potensi panen 15 ha, hari ini dipanen 3 ha. Produktivitas 4.8 ton/ha. Varietas yang dipanen IR 64. Panen dihadiri oleh Kelompok panen dan PPL.

Kabupaten Gianyar ada satu subak yang panen hari ini adalah Subak Dangin Umah, Desa Batubulan Kangin Kecamatan Sukawati. Dari potensi panen 19 ha, hari ini dipanen seluas 18 ha dengan produktivitas 6,2 ton/ha. Varietas padi yang dipanen adalah Ciherang. Panen dihadiri oleh kelompok panen, Petani, dan PPL dan LO BPTP Balitbangtan Bali.

Baca Juga:  KIP Kota Lhokseumawe Rekrut Kader PDI-P Sebagai Ketua PPK, GRAM Akan Laporkan KIP dan Bawaslu Ke DKPP

Sedangnkan Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Timur (Lotim) disebut-sebut sebagai dua Kabupaten di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terus panen hingga kini. Beberapa Kecamatan di Lobar seperti Narmada, Labuapi, Lingsar, Gunungsari dan di Lotim seperti Sikur, Masbagik, Aekmal, Wanasaba memiliki potensi irigasi sepanjang tahun.

“Karena itu daerah-daerah tersebut memiliki indeks pertanaman 300 alias tanam tiga kali setahun. Karena itu tidak heran bila dua kabupaten tersebut bersaing dalam panen. Suatu persaingan positif mendukung swasembada pangan,” bunyi pernyataan tersebut, Lombok, Senin (15/1/2018) .

Sebagaimana dilaporkan, panen di Lobar telah dilaksanakan oleh Kelompok Tani Pade Girang, Dusun Karang Kates, Desa Mekar Sari, Kecamatan Narmada. Petani daerah ini sangat gembira karena dapat memperoleh produktivitas 7 ton/ha. Saat ini pun harga gabah kering panen Rp4600/kg. Kunci keberhasilan tersebut adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB) Inpari 32. Panen dilakukan pada areal 35 ha.

Karena itu, Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) menolak masuknya beras impor ke NTB. Penolakan dilakukan lantaran adanya beras impor dinilai akan merugikan petani.

“NTB kini sedang surplus beras dan akan lebih melimpah lagi, saat memasuki masa panen raya bulan maret mendatang. Melimpahnya beras ini bisa didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan beras daerah lain,” klaim Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin dalam berita video Antara, Kamis (18/1/2018). (sumber: Kementan)

Pewarta/Editor: Achmad S.

Related Posts

1 of 30