Connect with us

Budaya / Seni

Darah Lombok, Derita Mereka adalah Derita Kita

Published

on

Darah Lombok. (Foto: reuters)

Darah Lombok. (Foto: reuters)

Puisi Rahmat Akbar

DARAH LOMBOK

Ketika alam sedang marah tidak ada yang mampu menagkalnya
Lembaran-lembaran terbuka bersama
Aku hanya membayangkan tak lagi dapat kubaca
Tanah Lombok mengalirkan darah luka

Berbaringlah ditempat peristirahatan
Sebab di sini pernah tinggal kenangan
Antara luka, sedih dan bahagia
Walapunn sulit untuk kita bicarakan melalui mata

Darah Lombok adalah darah yang mengalir di tubuh kita
Getar tubuh kita, rasakan kesedihan sama
Seribu kali ingin kutanya kepada sang pemilik segala-Nya
Kenapa luka dikirimkan kepada saudara kami di sana

Belum lagi reda, gempa masih saja setia
Menemani tidur siang dan malam di tenda
Membuat anyaman luka berbalut derai air mata
Mereka adalah kesedihan kita, yang kita sampaikan melalui doa
Semoga mereka selalu tabah di sana

Kotabaru, September 2018

DERITA MEREKA ADALAH DERITA KITA

Derita mereka adalah derita kita
Ketika tanah menggetarkan seluruh isi kota
Kau datang secara tiba-tiba
Semua yang ada rata dengan tanah air mata

Mereka kehilangan harta, benda, sampai orang tercinta
Semua besedih atas kejadian yang ada
Ketika tanah menjadi murka
Ini bukan olah manusia tapi ini cobaan dariNya

Begitulah, gempa melanda
Tidak mengenal baik yang bertahta maupun kaya
Semua sama, semua sirna
Terjepit bersama puing-puing reruntuhan hampa

Kupandangi di layar televisi
puluhan nyawa memesan nisan dalam sehari
Mendengar jerit tanggis anak-anak negeri
Sungguh sangat menyayat hati

Ulurkanlah tangan kita
Ketika bencana gempa melanda
Tidak pandang suku, ras dan agama
Semua sama Bhineka Tunggal Ika

Oh, Tuhan pemilik alam semesta
Kutahu ini adalah peringatan untuk kami semua
Maka biarlah kami kirimkan al-fatihah untuk mereka
Tenanglah kalian di sana bersama guratan waktu yang pernah ada

Kotabaru, 24 Agustus 2018

MEWARISKAN LUKA

Dalam gigil waktu
Kau lukis alam dengan penuh pilu
Kau tulis peristiwa perihmu
Kau wariskan luka pada anak cucuku

Di belantara ini
Pernah kau tanak air mata
Tidak ada pembatas antara kota dan hutan
Kau sembunyikan luka di balik kabut waktu

Kau tanam luka
Di antara bangunan-bangunan beton
Batu-batu hanya menyaksikan, tanah hanya diam
Ke mana lari daun, ke mana akar menggengam
Maka di sini bau anyir dan darah pernah tinggal dalam ingatan

Di puncak perih
Luka semesta terus ditulis para perambah
Membuat alam semakin gamang
Tidakada lagi udara, mampu dihisap bebas
Karena ditelan oleh api keserakahan

Di pusaran waktu musim datang silih berganti
Dan tempat tenang dihuni
Meninggalkan luka abadi

Kotabaru, Agustus 2018

Rahmat Akbar, kelahiran Kotabaru 04 Juli 1993 tepatnya di Kalimantan Selatan. Alamat tinggal Jalan Hasanuddin Rt. 06 Kelurahan Kotabaru Hilir. Puisinya (menggisi media Tribun Bali, Media Kalimantan, Koran Merapi), puisinya “Hitammu Di Tanahku” antologi puisi ASKS Ke 13 KALSEL 2016, puisinya di antologi “ Gemuruh1001 Kuda Padang Sabana, antologi puisi “ Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku, antologi puisi “Tadarus Puisi Kalsel 2017”, antologi puisi ASKS ke 14 KALSEL 2017, antologi puisi “Puputan Melawan Korupsi” Bali, antologi puisi “Hutan Hujan Tropis”, antologi puisi “Indonesia Lucu Jilid VI 2018, dll. Sekarang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan aktiv tergabung di komunitas Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Akbar bisa disapa melalui email [email protected], fb: Kai.akbar

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Terpopuler