Connect with us

Khazanah

Danarto dan 12 Sketsa dalam Kenangan Teaterawan Jose Rizal Manua

Published

on

Kenangan Teaterawan Jose Rizal Manua tentang Mas Danarto. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Dok. JRM)

NUSANTARANEWS.CO – Kesadaran untuk membuat pertunjukan yang dimengerti dan dipahami semua orang muncul ketika Teater Tanah Air mendapat undangan untuk mengikuti “The Asia Pacific Festival of Children’s Theatre” di Toyama, Jepang, tahun 2004. Ini disebabkan karena pementasan yang digarap akan ditonton oleh anak-anak dari berbagai penjuru dunia, yang budaya dan bahasanya berbeda satu sama lain.

Setelah mendapat kepastian dari Pusat Kebudayaan Jepang (The Japan Foundation), di Jakarta, pada Awal Januari 2004, Teater Tanah Air yang saya pimpin segera mempersiapkan diri. Yang mula-mula yang saya lakukan adalah mencari naskah yang baik. Karena saya berkeyakinan, bahwa pertunjukkan yang istimewa harus di awali dengan naskah yang baik. Setelah dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk meminta naskah dari mas Danarto.

Baca:

Mas Danarto adalah seorang penulis (naskah, novel, cerpen, puisi) yang menurut saya karya-karyanya sangat unik dan istimewa. Saya pun menghubungi mas Danarto, menceritakan bahwa Teater Tanah Air diundang untuk mengikuti “The Asia Pacific Festival of Children’s Theatre” di Toyama, Jepang. Dan saya katakan, bahwa naskah yang akan dipentaskan adalah karya mas Danarto. Mas Danarto menyambut baik keinginan saya dan berjanji akan menuliskan naskahnya.

Keesokan harinya, mas Danarto mengatakan, bahwa untuk menulis naskah ia memerlukan tempat yang tenang dan sejuk. Saya pun kemudian menghubungi Hardiman (Penata Artistik Teater Tanah Air), menceritakan tentang keinginan mas Danarto. Hardiman mengatakan, bahwa dia mempunya saudara yang memiliki villa di puncak. Dua hari kemudian, kami bertiga berangkat ke puncak. Menginap 2 hari di sebuah villa yang sejuk dan asri.

Baca Juga:  Kegiatan Pembinaan ASN di Sragen Disusupi Kampanye Capres-Cawapres Nomor Urut 01

Hari pertama, mas Danarto banyak tidur dan makan. Begitu pun pada hari ke dua. Sampai kami pulang, mas Danarto belum juga menulis. Saya dan Hardiman enggan untuk bertanya. Beberapa hari setelah itu, mas Danarto datang ke Taman Ismail Marzuki, ke tempat di mana kami biasa latihan. Mas Danarto mengajak ngopi di warung. Saya menemaninya bersama Hardiman. Sambil ngopi mas Danarno mulai membuat beberapa sketsa. Setelah selesai ngopi, mas Danarto menyerahkan sketsa-sketsa itu kepada saya. “Ini naskahnya!” katanya.

Saya hitung ada 11 sketsa; sketsa ke-1 bergambar bumi dan di bawahnya ada tulisan “Bumi (bernafas)”. Sketsa- 2, bergambar sayuran dan buah-buahan, bertuliskan “Hasil yang melimpah karena kelestarian lingkungan terjaga”. Sketsa- 3, bergambar seseorang yang berpakaian rumbai-rumbai warna-warni, bertuliskan “Langit pelindung bumi (selalu bergerak)”. Sketsa ke- 4, bergambar dua orang anak dengan boneka gendong sedang main kembang api, bertuliskan “Siskamling (Boneka gendong untuk setiap pemain. Tongkat pijar untuk setiap pemain (kembang api) + kacamata warna + topi hias) warna mencolok. Sketsa ke- 5, bergambar anak-anak berlari ketakutan dikejar dinosaurus, bertuliskan “Bencana alam”. Sketsa ke- 6, bergambar anak-anak yang main kuda lumping. Sketsa ke- 7, bergambar anak-anak bergambar anak-anak bermain musik calung. Sketsa ke- 8, bergambar dua buah jubah hitam yang bertuliskan “Perusak lingkungan (para pemain menggunakan egrang bermantel”. Sketsa ke- 9, bergambar dua ekor komodo saling mengancam, bertuliskan “Bencana alam (komodo dimainkan seluruh anak”. Sketsa ke- 10, bergambar orang-orang bertopeng, bertuliskan “Kegembiraan anak-anak (para pemain memainkan topeng). Sketsa ke- 11, bergambar pohon beringin di mana semua anak bermain di bawahnya, bertuliskan “Pesta kelestarian alam (adegan akhir: pohon beringin, egrang, kembang api, topeng-topeng, bendera-bendera, binatang-binatang”.

Baca Juga:  Jargon Optimisme Jokowi Disebut Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Setelah mempelajari sketsa-sketsa tersebut, saya tanyakan kepada mas Danarto. “Dialognya mana, mas?”. “Tidak ada!” kata mas Danarto. “Terus urutannya bagaimana?” Tanya saya selanjutnya. “Ya, terserah!” jawabnya. Menerima naskah yang unik ini, yang hanya berupa 11 gambar, mula-mula saya agak bingung juga. Naskah saya terima. Untuk beberapa hari saya mencoba merangkai-rangkai urutannya.

Menggarap naskah yang tanpa dialog merupakan pengalaman pertama bagi saya. Untuk mewujudkannya menjadi sebuah pementasan saya mengajak teman penata tari, Jecko Siompo Kurniawan dan Lusy. Musik saya percayakan kepada Idrus Madani dan Tata Artistik saya percayakan kepada Hardiman radjab. (2004)

Penulis: Jose Rizal Manua,

Loading...

Terpopuler