Dana Riset Rendah Picu Pengembangan Energi Baru Terbarukan Nasional Lamban

Energi Baru Terbarukan (Ilustrasi)
Energi Baru Terbarukan (Ilustrasi)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menghadapi era globalisasi gelombang ketiga, sejumlah negara negara maju terus mengembangkan cadangan energi masa depannya dengan melirik sektor energi baru terbarukan (EBT). Pertanyaannya, bagaimana dengan nasib pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia?

Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network) Mahawan Karuniasa kepada kantor berita online nasional Nusantaranews.co beberapa waktu lalu menjelaskan, salah satu pemicu mengapa pengembangan EBT nasional lamban, karena dana riset dari pemerintah sangat rendah.

“Kita itu dana riset sangat rendah. Sangat sangat rendah. Sehingga upaya itu (pengembangan EBT) akan terhambat oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki,” kata Mahawan Karuniasa di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (10/10/2018).

Baca Juga:
Indonesia Harus Bergegas Garap Energi Baru Terbarukan
Produksi Energi Baru Terbarukan Semakin Murah

Oleh karena itu, lanjut dia, dalam konteks teknologi untuk energi bersih di dalam negeri saat ini menurut Mahawan satu satunya adalah bagaimana membangun partnership dalam konteks pencapaian embisi untuk perubahan iklim.

“Dengan bersyarat yaitu bermitra dengan negara lain. Itu menjadi peluang bagi Indonesia,” terangnya.

Dirinya juga menjelaskan, saat ini sudah 51 persen untuk sektor energi nasional diperoleh dari impor. Mahawan menegaskan cepat atau lambat Indonesia akan kesulitan dalam mencukupi kebutuhan energi masa depannya jika tidak segera disiapkan sejak dini.

“Kalau kita melihat, sektor energi kita, kita sudah 51 persen impor. Cepat atau lambat kita akan kesulitan. Otomatis kita harus bagaimana mengembangkan energi hijau yang berbasis dengan kemampuan sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:
Trump Bentengi AS Dengan Membidik Sektor Energi Baru Terbarukan
Dinasti Rockefeller Siap Berinvestasi Ke Energi Terbarukan

Baca Juga:  Pimpin Apel Pemberangkatan Distribusi Bansos 51 Ton Beras, Kapolres Tuban: Harus Tepat Sasaran

“Ternyata kita kurang mampu dengan anggaran segitu,” sambungnya.

Untuk itu, jika nantinya ada kesepakatan kemitraan dengan pihak lain untuk pengembangan EBT, ia menyarankan harus bersifat berkelanjutan.

“Nanti harus melalui sustuinable finance, claimet finance itu alirannya nanti tidak hanya mengarah ke line base area saja tapi juga ke teknologi,” tandasnya.

Editor: Romadhon