AS dan Israel Telah Sepakat Bentuk Tim Gabungan untuk Menyerang Iran

NUSANTARANEWS.CO – Amerika Serikat dan Israel telah menyusun rencana untuk melawan Iran yang selalu dianggap sebagai ancaman kedua negara tersebut khususnya di kawasan Timur Tengah.

AS dan Isreal telah menyetujui sebuah kesepakatan untuk melawan Iran dari berbagai aspek. Menurut Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih (NSC), kedua negara menyetujui kerangka umum untuk kerja sama di masa mendatang mengenai kegiatan Iran yang semakin perkasa dalam pertahanannya.

Dilansir rt.com, Minggu (31/12), PM Israel Netanyahu dan Presiden AS Trump sepakat untuk membentuk tim gabungan untuk menangani ancaman Iran. Empat tim terpisah akan diciptakan untuk mengatasi ancaman ini. Satu tim akan ditugaskan untuk memantau aktivitas Iran di Suriah dan dukungan Teheran untuk organisasi teror Hizbullah.
Yang kedua akan mengawasi kegiatan diplomatik dan intelijen yang bertujuan untuk menghadapi ambisi senjata nuklir Iran.

Ketiga akan memantau program rudal balistik Iran dan upaya untuk membangun sistem rudal yang akurat di Suriah dan Lebanon. Sedangkan unit keempat akan memantau dasar untuk eskalasi oleh Iran dan Hizbullah.

BACA: Uni Eropa Mendesak Washington Menegakkan Kesepakatan Non-Proliferasi Nuklir Iran

AS dan Israel bahkan menuduh Iran berencana menyusun kekuatan penuh untuk melawan barat. Tuduhan AS dan Israel ini merupakan sebuah kampanye perang yang telah direncanakan selama ini terhadap Iran. Kedua negara imperialis ini tidak senang melihat kemajuan alutsista yang dikembangkan Teheran selama ini dan menganggapnya sebagai sebuah ancaman yang membahayakan.

Sebelumnya, AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran yang membuat Uni Eropa gerah. Uni Eropa mengkritik ancaman Amerika untuk menarik diri dari kesepakatan tersebut dengan mengingatkan Washington bahwa inisiatif P5 +1 bukanlah sebuah persetujuan bilateral.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memperingatkan pada bulan Oktober bahwa upaya untuk menegosiasikan ulang kesepakatan Iran akan membahayakan keamanan internasional, karena dapat mengubur kesepakatan penting ini di bidang stabilitas strategis dan non-proliferasi nuklir. (red)

Editor: Eriec Dieda