Connect with us

Puisi

Dalam Teduh Payung

Published

on

Gadis di tengah Hujan di muka lukisan Watter Dance," tanah yang sedang dilanda hujan - Karya anak autis usia 6 tahun, Iris Grace. (Foto: Ilustrasi SelArt/Nusantaranews)

Gadis di tengah Hujan di muka lukisan Watter Dance,” tanah yang sedang dilanda hujan – Karya anak autis usia 6 tahun, Iris Grace. (Foto: Ilustrasi SelArt/Nusantaranews)

Dalam Teduh Payung

Adakah dirimu akan menjelma ranting tertiup angin meritmis mengetuk jendela kamarku. Setelah jarak dan waktu menjelma pembatas paling luas untuk mengekalkan sepiku dan sepimu. Atau kau malah mendekam seprti bayi selalu mengucurkan rindu dalam mimpiku

Sungguh, kau serupa buah ranum di dahan tinggi, titik tatap kelelawar, tak henti kupanjat walau tangan dan kaki akan bersimbah darah, betapa kepalaku masih ragib memutar percakapan-percakapan kecil di bawah teduh payung saat hujan begitu kejam menghayutkan jarak pandang

Meski di sini kudapati bidadari turun dari kayangan yang aneh kembang-kembang tumbuh tiba-tiba mengaroma menarik kumbang-kumbang, masih hatiku bergemuruh rindu mengalir seperti air menuju matamu mengucur anggur membuatku mabuk berkali-kali. Ingin aku susuri lagi pinggulmu yang terjal yang meyembunyikan mayat-mayat senja

Kasih aku akan tetap tabah seperti batu untuk senantiasa menantimu

Loading...

2019

 

 

Catatan: Puisi berjudul Dalam Teduh Payung adalah karya Rizqi Mahbubillah, lahir di Pakandangan sangra, Bluto, Sumenep. Sekarang santri aktif PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Juga tercatat sebagai siswa kelas VIII MTs 1 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur. Puisinya pernah dimuat di Radar Madura, juga dalam antologi Puisi untuk Presiden (zenawa 2019). Bergiat di sanggar AIDS IKSAPUTRA , Aliansi Jurnalis Muda IKSAPUTRA (AJMI) dan KoPOG. Tinggal di Sumenep

Loading...

Terpopuler