Dahaga, Ilung, dan Ritual Jelaga

Ilung di telaga. (FOTO: Wikipedia)
Ilung di telaga. (FOTO: Wikipedia)

Puisi Nur Ahmad Fauzi FM

Ilung*

 

terkapung-kapung saja aku meniti sungai hayat,

melewati dermaga demi dermaga yang mengangkut

berkoper-koper doa dan harapan ke kapal-kapal

yang menyalami riak asa dan kegelisahan.

 

tampak jua orang-orang berperangai turis dan perantau

yang menyimpan peta persinggahan dan tujuan perjalanan

begitu tekun merituskan gerak matahari dan bayang-

bayang pada catatan perjalanan kemarau dan hujan.

 

dengan mimpi dan asa orang-orang pun beranjak ke seberang,

–merangkai kisah sepanjang riak, menyemai kenangan di kampung halaman

sedang dengan angin dan arus aku selalu terkapung bimbang,

–tak tahu ke mana ‘kan pergi, tak tahu ke mana ’kan pulang

 

Banjarmasin, 16 April 2016

*) Bahasa Banjarnya tanaman enceng gondok

 

Ritual Jelaga

 

kepak sayap kelelawar

menggempakan langit malam

hingga gemintang yang terpajang

berguguran ke basah rerumputan

pecah menjadi genang cahaya.

 

pada langit jelaga

angin melipat kehampaan

angin melipat-lipat perih rembulan

menjadi kabut-kabut memar.

 

lalu dari gua-gua pengap

berdatangan roh-roh yang dosa

merangkak-rangkak menuju genang cahaya

untuk bersuci membasuh dahaga

usai menghirup luka semesta.

 

tapi angin terlanjur nyeri mendekap kehampaan

dalam perih, ditetaskannya badai bergemuruh

hingga sayap kelelawar pun runtuh

merinaikan jelaga.

 

dan roh-roh yang telah terbasuh

tertimpa kembali kehitaman yang penuh.

 

Banjarmasin, 16, 22 Maret & 2 April 2016

 

Bunga Bisa

 

 

bunga di atas batu

menguncupkan luka

pada dekapan badai

dari hujan airmatamu

 

daunnya ranggas

satu-persatu

mencatat bara

dalam nafasmu

 

kini masihkah

kau endus wanginya

sedang angin senja

terlanjur menabur tuba?

 

bunga di atas batu

Baca Juga:  Pelarian 2 Tahun Buron Berakhir Sudah, Polrestabes Surabaya Tembak Mati Pelaku Pembunuhan

mengecap pahit duka

kau petik sebagai duri-duri kata

: menjerat kupu-kupu dengan bisa bahasa!

 

Banjarmasin, 20 Agustus 2016

 

Dahaga

 

dari ludahmu sebatang dahaga menegak

meranggaskan daun-daun api matahari

seketika bunga-bunga berparas kuning kemarau

lalu sehampar pasir ingin menjelma genangan air

 

Banjarmasin, 31 Agustus 2015

 

Lampu Neon

 

neon itu tak berkedip menatapmu yang tidur di

ranjang mimpi. ia hanya ingin menjagamu dari

kegelapan yang sewaktu-waktu datang dari luar

kamar ketika kau tidur, meski dalam tidur kau

tak pernah menjumpai cahayanya berpendar

menerangi kamarmu.

 

sungguh, ia hanya ingin menerangi kamarmu

bahkan ketika kau pun tak peduli jika gelap

datang menggedor-gedor pintu kamarmu

memaksa masuk ketika malam turun, ketika kau tidur.

 

sungguh!

Banjarmasin, 7 Oktober 2015

 

Kura-kura

 

kura-kura mengantuk usai melahap arloji

kura-kura tertidur dan hidup dalam mimpi

tak acuh pada bulan-matahari yang menyapa di atas batu

kura-kura adalah kau-aku yang melelapkan hati dalam tempurung waktu

 

Banjarmasin, 19 Februari 2016

Nur Ahmad Fauzi FM (nama pena dari Ahmad Fauzi), lahir di Banjarmasin, 28 Juni 1999. Saat ini tengah bersekolah di SMA Negeri 1 Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dapat dihubungi via facebook: Ahmad Fauzy Mwam Falilv.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]