Connect with us

Mancanegara

CSIS: 5 Negara Ini Bisa meluncurkan Rudal Dimanapun di Bumi

Published

on

Peluncuran Rudal Balistik Nuklir Hwasong 15/Foto cnn

Peluncuran Rudal Balistik Nuklir Hwasong 15/Foto cnn

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur asosiasi di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Ian Williams awal tahun lalu mengungkapkan bahwa negara-negara di dunia yang mampu mengirimkam rudal dimanapun di muka bumi hanya ada lima negara.

Peneliti sekaligus direktur asosiasi Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) ini berani mengatakan demikian setelah berhasil mengumpulkan data tentang program rudal di berbagai negara di seluruh dunia. “Kami yakin, saat ini kita memasuki renaisans rudal”, kata Ian Williams, dilansir dari New York Times.

Baca Juga:

kepada New York Times, Williams mengatakan. semakin banyak negara dengan kesiapan akses ke rudal meningkatkan ketegangan regional dan membuat perang lebih mungkin terjadi. Negara-negara, kata dia, lebih cenderung menggunakan rudal mereka jika dipikir mampu menjangkau sasaran.

CSIS Map 1. (FOTO: DOK. CSIS Missile Defense Project)

CSIS Map 1. (FOTO: DOK. CSIS Missile Defense Project)

Selain itu, lanjutnya, banyak rudal yang dikembangkan oleh mereka didasarkan pada teknologi usang, yang membuatnya kurang akurat dan meningkatkan risiko bagi warga sipil. “Dan ada risiko bahwa rudal bisa jatuh ke tangan milisi dan kelompok teroris,” ujarnya.

Loading...

Williams menambahkan, banyak negara telah berinvestasi besar-besaran pada misil selama dua dekade terakhir berada di titik-titik panas yang terkenal di Asia dan Timur Tengah. Rentang maksimumnya ditumpangkan pada peta-peta di bawah ini.

Maps include ranges of land- and submarine-launched missiles. (FOTO: DOK. CSIS Missile Defense Project)

Maps include ranges of land- and submarine-launched missiles. (FOTO: DOK. CSIS Missile Defense Project)

Negara-negara yang berinvestasi pada pengembangan misil sering mencoba untuk mencegah musuh-musuh regional. Tapi efek dari riak perlombaan senjata ini hingga ke seluruh dunia.

Baca Juga:  Menlu China Sebut Putusan PCA Ultimatum Perang

Korea Utara adalah contoh bahaya. Perkiraan jangkauan rudal maksimum negara itu mulai dari 745 mil (1.200 km) pada tahun 1990 hingga lebih dari 8.000 mil (12.800 km) sekarang. Dan itu cukup untuk menyerang sekitar separuh dunia, termasuk daratan Amerika Serikat.

CSIS Map 3. (FOTO: CSIS Missile Defense Project)

CSIS Map 3. (FOTO: CSIS Missile Defense Project)

Negara-negara seperti India, Iran, Israel, Korea Utara dan juga Pakistan memiliki program pengembangan rudal yang kuat. Dan kesamaan dari beberapa misil mereka (Iran, Pakistan dan Korea Utara) menunjukkan bahwa mereka telah berkolaborasi untuk berbagi teknologi.

Pakistan mulai berinvestasi lebih banyak dalam program rudal pada 1990-an dan diyakini juga berkolaborasi dengan China. Pada pertengahan 2000-an, Pakistan punya kemampuan untuk menyerang sebagian besar wilayah India, saingan regional utamanya.

CSIS Map 4. (FOTO: Dok. CSIS Missile Defense Project)

CSIS Map 4. (FOTO: Dok. CSIS Missile Defense Project)

India, juga mampu menyerang di mana saja di Pakistan dan sebagian besar China, saingan regional lainnya dalam dua dekade terakhir. India pun sekarang bekerjasama dengan Rusia untuk mengembangkan rudal jelajah BrahMos.

Arab Saudi dan Israel sendiri bahkan sudah mampu menyerang Iran sebelum tahun 1990. Tetapi sekarang Iran dapat menyerang balik di salah satu negara, sebagian berkat teknologi yang diperolehnya dari Korea Utara.

CSIS Map 5. (FOTO: DOk. CSIS Missile Defense Project)

CSIS Map 5. (FOTO: DOk. CSIS Missile Defense Project)

Selain itu, baik India dan Korea Utara bekerja pada rudal yang diluncurkan oleh kapal selam, yang akan memungkinkan kedua negara untuk lebih menyembunyikan rudal mereka untuk digunakan sebagai serangan balasan.

Bidang lain yang menjadi perhatian adalah bahwa saat ini kelompok milisi atau teroris yang mendapatkan akses ke rudal balistik tersebut.

6 CSIS Map 6. (FOTO: DOk. CSIS Missile Defense Project)

6 CSIS Map 6. (FOTO: DOk. CSIS Missile Defense Project)

Salah satu contoh nyata dari ini terjadi pada bulan November, ketika sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman mencapai ibu kota Arab Saudi. Rudal itu ditembakkan oleh pemberontak Houthi, milisi Syiah yang menguasai sebagian besar Yaman sejak 3 tahun lalu dan itu didukung oleh Iran dan Hizbullah, kelompok militan dari Libanon.

Baca Juga:  Inggris Sumbang 20 Pemain Regulernya dari 4 Klub Finalis Liga Champions dan Liga Eropa UEFA Musim 2018-2019

Liga Arab telah menuduh Houthi menembak puluhan rudal dan roket melawan Arab Saudi sejak kerajaan Saudi mulai menyerang untuk mengusir para pemberontak pada tahun 2015. Senjata yang digunakan terhadap Arab Saudi adalah varian dari rudal Scud. (RED/JG/RN)

Editor: M. Haya Suprabana

Loading...

Terpopuler